Rabu, 6 Mei 2026

Berita Belitung

Tim PKM UBB Berhasil Bikin Krim agar Kulit Lebih Awet Muda dari Daun Resam dan Limbah Jeruk Kunci

Pemilihan bahan resam dilakukan karena tumbuhan tersebut dikenal sebagai spesies invasif atau cepat bertumbuh

Tayang:
Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Hendra
IST/Dok Tim PKM UBB
Tim PKM UBB yang mengembangkan krim anti agung berbahan baku tumbuhan resam dan limbah kulit jeruk kunci. 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Bangka Belitung (UBB) berhasil menekstrak daun resam dan limbah kulit buah jeruk kunci menjadi krim anti-aging.

Tim dari Program Studi Kimia Universitas Bangka Belitung (UBB) berpartisipasi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE). 

Tim tersebut terdiri dari empat orang Rian Hidayat sebagai ketua dan beranggotakan Nova Azka Tafdila, Seli Puspita Sari, dan Selly Aulia. Penelitian tersebut dilakukan dalam bimbingan Occa Roanisca. 

Pemilihan bahan resam dilakukan karena tumbuhan tersebut dikenal sebagai spesies invasif atau cepat bertumbuh sehingga berpotensi menghambat perkembangan tanaman lokal lainnya.

Sementara limbah kulit buah jeruk kunci dipilih karena tersedia dalam jumlah besar namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Kedua bahan tersebut pun berdasarkan studi-studi terdahulu terindikasi memiliki aktivitas antioksidan yang potensial.

Terlebih lagi, jeruk kunci diketahui mengandung vitamin C yang cukup tinggi, sehingga memperkuat potensi pemanfaatannya dalam formulasi produk anti-aging.

"Daun resam dan limbah kulit buah jeruk kunci mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, meliputi flavonoid, alkaloid, saponin, steroid, terpenoid, dan tanin. Berdasarkan komposisi fitokimia tersebut, kedua bahan ini memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang dapat berperan dalam mencegah proses penuaan dini pada kulit," kata Ketua Tim Peneliti, Rian Hidayat, Senin (15/7/2024). 

Formulasi krim anti-aging ini pun telah melalui serangkaian pengujian laboratorium terhadap bahan baku tumbuhan tersebut.

Termasuk menilai potensi iritasi melalui uji in vivo dengan menerapkan krim pada area retroaurikular selama periode 14 hari, dengan anggota tim peneliti bertindak sebagai subjek uji.

Dengan demikian, berdasarkan observasi klinis selama periode uji, formulasi krim anti-aging yang dikembangkan tidak menimbulkan efek samping yang signifikan pada area retroaurikular subjek penelitian.

Tidak teramati adanya tanda-tanda kemerahan, gatal, atau gejala iritasi kulit lainnya.

"Temuan ini menunjukkan potensi keamanan kulit dari formulasi yang diuji, meskipun diperlukan studi lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar untuk konfirmasi yang lebih komprehensif," sambungnya. 

Formulasi krim anti-penuaan ini telah memenuhi standar mutu sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 16-6946.2-1998.

Produk pun menunjukkan karakteristik fisikokimia yang optimal, meliputi sifat organoleptik yang sesuai standar dengan konsistensi semi-padat, bebas dari aroma tengik, serta memiliki stabilitas warna dan aroma selama penyimpanan.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved