Sabtu, 2 Mei 2026

Idul Fitri 2024

Kisah Baju Lebaran Cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husain, Langsung Diantar Malaikat Ridwan

Pakaian bersih yang dipakai umat Islam saat lebaran Idul Fitri merupakan tanda dari manusia yang suci atau bersih dari dosa setelah berpuasa penuh...

Tayang:
Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Teddy Malaka
tribun
Kisah Baju Lebaran Cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husain, Langsung Diantar Malaikat Ridwan 

BANGKAPOS.COM -- Di Indonesia, tradisi menggunakan baju baru setiap hari lebaran Idul Fitri bak sudah menjadi suatu kewajiban.

Menggunakan baju baru di hari lebaran Idul Fitri merupakan suatu simbol kesucian.

Pakaian bersih yang dipakai umat Islam saat lebaran Idul Fitri merupakan tanda dari manusia yang suci atau bersih dari dosa setelah berpuasa penuh di bulan Ramadhan.

Lantas bagaimana sejarah baju lebaran sendiri?

Dilansir dari KOMPASTV, tradisi membeli baju baru menjelang Lebaran resmi tercatat muncul sejak abad ke-16 sebelum Tanah Air bernama Indonesia.

Tradisi baju baru saat Idul Fitri tertulis dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto.

Buku tersebut menjelaskan bahwa tradisi ini sudah dimulai sejak tahun 1596 di masa Kesultanan Banten.

Semasa itu, menjelang Idul Fitri, mayoritas Muslim di Kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru.

Bedanya, saat itu hanya kalangan kerajaan saja yang bisa membeli pakaian bagus untuk Idul Fitri.

Mayoritas rakyat biasa masih menjahit baju mereka sendiri.

Tradisi serupa juga ditemui di Kerajaan Mataram Islam.

Masyarakat yang tinggal di Yogyakarta ini ramai mencari baju baru, dengan cara membeli atau menjahit sendiri, untuk merayakan berakhirnya Ramadhan.

Sementara itu, tradisi beli baju baru tetap ada semasa penjajahan kolonial.

Penasihat Urusan Pribumi untuk Pemerintah Kolonial, Snouck Hurgronje mencatatkan tradisi beli baju baru untuk Lebaran dalam bukunya berjudul Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889–1936 Jilid IV.

“Di mana-mana perayaan pesta ini disertai hidangan makan khusus, saling bertandang yang dilakukan oleh kaum kerabat dan kenalan,"

"pembelian pakaian baru, serta berbagai bentuk hiburan yang menggembirakan,” tulis Snouck dalam surat yang termuat di buku tersebut.

Hurgronje juga mencatatkan dalam buku Islam di Hindia Belanda bahwa kebiasaan bertamu sambil memakai pakaian baru saat Idul Fitri mengingatkannya pada perayaan tahun baru di Eropa.

Ia juga menyebutkan bahwa kebiasaan ini terutama marak terjadi di Batavia.

Orang-orang Betawi juga mengeluarkan uang untuk membeli petasan dan makanan pada hari raya Idul Fitri.

Hingga kini, membeli baju baru pun masih menjadi tradisi masyarakat Indonesia menjelang hari raya Idul Fitri.

Meski merupakan tradisi, beli baju baru menjelang Lebaran bukanlah kewajiban ataupun ibadah, melainkan sebatas kebiasaan masyarakat yang sudah turun-temurun.

Kisah Baju Lebaran Cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husain

Berikut ini adalah kisah Cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein yang meminta ibundanya Fatimah untuk menghiasi mereka dengan baju baru saat lebaran.

Seperti disarikan dari ganaislamika, cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein, tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang.

Riwayat yang memilukan ini dinarasikan oleh Ibnu Syahr Asyub dari Al-Ridha dan dinukil oleh Hakim al-Naisaburi dalam kitabnya al-Amali.

Mereka bertanya kepada ibunya, "Wahai Ibu, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami. Mengapa Ibu tidak menghiasi kami?"

Sayyidah Fatimah menjawab, "Baju kalian masih di tukang jahit."

Malam hari raya tiba, sementara pakaian baru belum juga terlihat, sehingga dua pemuka pemuda surga itu bertanya lagi kepada ibunya.

Sayyidah Fatimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.

Sayyidah Fatimah menghampiri seraya bertanya, "Siapa?"

"Wahai putri Rasulullah, saya adalah tukang jahit. Saya datang membawa hadiah pakaian untuk kedua putramu."

Pintu dibuka dan tampak lah seseorang membawa bingkisan lalu diberikan kepada Sayyidah Fatimah.

Beliau membuka bingkisan tersebut dan di dalamnya terdapat dua gamis, dua celana, dua mantel, dua sorban, dan dua pasang sepatu hitam yang semuanya terlihat indah.

Lalu Sayyidah Fatimah memanggil kedua putra kesayangannya dan memakaikan mereka busana indah hadiah tersebut.

Kemudian Rasulullah SAW datang dan melihat kedua cucunya sudah rapi mengenakan pakaian baru yang indah.

Dengan senang Rasulullah SAW menggendong keduanya dan menciumi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidah Fatimah, "Apakah engkau melihat sang tukang jahit tersebut?"

Sayyidah Fatimah menjawab, "Iya, aku melihatnya."

Lalu Rasulullah menjelaskan, "Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan malaikat Ridwan sang penjaga surga."

(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved