Tribunners

Perihal Para Pencinta Buku

Saat ini, khazanah keilmuan semakin tak terbatas. Tiap menit dan detik, ribuan buku klasik dan langka terus bermunculan di internet

Editor: suhendri
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah 
Ilustrasi buku 

Oleh: Alim Witjaksono - Peneliti dan Penikmat Sastra Milenial

“Tanpa memahami kualitas buku (ilmu), setiap hasrat dan keinginan manusia boleh saja terpenuhi, tapi ia takkan pernah menemukan arti kebahagiaan yang sejati.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)

WALAUPUN sudah memasuki era milenial dan banyak buku penting yang sudah bisa di-download, tetapi hal tersebut baru di kisaran satu atau dua persen saja penulis maupun penerbit yang mau berbagi dengan pembaca di seluruh dunia. Selebihnya, tetap bertahan mempertimbangkan keuntungan demi pundi-pundi kepentingan pribadinya, maupun kelompok perusahaannya. Karena itu, tetap jika bepergian ke mana-mana, saya masih menyempatkan diri mengepak barang yang disertai buku-buku penting dalam khazanah keilmuan maupun kesusastraan dunia.

Jika saya belum selesai membaca sebuah novel, mesti novel yang sedang dibaca itu menjadi bagian penting dari empat hingga lima buku yang harus saya bawa ke mana-mana. Bagaimanapun, saya merasa aman dan nyaman bila ditemani buku saat bepergian, sekalipun itu buku yang sudah dibaca, dan harus saya baca ulang di perjalanan atau tempat tujuan.

Mungkin saya enggak kepikiran, bahkan lupa membawa jaket, payung, ataupun roti, mi instan bahkan vitamin C, tetapi perkara empat hingga lima buku yang harus dibawa, selalu tak pernah absen dari memori ingatan saya. Jika tanpa “mereka”, saya merasa terancam bagaikan memasuki hutan belantara tanpa adanya juru kunci yang memandu perjalanan saya.

Kadang saya membawa buku tebal yang baru saya pahami hanya di bab-bab tertentu saja. Tetapi ketika saya melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi suatu museum atau tempat bersejarah, atau bahkan berbincang dengan orang yang berbeda bangsa dan agama, tiba-tiba tebersit ingatan saya pada hal-hal yang pernah saya baca, namun belum tuntas saya renungkan. Setelah momen tersebut, tersentaklah ingatan saya untuk membuka kembali bagian-bagian yang pernah saya lewatkan, hingga persoalan yang tertinggal akhirnya dapat juga saya pahami, bahkan boleh jadi persoalan tersebut adalah yang paling prinsipil dari keseluruhan isi buku.

Hal ini sudah menjadi ritual tersendiri bagi saya, sebagaimana Sayidina Ali bin Abi Thalib yang menyatakan, bahwa ketamakan dan keserakahan bisa dimaklumi selagi hal tersebut menyangkut pencarian ilmu (bukan harta). Di situlah sifat para pencari ilmu yang akan selalu menolak kedangkalan dan kejumudan, sebab perjalanan untuk mencari kebenaran, identik dengan perjalanan untuk mencapai dinamika keilmuan yang lebih tinggi dan luhur.

Di sisi lain, sebenarnya saya kurang tertarik membaca buku yang diberikan secara cuma-cuma oleh instansi dan lembaga tertentu. Meskipun berdasarkan hasil riset dan penelitian, namun selalu saja tak lepas dari kepentingan lembaga dan keuntungan instansi yang membiayainya.

Kadang saya membaca buku sastra yang dihadiahkan seorang teman penulis, meskipun saya bisa menebak berdasarkan logika berpikirnya selama saya kenal. Mungkin saja oleh perjalanan waktu terjadi perubahan dan pembaruan dalam cara berpikirnya, namun tetap akan terlihat dari ending-ending yang disampaikannya. Jika ending yang ditulis mewakili kepentingan universalitas, dan bukan hanya semangat primordialisme kesukuan, atau kepentingan aliran mazhab tertentu, masih mungkin saya nikmati hingga halaman-halaman terakhir.

Saya pernah mendapati Gol A Gong, seorang pemimpin duta baca Indonesia, yang di mobilnya dipenuhi buku yang akan dibagikan kepada masyarakat di berbagai pelosok negeri. Lembaga kebudayaan yang didirikannya (Rumah Dunia) baru saja menyelenggarakan bedah buku Perasaan Orang Indonesia, lalu Gol A Gong meluncur bersama kelompok Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dengan mobil yang dijejali oleh buku-buku, seakan-akan tanpa menyita ruang di mana ia harus menaruh sepatu maupun kemeja yang disetrika istrinya. Tentu saja, mereka tak pernah kepikiran bagaimana harus menaruh jas yang dipersiapkan untuk menghadiri acara formal, atau bahkan sepatu cadangan yang harus dipakai ketika memasuki gedung pertemuan di tempat-tempat yang mereka kunjungi.

Buku yang mahal

Apa gunanya membawa-bawa kasur lipat yang akan menyita ruang bagasi. Sebab, tertidur lelap di atas tumpukan buku sudah menjadi kebiasaan bagi seorang “aktivis buku” seperti Gol A Gong dan sahabat Duta Baca Indonesia. Boleh jadi itu adalah kasur kedua bagi mereka.

Sebagaimana saya ketika menginap di hotel untuk menghadiri acara pembacaan cerpen-cerpen karya penulis milenial di ruang auditorium keesokan harinya. Ada dua kasur di ruang hotel tempat saya menginap. Alih-alih menyatukan dua kasur itu menjadi satu tempat tidur yang lebar, justru kasur yang satu lagi saya pakai untuk buku-buku yang baru saya beli selama perjalanan. Bagi saya, cukuplah dengan satu kasur sempit ketimbang saya melebarkan ukuran kasur, tetapi buku-buku tergeletak di lantai yang dingin dan lembap.

Kadang saya berpikir, apakah ada negara lain di dunia ini yang menjual buku-buku semahal di Indonesia. Apakah mahalnya harga buku juga bagian dari semangat imperialisme negeri-negeri industri, agar bangsa-bangsa dunia ketiga dibiarkan dalam pembodohan dan pendangkalan? Saya belum menemukan adanya riset dan penelitian yang serius mengenai ini, meskipun fakta menunjukkan bahwa kecurigaan ini seakan-akan layak menjadi tuduhan yang bisa dibuktikan secara empiris di lapangan.

Cobalah Anda perhatikan, seberapa banyak toko buku gulung tikar dikarenakan mahalnya harga kertas maupun buku-buku yang menjadi khazanah keilmuan bagi bangsa ini. Terkait dengan ini, prosaik milenial dari Banten Hafis Azhari, pernah menyatakan, “Di masa Orde Baru, jika saya bepergian ke suatu kota, tak lupa saya mendatangi penulis dan sastrawan setempat, baik Pramoedya, H.B. Jassin maupun Y.B. Mangunwijaya. Setelah itu, saya belanja di toko buku terdekat. Tapi anehnya, ketika hasrat dan keinginan saya muncul untuk membeli sedikit buku, tiba-tiba ada penyesalan kenapa tidak membeli lebih banyak lagi? Sesampainya di rumah, jika saya hanya menaruh satu-dua buku untuk menambah koleksi yang ada, tiba-tiba saya merasa bahwa buku-buku itu bukannya bertambah melainkan saya merasa telah kekurangan banyak buku.”

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved