Tribunners
Naiknya Harga Cabai
Terpantau pada November 2023, harga cabai melonjak tinggi. Konsumen pun mengeluh.
Oleh: Pebriyanti, S.P. - Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pangan dan Pertanian Kota Pangkalpinang
HARGA cabai besar maupun mengalami kenaikan. Terpantau pada November 2023, harga cabai melonjak tinggi. Konsumen pun mengeluh.
Pantauan harga berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga cabai di Indonesia naik pada Oktober 2023, baik cabai rawit merah, cabai merah keriting, maupun cabai merah besar. Di Kota Pangkalpinang, harga cabai juga mengalami kenaikan. Pada minggu ketiga November ini, harga cabai kecil tembus di kisaran Rp120 ribu per kilogram. Harga cabai besar tembus Rp100 ribu per kilogram.
Melihat ke belakang, harga biasa atau normal cabai kecil Rp60 ribu per kilogram dan cabai besar di kisaran Rp40 ribu per kilogram. Sepanjang Oktober 2023, rata-rata harga cabai rawit merah secara nasional mencapai Rp55.934 per kilogram, naik 37,8 persen dibanding bulan sebelumnya (month-on-month/mom) (sumber: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/11/01/harga-cabai-naik-pada-oktober-2023-cabai-rawit-merah-paling-mahal oleh Adi Ahdiat, 01/11/2023).
Pada Oktober 2023, rata-rata harga cabai merah keriting nasional naik 11,3 persen (mom) menjadi Rp45.241 per kg, dan rata-rata harga cabai merah besar secara nasional naik 7,8 persen menjadi Rp43.138 per kg. Turun dan naiknya harga cabai atau fluktuasi harga sering terjadi.
Harga cabai naik saat menjelang hari besar keagamaan dan setelah Lebaran harganya turun, menjadi hal yang biasa dan tidak dikeluhkan konsumen. Hanya saja saat Oktober, November 2023 ini banyak dikeluhkan konsumen hampir di seluruh daerah, temasuk Babel. Diperkirakan di Babel, khususnya di Pangkalpinang, kenaikan sudah dua kali lipat dari harga biasa.
Di satu sisi kondisi harga stabil jarang terjadi. Harga stabil bertahan tidak lama dalam setahun. Harga cabai berubah-ubah terus dengan kecenderungan naik.
Menurut penulis, harga yang stabil harus dikondisikan agar keluhan dari konsumen tidak ada. Hanya saja untuk menuju atau mengondisikan harga stabil di tingkat petani, harga stabil di tingkat pedagang, dan stabil di tingkat konsumen memerlukan kerja sama antarpetani dan pedagang, termasuk pemerintah sendiri dan tidak mengabaikan faktor alam.
Kondisi harga stabil diciptakan dengan ada campur tangan pemerintah dalam hal kebijakan pemanfaatan pupuk kimia, harga pupuk kimia, ketersediaan benih dengan harga terjangkau, obat-obatan yang tidak mahal. Dengan kata lain, biaya produksi dari petani atas usahanya tidak mahal.
Dapat dijelaskan bahwa harga cabai di tingkat petani/produsen di Bangka Belitung lebih tinggi dari di Jawa mengingat biaya produksi di Bangka Belitung lebih mahal. Harga mahal di tingkat petani telah melalui perhitungan atas biaya produksi cabai. Kisaran harga dasar di tingkat petani cabai di sini lebih mahal atas biaya yang dikeluarkan.
Tidaklah heran jika harga cabai di Bangka Belitung lebih mahal. Petani cabai di sini telah memperhitungkan biaya keluar dengan keuntungan yang didapat dengan tidak menekan harga untuk konsumen.
Penulis rasa, ini bentuk perhatian petani cabai untuk konsumen. Jika ternyata harga cabai di pasaran mahal dalam KONDISI NORMAL, permainan pasar yang perlu dipertanyakan. Tetapi jika harga cabai mahal di saat Oktober, November 2023 ini dilatarbelakangi kondisi El Nino kemarin, konsumen harus paham, tidak menyalahkan petani.
Sebagai informasi, Badan Pangan Nasional telah menetapkan harga acuan pembelian/penjualan (HAP) cabai rawit merah di level konsumen melalui Peraturan Nomor 17 Tahun 2023. Di mana, HAP di level petani sebesar Rp25 ribu-Rp 31.500 per kg dan di konsumen sebesar Rp 40 ribu-Rp 57 ribu per kg. Hanya saja di Bangka Belitung dapat melewati HAP dimaksud di level petani dengan memperhatikan faktor alam yang terjadi.
Harga cabai mahal dapat disebabkan oleh stok/ketersediaan/pasokan di tingkat petani kurang, permintaan pasar oleh konsumen banyak. Berlaku hukum pasar yang telah berjalan, di mana pasokan kurang dengan permintaan banyak, harga cabai menjadi mahal.
Pasokan komoditas cabai di tingkat petani kurang diakibatkan oleh kondisi El Nino yang dihadapi Indonesia, terutama di kantong/sentra cabai di Pulau Jawa (terutama Jawa Timur). Telah terjadi El Nino di Indonesia sejak Juli hingga September 2023, di mana produksi cabai berkurang. Kondisi El Nino dengan kemarau panjang menyebabkan tanaman cabai tidak berproduksi optimal, bahkan ada petani cabai yang gagal panen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230820_Pebriyanti-Penyuluh-Pertanian-Madya.jpg)