Tribunners

Perihal Para Pencinta Buku

Saat ini, khazanah keilmuan semakin tak terbatas. Tiap menit dan detik, ribuan buku klasik dan langka terus bermunculan di internet

Editor: suhendri
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah 
Ilustrasi buku 

Sering juga saya temukan buku yang cover-nya memikat, juga penulisnya lumayan terkenal. Namun, setelah beberapa halaman dibaca, tampaknya persoalan yang dibahas tidak termasuk dalam kriteria saya. Boleh jadi itu buku pesanan penerbit yang ditarget harus memenuhi syarat-syarat tertentu, juga harus selesai dalam tempo tertentu. Buku-buku di sepanjang tahun kejatuhan pemerintah Orde Baru, banyak sekali yang memenuhi kriteria saya, dan ke mana pun saya melakukan perjalanan di tahun-tahun itu, selalu saja pulang dengan memboyong banyak buku di ransel.

Hal tersebut menyangkut banyaknya khazanah keilmuan maupun kesusastraan yang dilarang terbit di masa rezim militerisme Orde Baru. Untuk itu, tak perlu heran jika bangsa yang memiliki ribuan profesor di bidang akademik, juga ribuan budayawan di bidang sastra, namun kita hanya memiliki satu orang saja (Pramoedya Ananta Toer) yang pernah diakui dunia, serta berhasil meraih nominasi di bidang kesusastraan.

Karya tanpa pamrih

Memasuki era milenial (pasca tahun 2000) berbarengan dengan berkumandangnya era reformasi di bidang politik, makin bermunculan penulis-penulis independen yang tak mau dipusingkan oleh urusan bisnis perbukuan maupun oligarki penerbitan yang berlangsung selama rezim pemerintah Orde Baru. Kadang saya terima buku dari penulis-penulis muda yang ikhlas memberikan karyanya dengan cuma-cuma. Kadang dikirimkan lewat paket khusus, dan tidak jarang gagasan dan ide-ide brilian bermunculan dari orang-orang yang ikhlas berkarya dan berbagi semacam itu.

Melalui tulisan ini, saya ucapkan terima kasih yang tiada terhingga. Bukan saja sumbangan yang riil dalam bentuk materi (buku), melainkan juga sumbangan besar bagi khazanah keilmuan yang merupakan nilai jariah yang sangat berharga, baik di mata manusia maupun di mata Tuhan. Bersamaan dengan munculnya buku-buku itu, saya pun menikmati segala komentar, opini, hingga kritik-kritik yang genuine dari penulis-penulis milenial yang ikut menyambut, terutama mereka yang semarak menyumbangkan ilmunya melalui media daring (internet).

Kadang kesanggupan berbagi itu, saya balas dengan kiriman buku dari rak yang merupakan koleksi kebanggan, atau bahkan karya-karya saya sendiri yang pernah diterbitkan. Pernah juga saya temukan seorang penulis (sastrawan) senior yang banyak berkiprah di era Orde Baru, namun ketika saya sodorkan buku saya, kemudian saya tanyakan di toko buku mana saya bisa mendapatkan buku-bukunya. Dengan legawa dia menjawab, tak usah repot-repot, karena buku-bukunya jelek dan kurang bagus.

Kemudian, dia memberi saya pesan tentang adanya penulis-penulis baru dari generasi milenial yang karya-karya mereka perlu saya baca. Dia menyobek secarik kertas, lalu menuliskan alamat situs atau web-nya, serta beberapa judul buku atau artikel yang perlu saya baca.

Karakter buku

Kalau saya pulang dari perjalanan, sering tidak sabaran harus cepat-cepat sampai ke rumah agar segera duduk di kamar untuk membuka kemasan buku satu per satu, lalu dengan “rakus” membacanya dalam sekali duduk. Kadang juga saya membeli buku-buku tua tentang Islam, sejarah agama-agama dunia, riwayat bangsa-bangsa dan nasionalisme hingga marxisme.

Di emperan kios buku di Yogyakarta, saya pernah mendapatkan buku-buku tebal seperti Nahjul Balaghah (Ali bin Abi Thalib), Madilog (Tan Malaka), hingga pemikiran para penulis dunia yang mengagumi jejak-langkah kehidupan Soekarno, dengan judul Liber Amicoum 100 Tahun Bung Karno, diterbitkan oleh tim penerbit, yang terdiri dari para tahanan politik Orde Baru yang diasingkan ke Pulau Buru (Hasta Mitra). Penerbit ini pernah diperkarakan kembali di masa akhir kekuasaan rezim Orde Baru lantaran menerbitkan novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, buah karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulis ketika ia masih mendekam di pembuangannya di Pulau Buru.

Di tengah gegap gempitanya era digital akhir-akhir ini, tiba-tiba saya punya kecenderungan mengombinasikan bahan bacaan, mencermati, dan menggeluti beberapa bacaan sekaligus, baik dari buku baru, buku koleksi lama, juga beberapa cerpen dan esai di media online. Kadang saya membiarkan semua bahan bacaan itu saling bersaing di pikiran saya, semacam bercampurnya ramuan misterius yang diresepkan menjadi satu. Misalnya seperti ini, pagi saya membaca Sejarah Hidup Muhammad, siang saya membaca Anak Semua Bangsa, sore saya membaca Pikiran Orang Indonesia, dan malamnya membaca Di Bawah Bendera Revolusi, hingga mata merasa lelah dan tertidur lelap.

Kadang kombinasi itu terasa kontras, karena siangnya saya tertarik membaca literatur dan ensiklopedia tentang Allah agar dapat mengenali Tuhan saya, tetapi malamnya saya terpacu membaca karakter setan, iblis, dan kecenderungan hawa nafsu manusia. Kadang saya merasa diliputi kegelisahan perihal adanya beberapa buku yang belum sempat saya baca, mengingatkan saya kepada para pemikir, filsuf, dan para penulis buku yang belum selesai mereka tuliskan hingga ajal menjemput mereka.

Tentu saja saya hanya bisa men-download ratusan buku saja yang bisa di-download, selebihnya (terutama karya-karya klasik) masih belum memungkinkan disimpan di dalam laptop maupun komputer agar lebih portabel. Ketika jutaan dan miliaran kata itu bisa disimpan di dalam fail atau flashdisk, saya justru merasa bangga karena sepanjang hidup saya terbiasa dengan aktivitas meng-copy atau memperbanyak karya tulis agar dapat dibaca dan disimak oleh sebanyak mungkin pembaca di muka bumi ini.

Saat ini, khazanah keilmuan semakin tak terbatas. Tiap menit dan detik, ribuan buku klasik dan langka terus bermunculan di internet. Selalu ada keajaiban dalam hidup ini, dan selalu ada orang-orang baik yang memunculkan nilai-nilai kebaikan, di samping para perusak yang membikin onar dan penggelapan, masih terus menyertainya. Kini, buku-buku langka yang menyebarkan kebaikan itu dapat bepergian ke mana-mana, dan secara ajaib bisa kita temukan melalui gawai yang bisa kita genggam di telapak tangan.

Sebagaimana keajaiban sejarah hidup Nabi Muhammad, maupun kitab suci Al-Qur’an, yang tak mungkin ada kekuatan apa pun yang sanggup mengubah teks-teks yang tertulis. Sampai hari ini, umat manusia dapat menyimaknya dalam bahasa aslinya (Arab), atau yang diterjemahkan terus-menerus ke seluruh bahasa-bahasa dunia. (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved