Tribunners

Menanti Buah Kesabaran: Transformasi Pendidikan Indonesia dan PISA 2025

Perubahan dalam kurikulum atau cara pembelajaran tak bisa dipandang sebelah mata. Perlu waktu untuk menilai efektivitasnya

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Syahrial, S.T. - Guru Ahli Madya di SMAN 1 Damar 

Oleh: Syahrial, S.T. - Guru Madya di SMAN 1 Damar

"Transformasi sesungguhnya adalah perjalanan panjang, hasilnya terlihat ketika kesabaran menjadi teman setia."

SETIAP tiga tahun, Programme for International Student Assessment (PISA) memberikan sorotan yang tajam terhadap sistem pendidikan global. Kehadirannya yang akan berubah menjadi empat tahun ke depan menegaskan satu hal yang fundamental: perubahan dalam dunia pendidikan membutuhkan waktu agar dampaknya dapat terlihat dengan jelas. Ini adalah cerminan dari keyakinan bahwa transformasi pendidikan adalah perjalanan panjang yang tidak bisa terwujud secara instan.

Indonesia, dengan penerapan Kurikulum Merdeka pada Agustus 2022, menghadapi tantangan serupa. Jika kita menggunakan PISA sebagai patokan keberhasilan, dampak dari Kurikulum Merdeka mungkin baru akan terlihat pada PISA 2025. Namun, di sini dibutuhkan komitmen bersama untuk tidak melihat kebijakan pendidikan sebagai alat politik yang bisa dipasang dan dilepas kapan saja tanpa melihat data dengan menyeluruh.

Kebijakan pendidikan membangun fondasi bagi masa depan sebuah bangsa yang tak terbantahkan. Transformasi dalam kurikulum atau metode pembelajaran bukanlah sekadar langkah singkat, melainkan investasi jangka panjang yang membutuhkan evaluasi teliti dan kesabaran untuk melihat hasilnya. Di Indonesia, tantangan-tantangan dalam ranah pendidikan menjadi jelas; sebuah negara yang kaya akan keberagaman tetapi juga dihadapkan pada kompleksitas dalam menghadirkan pendidikan yang merata dan berkualitas bagi semua warganya.

Perubahan dalam kurikulum atau cara pembelajaran tak bisa dipandang sebelah mata. Perlu waktu untuk menilai efektivitasnya, terutama dalam konteks Indonesia yang memiliki karakteristik yang unik dan beragam. Dalam menghadapi dinamika ini, kesabaran dan komitmen untuk memperbaiki sistem pendidikan adalah kunci untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil benar-benar membawa perubahan yang signifikan bagi pendidikan bangsa ini.

Kurikulum Merdeka, sebagai tonggak penting dalam evolusi pendidikan Indonesia, memberikan harapan besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, sebagaimana pentingnya upaya penerapan perubahan, begitu pula pentingnya memberikan waktu yang cukup agar perubahan tersebut benar-benar meresap dan menghasilkan dampak yang signifikan. Pentransformasian kurikulum dan metode pembelajaran memerlukan proses yang tidak dapat dinilai secara menyeluruh hanya dalam beberapa bulan. Untuk melihat hasil yang substansial dan bermakna, evaluasi yang komprehensif dalam beberapa tahun menjadi penting.

Kita perlu mengakui bahwa perubahan dalam pendidikan adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Mengharapkan hasil instan dari sebuah kurikulum baru atau metode pembelajaran yang berbeda hanya akan mengurangi pemahaman mendalam terhadap potensi sebenarnya dari perubahan tersebut. Evaluasi menyeluruh dalam kurun waktu yang cukup akan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dampak sebenarnya yang dihasilkan, bukan sekadar hasil permukaan yang muncul dalam beberapa bulan pertama.

Komitmen jangka panjang dari para pemangku kebijakan pendidikan, guru, siswa, dan masyarakat secara keseluruhan sangatlah krusial dalam mengukir masa depan pendidikan. Tanpa kesatuan visi dan komitmen yang berkelanjutan, setiap usaha transformasi pendidikan bisa menjadi terhambat. Lebih dari sekadar menerapkan sebuah kebijakan baru, melibatkan para pemangku kepentingan dalam perjalanan pendidikan jangka panjang akan memastikan kelangsungan serta dampak yang nyata dari inovasi tersebut.

Pendekatan yang terburu-buru dalam menilai keberhasilan Kurikulum Merdeka berpotensi mengurangi pemahaman mendalam terhadap perubahan sebenarnya dalam sistem pendidikan. Di sinilah pentingnya pengertian bahwa transformasi dalam pendidikan bukanlah sesuatu yang bisa diukur dalam hitungan bulan atau tahun singkat. Ia adalah proses evolusi yang memerlukan waktu, evaluasi yang cermat, serta konsistensi dalam menerapkan perubahan demi mencapai dampak yang signifikan.

Evaluasi terhadap keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya ditinjau dari segi akademis semata. Aspek pengembangan keterampilan, pembentukan karakter, dan pemahaman mendalam terhadap konsep-konsep penting juga menjadi elemen penting yang tidak bisa diabaikan. PISA, dengan cakupan evaluasinya yang luas terhadap sistem pendidikan, memberikan pandangan yang lebih komprehensif. Namun, perlu diingat bahwa penilaian tersebut tidak boleh terbatas hanya pada hasil ujian saja.

Pentingnya mengakui bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya tercermin dari nilai-nilai tes, tetapi juga dari kemampuan siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan nyata, serta kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif. PISA sebagai alat evaluasi memberikan perspektif yang lebih holistik dalam mengevaluasi sistem pendidikan, namun hal ini harus diimbangi dengan pengakuan akan pentingnya aspek non-akademis yang juga turut berperan dalam membentuk kualitas pendidikan.

Penting untuk memahami bahwa menghubungkan setiap kebijakan baru langsung dengan hasil ujian standar internasional dalam waktu singkat berpotensi mereduksi kompleksitas kebijakan pendidikan menjadi alat untuk tujuan politis sesaat. Tindakan ini dapat mengaburkan pandangan menyeluruh terhadap proses pendidikan yang sebenarnya. Ketika kebijakan pendidikan diarahkan secara eksklusif untuk mencapai hasil segera dalam ujian standar, risiko terbesar adalah mengorbankan pemahaman mendalam akan kebutuhan siswa serta kelangsungan perkembangan sistem pendidikan dalam jangka panjang.

Dengan fokus yang terlalu besar pada hasil ujian standar internasional dalam jangka pendek, kebijakan pendidikan rentan terhadap perubahan yang sering kali bersifat tidak konsisten. Hal ini dapat mengubah kebijakan pendidikan menjadi instrumen yang terus-menerus disesuaikan dengan kepentingan politik saat ini tanpa mempertimbangkan efek jangka panjang terhadap proses pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu adanya keseimbangan antara pencapaian hasil sesaat dengan pengembangan sistem pendidikan yang kokoh dan berkelanjutan.

Untuk mencapai perubahan substansial dalam sistem pendidikan, kita harus menyediakan dukungan yang konsisten dan berkelanjutan. Hal ini tidak hanya melibatkan penerapan kebijakan, namun juga memastikan bahwa fondasi kebijakan tersebut kuat serta memberikan waktu yang cukup agar perubahan dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved