Selasa, 21 April 2026

Bangka Pos Hari Ini

Tiga Tahun Berkurang 7.670 Hektare, Kawasan Perkebunan Lada Terus Tergerus

Produktivitas Lada Bangka Belitung terus menurun. Hal ini seiring berkurangnya luas lahan perkebunan.

Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com
Bangka Pos Hari Ini, Sabtu (29/6/2024). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Produktivitas Lada Bangka Belitung terus menurun. Hal ini seiring berkurangnya luas lahan perkebunan sebagaimana dicatat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dalam rentang waktu tahun 2021 hingga 2023 saja, lahan perkebunan Lada di Babel berkurang sebanyak 7.670,01 hektare. Penyusutan itu diprediksi bertambah pada tahun 2024 ini.

"Kalau tidak salah sekarang ini tinggal 40-an ribu hektare dari yang sebelumnya 59 hektar. Yang naik itu sawit, kita lihat data statistik sekarang, sawit itu sudah 80 ribu luasnya," kata Kepala DPKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Edi Romdhoni kepada bangkapos.com, Selasa (25/6/2024).

Berdasarkan data DPKP Babel, pada tahun 2021 tercatat sebanyak 49,464.91 hektare lahan perkebunan lada yang ada di Babel. Jumlah itu berkurang sebanyak 4.916,44 hektare di tahun 2022 menjadi 44,548.47 hektare. Begitu juga pada tahun 2023, kembali menurun dengan hanya menyisakan sekitar 41,794.90 hektare lahan perkebunan lada.

Edi mengatakan penurunan itu bukan tanpa alasan. Faktor harga menjadi satu di antaranya. Sementara di lain sisi, harga sawit bisa dikatakan cenderung stabil dan tidak mengalami penurunan yang terlampau jauh.

"Karena selama ini kan sawit yang harganya bagus, sementara harga lada turun. Kalau kita lihat kondisi ini, jadi yang terus meroket terkait luas lahan ini ya sawit, sedangkan lada sama karet selama ini menurun," jelasnya.

Tak hanya tentang harga, Edi menjelaskan ada banyak faktor yang menjadikan lada saat ini kurang dilirik oleh para petani yang ada di Babel.

Kondisi geografis Babel yang kaya akan mineral timah sehingga membuat masyarakatnya banyak beralih untuk menambang dalam dua dekade terakhir ini.

Tak hanya itu, kondisi lahan atau hutan yang semakin menipis juga menjadi faktor kenapa masyarakat mulai minim untuk berkebun lada.

"Sekarang ini kendalanya juga ada di lahan. Dulu masih banyak hutan, sekarang sudah banyak berkurang. Selain itu perusahaan sawit juga sudah banyak yang masuk dan lahan hutan yang dipakai kan juga cukup banyak. Jadi untuk nyari junjung pun sudah susah sekarang," tambah Edi.

Selain itu, faktor dari dalam seperti biaya perawatan lada yang cukup tinggi serta sifat lada yang rentan akan penyakit, juga menjadi alasan kenapa para petani memilih beralih untuk berkebun lain.

"Jadi kalau dari biaya perawatannya juga sudah cukup tinggi, mulai pupuknya, pestisidanya, terus tahu-tahu ladanya banyak yang mati, yang ada kan petani jadi banyak rugi. Itu juga jadi salah satu alasan kenapa sekarang ini masyarakat jadi kurang bertani lada," ungkapnya.

"Sudah harganya murah, pupuk mahal, mana banyak penyakit, makanya orang jadi pindah ke sawit. Makanya luas lahan lada itu banyak pindah ke sawit sekarang. Pun dari petani juga begitu, banyak beralih dari petani lada ke petani sawit," pukasnya.

Padahal sebelum itu, kata Edi, lada memiliki sejarah penting dalam menopang perekonomian masyarakat di Bangka Belitung.

"Kalau kita bicara dulu, andalan kita ya dua tadi, lada dan karet. Orang tua kita dulu hidupnya dari itu semua. Bangunan rumah bagus-bagus, bahkan bisa sampai naik haji, duitnya itu dari lada semua. Makanya kita berharap komoditi ini jangan sampai hilang," kata Edi.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved