Minggu, 17 Mei 2026

Berita Viral

Kapan Gempa Megathrust Selat Sunda dan Mentawai Siberut Terjadi?

Zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang berpotensi menimbulkan gempa bumi cukup besar di wilayah itu.

Tayang:
Editor: fitriadi
kompas.com
Selat Sunda. Zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang berpotensi menimbulkan gempa bumi cukup besar di wilayah itu. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, isu kemunculan gempa Megathrust, terjadi karena adanya instensitas yang signifikan di Selat Sunda dan Pantai Selatan Jawa mulai dari Bayah Banten, Sukabumi, Garut hingga Pangandaran.

Terkini gempa magnitude 5,2 tejadi Kamis (15/08/2024) dini hari tadi antara episenter titik gempa Bayah Banten dan Sukabumi.

Sebelum gempa pada Rabu (14/08/2024) pukul 22.54, terjadi gempa magnitude 4,1 di pantai Pangandaran Jawa Barat.

Bahkan pantuan Tribunjabar.id dari akun media sosial @bmkgwilaya2 Banten, update gempa susulan pantai Selatan Jawa hingga saat ini  masih terus terjadi meski dalam intensitas yang sangat kecil.

Menurut Daryono, munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung dengan peristiwa gempa kuat M7,1 yang berpusat di Tunjaman Nankai dan mengguncang Prefektur Miyazaki Jepang.

Namun menariknya, menurut Daryono,  gempa yang memicu tsunami kecil pada 8 Agustus 2024 beberapa hari lalu mampu menciptakan kekhawatiran bagi para ilmuwan, pejabat negara dan publik di Jepang akan potensi terjadinya gempa dahsyat di Megathrust Nankai.

"Peristiwa semacam ini menjadi merupakan momen yang tepat untuk mengingatkan kita di Indonesia akan potensi gempa di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut," katanya.

Sejarah mencatat, gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946 (usia seismic gap 78 tahun), sedangkan gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1757 (usia seismic gap 267 tahun) dan gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797 (usia seismic gap 227 tahun).

"Artinya kedua seismic gap kita periodisitasnya jauh lebih lama jika dibandingkan dengan seismic gap Nankai, sehingga mestinya kita jauh lebih sarus dalam menyiapkan upaya-upaya mitigasinya," tutup Daryono.

Apa Itu Megathrust?

Dilansir dari laman Kompas.com, mekanisme lempeng samudra yang menghujam ke bawah lempeng benua termasuk dalam kategori thrust (mendorong) atau reverse (terbalik).

Karena area yang mengalami tersebut sangat luas, sehingga sering disebut dengan megathrust. Hal ini seperti diungkap analis bahaya gempa dan peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Arifan Jaya Syahbana yang menjelaskan bahwa bertumbuknya kerak samudera dan kerak benua itulah yang menjadikan fenomena megathrust.

Sementara penyelidik geologi muda, Dr. Joko Wahyudiono, S.T., M.T., menjelaskan bahwa definisi megathrust dari sudut pandang geolog berasal dari kata “mega” yang artinya besar dan “thrust” yang artinya sesar sungkup.

Selain itu, Joko juga menyebut bahwa letaknya berada di perbatasan pertemuan continental crust (kerak benua) dan oceanic crust (kerak samudra) dengan kedalaman tidak lebih dari 50 meter.

Lebih lanjut, dikutip dari laman Kompas.com, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG), Daryono, mengungkapkan bahwa megathrust bisa diartikan sesuai dengan kata penyusunnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved