Tribunners
Greenflation dan Greedflation: Dua Sisi Mata Uang Ekonomi Hijau
Dampak kebijakan lingkungan terhadap harga barang dan jasa yang dibebankan pada konsumen melalui rantai pasokan dikenal sebagai inflasi hijau
Oleh: Ridho Ilahi, S.S.T., M.Stat. - Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik
EKONOMI hijau adalah paradigma pembangunan yang berupaya mencapai kesejahteraan manusia dan kesetaraan sosial sambil mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis. Ekonomi hijau menekankan pentingnya penggunaan sumber daya alam secara efisien dan bertanggung jawab, serta pengurangan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.
Namun, transisi menuju ekonomi hijau tidaklah mudah dan tanpa tantangan. Salah satu tantangan yang muncul adalah fenomena inflasi yang berkaitan dengan kebijakan ramah lingkungan, yaitu greedflation dan greenflation. Istilah "greenflation" menjadi perhatian publik selama debat cawapres yang diselenggarakan oleh KPU.
Menurut Guru Besar FEB UI, greenflation merupakan kenaikan harga barang dan jasa atau inflasi sebagai akibat dari transisi perekonomian menjadi perekonomian net-zero, yang lebih ramah lingkungan. Namun, kenaikan harga tersebut tidak selalu disebabkan oleh greenflation. Misalnya, ketika tingkat inflasi tahunan Uni Eropa sebesar 5,3 persen pada Desember 2021, greenflation saja tidak cukup untuk menjelaskan penyebab inflasi karena ada alasan lain di balik kenaikan harga. Harga barang-barang tertentu melonjak sebagai akibat dari greenflation. Permintaan yang tinggi terhadap logam untuk transisi energi terbarukan, tetapi ketersediaannya belum mencukupi. Kebijakan pajak karbon merupakan pungutan yang dikenakan kepada produsen atau konsumen yang menghasilkan emisi gas rumah kaca.
Pajak karbon bertujuan untuk menginternalisasi biaya lingkungan dari aktivitas ekonomi dan memberi insentif untuk beralih ke energi bersih. Namun, pajak karbon juga dapat meningkatkan harga bahan bakar dan produk lain yang terkait dengan emisi. Kenaikan biaya produksi dan penyediaan barang dan jasa yang ramah lingkungan. Misalnya, biaya pembuatan baterai mobil listrik yang membutuhkan bahan baku seperti lithium, kobalt, dan nikel yang langka dan mahal. Selain itu, biaya infrastruktur dan distribusi energi terbarukan juga dapat lebih tinggi daripada energi fosil.
Kenaikan permintaan akan barang dan jasa yang ramah lingkungan. Misalnya, permintaan akan mobil listrik, panel surya, dan produk organik yang makin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan isu lingkungan. Permintaan yang tinggi dapat menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga.
Dampak kebijakan lingkungan terhadap harga barang dan jasa yang dibebankan pada konsumen melalui rantai pasokan dikenal sebagai inflasi hijau atau greenflation. Sederhananya, istilah "inflasi hijau" mengacu pada kenaikan biaya bahan mentah dan energi karena pergeseran ke arah energi terbarukan dan penggunaan bahan mentah yang lebih lama. Melalui peningkatan pembiayaan untuk teknologi rendah karbon, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk infrastruktur menjadi lebih mahal.
Contoh kasus greenflation yang terjadi di dunia adalah gerakan protes rompi kuning di Prancis pada tahun 2018. Saat itu, pemerintah Prancis mengeluarkan kebijakan menaikkan pajak bahan bakar sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Namun, kebijakan ini menimbulkan kemarahan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, yang merasa terbebani oleh kenaikan harga bahan bakar.
Greedflation
Dunia ternyata tidak hanya mengenal greenflation. Kini, muncul istilah inflasi baru, yakni greedflation. Perang Rusia-Ukraina dan pandemi Covid-19 menyebabkan inflasi tinggi di banyak negara, termasuk negara maju seperti AS. Namun, inflasi Negeri Paman Sam saat ini memiliki sesuatu yang menarik.
Keserakahan perusahaan untuk menghasilkan laba menyebabkan inflasi di Amerika Serikat terutama sektor konsumer. Harga makanan mulai naik setelah pandemi Covid-19, kemudian makin naik akibat meroketnya harga energi. Perusahaan konsumer juga menaikkan harga yang harus dibayar oleh masyarakat Amerika Serikat. Namun, perusahaan konsumer terus menaikkan harga produk mereka meskipun harga energi terus menurun. Pasar tenaga kerja yang kuat memungkinkan warga AS membeli barang-barang yang harganya sudah dinaikkan. Tidak hanya di AS, upaya untuk mengeruk keuntungan berkontribusi besar dalam peningkatan inflasi di Inggris pada tahun 2022-2023.
Istilah greedflation ini mengacu pada situasi di mana inflasi meningkat karena dorongan keuntungan dan keserakahan, biasanya tercermin dalam perilaku konsumen dan perusahaan yang mengejar laba maksimal tanpa memperhatikan dampak sosial atau lingkungan. Fenomena ini dapat dilihat dalam peningkatan harga barang-barang konsumen dan aset, sering kali disertai dengan manipulasi pasar dan spekulasi yang tidak terkendali.
Contoh kasus greedflation yang terjadi di Indonesia adalah kenaikan harga beras pada tahun 2018. Saat itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan impor beras untuk menstabilkan harga dan menjaga stok. Namun, para importir dan distributor beras justru menimbun beras dan menaikkan harga secara spekulatif. Akibatnya, harga beras melonjak hingga 20 persen dan menyulitkan masyarakat. Termasuk juga praktik spekulatif dalam pasar keuangan dan real estate yang memicu gejolak harga yang tidak seimbang.
Solusi kebijakan
Untuk mengatasi greedflation dan greenflation, diperlukan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Pemerintah harus membuat kebijakan yang adil, transparan, dan konsisten untuk mendorong transisi ekonomi hijau. Misalnya, memberikan subsidi, insentif, atau bantuan kepada produsen dan konsumen yang menggunakan energi bersih, menghapus subsidi yang merugikan lingkungan, dan menegakkan hukum terhadap praktik monopoli, kartel, atau penimbunan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220928_Ridho-Ilahi-Fungsional-Statistisi-Badan-Pusat-Statistik.jpg)