Rabu, 15 April 2026

Berita Viral

Viral Polisi Diseret Sapi Ngamuk di Komplek Polres Dharmasraya

Video detik-detik anggota polisi bernama Brigadir Debi Awaluddin terseret sapi mengamuk viral di sosial media.

Editor: fitriadi
Tangkapan Layar Muhammad Didit 97
Anggota Polres Dharmasraya Brigadir Debi Awaluddin terseret saat sapi kurban mengamuk, Senin (17/6/2024). 

"Itu diperkirakan berat sapinya sampai 1 ton," kata Kapolsek Rongkop, AKP Wasdiyanto, dilansir Bangkapos.com dari Kompas.com, Selasa (11/6/2024).

Sesaat setelah ditendang sapi, korban langsung tak sadarkan diri.

Pihak keluarga segera membawa Sugianta ke rumah sakit, namun takdir berkata lain, ia dinyatakan meninggal dunia.

"Dari keterangan medis, korban mengalami cedera serius di bagian dada. Ada bagian tulang (dada) yang patah," ucapnya.

Atas peristiwa ini, pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah.

Korban sudah dikebumikan tak lama seusai dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis.

"Korban dikebumikan pada Jumat (7/6/2024), sehari setelah kejadian nahas tersebut," kata Wasdiyanto.

Mengapa Sapi Mengamuk?

Salah satu momen pada perayaan Idul Adha adalah penyembelihan hewan kurban. Di berbagai daerah, ada sejumlah tantangan ketika penyembelihan hewan kurban.

Ada yang mengamuk, merusak benda di sekitarnya, hingga melukai orang-orang. Misalnya yang terjadi di Salatiga.

Ada juga sapi yang berpura-pura mati ketika hendak disembelih. Bahkan ada yang mengeluarkan air mata seperti orang menangis.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB drh Supratikno menjelaskan, hewan kurban yang memberontak karena mengalami stres.

"Perilaku sapi atau hewan kurban itu dipengaruhi oleh breed atau bangsa hewan, sistem pemeliharaan, serta interaksi hewan dengan manusia," kata Supratikno kepada Kompas.com, Minggu (2/8/2020).

Menurut dia, sapi Bos taurus atau keturunan sapi Eropa seperti Limosin, Simental, Holstein, dan lain-lain umumnya lebih tenang atau kalem.

Sementara itu, sapi Bos indicus seperti Ongol, peranakan Ongol, Brahman, Bali, Madura, dan sapi-sapi Asia lainnya umumnya lebih temperamental.

"Sapi yang dipelihara ekstensif juga lebih penakut dan mudah stress dibandingkan dengan sapi yang dipelihara di dalam kandang," kata dia.

Supratikno menjelaskan, sapi yang pernah mendapatkan perlakuan kasar juga lebih mudah stress dibandingkan sapi yang ditangani dengan baik.

Menurut dia, reaksi sapi akan dipengaruhi oleh ketiga faktor tersebut. Suasana tempat pemotongan yang ramai, banyak orang, tentu akan membuat sapi menjadi stress dan akhirnya mengamuk.

Dia mencontohkan, di suatu daerah, ada polisi yang mencoba memegang sapi, kemudian sapi mengamuk. Sapi berperilaku demikian karena baginya polisi itu adalah orang asing.

"Lha ya iya itu sapi kan habis tertekan di kendaraan. Terus pak polisinya itu kan orang asing bagi si sapi. Ya dia merasa terganggu," kata Supratikno.

Oleh karena itu, menurut Supratikno, penting memperlakukan hewan dengan baik.

Sebaiknya tidak menjadikan sapi sebagai tontonan dan hanya orang yang berkepentingan saja yang ada di lokasi saat penyembelihan.

Hal itu untuk berjaga-jaga karena masyarakat tidak tahu akan seperti apa perilaku sapi merespons situasi yang dihadapinya.

Dia mengatakan, pada sapi yang sudah terbiasa dengan manusia, bisa jadi tidak akan terjadi sesuatu atau tidak terganggu.

Akan tetapi, respons berbeda bisa diberikan oleh sapi liar atau umbaran atau ekstensif. Apalagi, sapi pesisiran yang masih keturunan banteng, maka bisa jadi sapi itu mengamuk karena stress.

(TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia/Tribuncirebon.com/Kompas.com)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved