Tribunners

Peran Vital Guru di Kurikulum Merdeka

Guru yang berkompeten dan memiliki etos belajar yang tinggi inilah yang akan mendukung tercapainya pembelajaran yang berkualitas di Kurikulum Merdeka.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Arif Yudistira - Pendidik, Peminat Dunia Pendidikan dan Anak 

Oleh: Arif Yudistira - Pendidik, Peminat Dunia Pendidikan dan Anak

SEBAGIAN guru merasa berat menjalankan tugas administrasi di Kurikulum Merdeka. Mereka merasa guru seolah-olah jadi budak aplikasi dan pengejar centang hijau. Guru di Kurikulum Merdeka ini memang berbeda dari kurikulum sebenarnya. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang terintegrasi. Ia adalah integrasi antara model pembelajaran di kelas dan juga model pembelajaran berbasis IT.

Integrasi antara klasikal dan IT ini digagas Nadiem Makarim untuk menjembatani pola atau model generasi milenial yang lekat dan akrab dengan teknologi. Kebiasaan kita yang akrab dengan teknologi, tidak bisa dimungkiri membawa dampak nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

Rizqina, alumnus UI, yang juga psikolog anak dan remaja, menjelaskan, perpindahan yang cepat antara satu tontonan ke tontonan lainnya ini memang dapat berpengaruh pada rentang fokus. ”Beberapa penelitian pun menyatakan demikian. Dengan (kebiasaan menonton) durasi video pendek, jadi terbiasa untuk berpindah-pindah fokusnya. Pola perilaku ini juga yang mungkin telah tergeneralisasi dalam kehidupan sehari-hari. [Kompas, 6/3/2024].

Apa yang dialami guru-guru kita yang mengeluhkan tentang betapa mereka terbebani dengan model pembelajaran di Kurikulum Merdeka membenarkan penelitian tentang efek atau pengaruh video pendek yang sering kita tonton dalam keseharian kita. Guru-guru menjadi tidak terbiasa dengan tampilan video berdurasi 15 sampai 20 menit. Padahal di platform aplikasi Merdeka Mengajar, video pembelajaran untuk guru didesain melebihi video reels.

Video pembelajaran guru di Merdeka Mengajar juga tidak seperti reels yang amat singkat dan cukup mendistraksi kita (penonton/guru). Akibatnya, bukan hanya kesan membosankan, bila tidak fokus dan tidak pernah mendengar atau membaca materi-materi dalam Merdeka Mengajar tentu akan melelahkan dan menjenuhkan.

Etos Belajar

Guru adalah sosok yang tidak boleh berhenti belajar. Ia tidak boleh purna belajar meski tidak duduk lagi di bangku kuliah atau sekolah. Guru saat mendidik murid perlu mempelajari psikologi dan perkembangan usia murid. Perkembangan teknologi, hingga perkembangan dan perubahan zaman.

Melalui aktivitas membaca, menonton dan mendengar video melalui internet, kita sebagai guru bisa belajar dari media apa pun yang ada di sekitar kita.

Platform Merdeka Mengajar didesain untuk memacu etos belajar guru. Ia tidak hanya berisi integrasi dan juga materi yang akan diajarkan kepada anak. Di platform ini juga disediakan ruang yang luas untuk guru belajar penguatan kompetensi pedagogis dan juga kompetensi profesionalitas.

Guru harus terus meningkatkan pengetahuan, tentang sejarah pendidikan kita, filosofi pendidikan dan pengajaran nasional kita, sampai dengan metode yang terbaik yang bisa diterapkan untuk mengajar anak-anak kita di kelas. Bila guru tidak belajar dan kurang mengetahui dalam kompetensi yang mereka miliki, maka ia akan tertinggal. Dampaknya, guru tidak bisa mengikuti perkembangan zaman dan juga perkembangan murid-muridnya. Ia akan ditinggalkan murid-muridnya.

Makin guru belajar lebih giat tentang kompetensi profesionalitasnya, serta kompetensi pedagogis yang ia kuasai, ia akan makin mantap dan matang dalam menghadapi karakter anak dan bagaimana menerapkan metode yang sesuai dengan mereka.

Howard Gardner seorang pemikir dari Amerika menemukan bahwa anak memiliki kecerdasan majemuk yang perlu dipacu dengan gaya belajar yang sesuai. Guru yang baik dan bijak tentu akan mengikuti, menyesuaikan dengan gaya belajar anak, tidak selalu menuntut anak mengikuti gaya pembelajaran mereka.

Kurikulum Merdeka hendak mengelaborasikan antara kemampuan pedagogis guru, kompetensi guru yang mumpuni, dengan perkembangan teknologi yang makin maju. Harapannya, melalui Kurikulum Merdeka, guru dan potensinya bisa optimal mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan bersama murid.

Media Edukasi dan Ruang Bersama

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved