Tribunners

Golongan Merugi di Bulan Ramadan

Saat Ramadan tiba, Allah membuka pintu surga, menutup pintu neraka, membelenggu para iblis dan syaitan, serta melipatgandakan nilai pahala

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Muhammad Kurnia, Lc., M.Ag. - Dosen Agama Islam Universitas Bangka Belitung 

Oleh: Muhammad Kurnia, Lc., M.Ag. - Dosen Agama Islam Universitas Bangka Belitung

SEBAGAIMANA telah kita ketahui bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang paling istimewa karena memiliki keberkahan yang tidak bisa ditandingi oleh bulan lainnya. Saat Ramadan tiba, Allah membuka pintu surga, menutup pintu neraka, membelenggu para iblis dan syaitan, serta melipatgandakan nilai pahala setiap amal ibadah yang dikerjakan. Dengan demikian, ini momentum yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah Ta'ala, di antaranya memperbanyak salat malam, tilawah Al-Qur’an, bersedekah, beristigfar, dan lain-lain.

Karena bulan Ramadan ini adalah anugerah yang sangat besar bagi kita umat Nabi Muhammad, maka seolah-olah Allah ingin memberikan kita kesempatan jikalau selama dalam satu tahun ada 12 bulan, kemudian 11 bulan kita menjadi hamba yang kurang taat kepada Allah, hamba yang ibadahnya masih sedikit, hamba yang banyak melakukan khilaf dan salah, maka dengan adanya Ramadan inilah bulan di mana saatnya bagi kita untuk mempersembahkan sebaik-baik ketaatan seraya bertobat dengan memohon ampun kepada Allah Ta'ala.

Namun, tidak sedikit orang yang merugi saat menjalankan ibadah di bulan Ramadan, di antaranya adalah;

1. Mereka yang menjalani puasa sebagai formalitas biasa saja, bahkan cenderung ada sifat riya' dari ibadah puasanya. Karena sebaik-baik puasa adalah berlandaskan keimanan dan semata-mata mengharapkan rida dari Allah, karena demikian itu yang akan membuka peluang agar dosa diampuni Allah. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda dari hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya:
“Barang siapa yang berpuasa karena Iman dan Ihtisaban maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 38)

2. Mereka yang berpuasa namun masih melakukan perbuatan fasik, di antaranya berakhlak buruk, praktik menzalimi orang lain, perkataan dusta, melakukan perbuatan tercela, dan lain sebagainya. Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengerjakannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. al-Bukhari no. 5710)

3. Mereka yang melalaikan ibadah salat baik fardu maupun sunah karena kemalasan sehingga tidak mau mengerjakannya. Karena banyak kesempatan baik yang Allah tawarkan dilewati dengan sia-sia saja tanpa beramal. Padahal kalau di bulan Ramadan saja malas dalam beribadah maka di bulan lain pasti akan lebih malas lagi beribadahnya.

4. Mereka yang menyia-nyiakan waktu di bulan Ramadan ini dengan banyak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat seperti memperbanyak tidur, bermain game, aktif di media sosial, jalan-jalan tidak berfaedah, menonton televisi, dan lain sebagainya. Barangkali mereka inilah yang disabdakan Nabi Muhammad bahwa “Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan haus dan lapar, dan betapa banyak orang yang sholat malam hanya begadang saja.” (HR. Ahmad no. 8843)

5. Mereka yang mengabaikan Al-Qur’an sehingga mereka tidak membacanya, mentadabburinya, apalagi mengamalkannya. Padahal bulan Ramadan identik dengan bulan Al-Qur’an, maka idealnya harus tumbuh dan bertambah rasa cinta kita kepada Al-Qur’an.

6. Mereka yang bersemangat dalam menjalani puasa namun hanya di mulut saja. Bahkan mungkin hanya di beberapa hari pertama saja. Padahal sudah bertekad untuk bertobat dan istikamah, namun di tengah jalan putus asa dan menyerah bahkan kehilangan semangat lalu kemudian berpaling dari nilai-nilai kebaikan dan justru melalaikannya begitu saja sehingga hari-hari yang berlalu selama Ramadan tidak meninggalkan bekas dan dampak yang positif dalam kehidupannya.

Demikianlah beberapa poin yang harus kita hindari agar kita tidak tergolong orang-orang yang merugi dalam menghadapi bulan Ramadan, terlebih di tengah pandemi wabah saat ini. Mari sama-sama kita menjaga spirit ibadah diri kita dan keluarga agar predikat takwa yang Allah janjikan kepada orang-orang beriman yang menjalankan ibadah puasa berhasil kita dapatkan sebagai bekal di akhirat kelak (QS. Al-Baqarah, ayat 183).

Meraih kesempurnaan puasa

Berbagai macam sajian kemuliaan yang Allah hadirkan di bulan Ramadan selayaknya membuat kita menjadi hamba yang sangat bersyukur karena kesempatan itu Allah hadirkan di hadapan kita saat ini. Barangkali ada di antara kerabat kita yang mereka tidak berkesempatan untuk berjumpa dengan Ramadan karena mereka telah dipanggil lebih dahulu menghadap Allah. Begitu pula kita, jangankan berjumpa dengan Ramadan di tahun yang akan datang, untuk Ramadan tahun ini saja kita belum tahu apakah diizinkan Allah atau tidak untuk menyelesaikannya.

Keadaan yang seperti inilah harus kita renungkan sehingga kita tidak pernah melewatkan setiap detik di bulan Ramadan dengan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Seolah-olah kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai Ramadan terakhir dalam kehidupan kita agar kita lebih maksimal dalam mempersembahkan sebaik-baik amal ibadah kepada Allah. Tentu harapan kita saat Ramadan nanti berlalu maka predikat takwa yang Allah janjikan bagi orang-orang beriman yang berpuasa di bulan Ramadan berhasil kita dapatkan.

Ramadan adalah madrasah atau tempat menempa kepribadian diri kita agar menjadi lebih baik lagi di hadapan Allah sehingga kita menjadi hamba yang dekat kepada Rabb-nya. Karena faktor kedekatan kepada Sang Pencipta adalah gerbang untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved