Tribunners
Komunikasi, Emosi, dan Etika
Komunikasi merupakan instrumen sosial untuk makin peduli dengan sesama.
Oleh: Dartim Ibnu Rushd - Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta
BEBERAPA waktu lalu, kita disajikan beragam berita yang sempat viral di media massa maupun media sosial. Berita tersebut cukup menyita perhatian publik dan juga bisa dibilang cukup memprihatinkan.
Berita pertama adalah di Mojokerto ada seorang polwan, disebabkan emosinya meluap, ia tega membakar suaminya sendiri. Pada akhirnya membuat suaminya pun meninggal dunia karena luka bakar yang dialami mencapai 90 persen. Itu artinya hampir sekujur tubuh korban terbakar.
Beritanya mengabarkan bahwa alasan kenapa peristiwa itu terjadi adalah karena dipicu oleh kondisi kejiwaan sang polwan yang tidak stabil (emosi). Ternyata sang polwan baru saja melahirkan anak kedua yang kembar. Keadaan ini membuat gejolak emosi tidak stabil dan membuatnya dalam tingkat kelelahan dan stres yang tinggi. Secara psikologis, kondisi ini sering disebut baby blues syndrome.
Alasan kedua, ditambah perilaku suaminya yang gemar menghambur-hamburkan uang untuk judi online. Dua alasan tersebut yang menyebabkan sang polwan berada pada puncak emosi dan kemarahan tertinggi sehingga membuatnya sulit dikendalikan dan dibendung.
Di saat yang sama, ia tidak mampu mengendalikan emosi yang sedang memuncak itu. Yang akhirnya membuat sang polwan gelap mata dan nekat membakar suaminya hingga meninggal dunia. Terbakar emosi hingga membakar suami. Sangat miris, memprihatinkan, dan ironis. Itulah ungkapan yang bisa kita gambarkan dengan kondisi itu.
Adapun berita kedua, beberapa waktu yang lalu kita juga mendengar seorang pemilik rental mobil yang tewas dianiaya oleh sekelompok orang di Kabupaten Pati. Peristiwa itu terjadi karena sang pemilik rental dikira maling mobil oleh warga sekitar yang asalnya karena diteriaki maling oleh beberapa orang sebagai provokator.
Sebenarnya, pemilik rental mobil itu (korban) sedang mencari mobilnya yang sekian lama belum diketahui keberadaannya. Tetapi justru ia tewas oleh teriakan emosi yang tidak terkendali akibat ulah main hakim sendiri oleh sebagian warga. Padahal, kebenaran apakah ia maling atau bukan juga belum diketahui.
Peristiwa tersebut juga cukup memprihatinkan dan sangat ironis karena lagi-lagi harus sampai ada korban yang meninggal. Masalahnya juga sama yaitu dipicu oleh emosi yang tidak dapat dikendalikan.
Selanjutnya, berita yang ketiga yakni kasus penganiayaan terhadap dua remaja di Cirebon pada tahun 2018 (terkenal disebut kasus Vina Cirebon) yang kembali viral gara-gara sebuah film yang mengangkat kejadian tersebut. Kasus itu juga disertai ragam polemik dalam penegakan hukum di baliknya. Berita ini lebih dahulu viral daripada kedua berita sebelumnya.
Terbunuhnya kedua korban diduga dianiaya oleh sekelompok orang dari geng motor juga menjadi salah satu kejadian miris akibat emosi yang terluapkan dan tidak dapat terkendali. Adapun sebab kenapa penganiayaan terjadi, diduga adanya ucapan mengandung provokasi dari dua kelompok geng motor yang saling bergesekan karena suatu hal.
Provokasi itu pun hingga kini belum dapat dipastikan apa alasannya. Tetapi yang jelas sentimen provokasi kepentingan antardua kelompok tersebut telah menyebabkan emosi yang tak terkendali dan akhirnya menyebabkan penganiayaan yang berujung pada jatuhnya korban. Lagi-lagi kita hanya bisa menggelengkan kepala atas peristiwa yang tidak kalah miris dan memprihatinkan ini.
Sama seperti tiga berita sebelumnya, berita yang keempat juga tidak kalah menyita perhatian publik dan cukup memprihatinkan. Akhir Juni lalu ada seorang karyawan pabrik di Tangerang ditemukan telah tewas dibunuh oleh bosnya. Korban ditemukan di gudang salah satu pabrik di Desa Kuta Jaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.
Korban ditemukan dengan kondisi dibungkus terpal berwarna biru dan diikat dengan tali. Setelah dilakukan pendalaman, ternyata motif pembunuhan adalah karena pelaku merasa sakit hati dengan ucapan si korban.
Gejolak emosi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240612_Dartim-Ibnu-Rushd-Dosen-Universitas-Muhammadiyah.jpg)