Rabu, 13 Mei 2026

Tribunners

Melestarikan Pusaka Bangsa "Gotong Royong"

Sejak NKRI ini berdiri, api semangat gotong royong selalu berkobar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Chairul Aprizal - Mantan Aktivis PMII Bangka Belitung 

Oleh: Chairul Aprizal - Mantan Aktivis PMII Bangka Belitung

SEKALI merdeka tetap merdeka dan selamanya kita merdeka! Tepat pada 17 Agustus 2024 seluruh masyarakat Indonesia kembali mengingat momen bersejarah sekaligus menggembirakan untuk bangsa. Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-79 Republik Indonesia adalah sejarah bangsa Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai Bangsa yang merdeka dari penjajahan. Menjadi bangsa yang bebas, mempunyai hak yang sama tanpa didominasi oleh kelompok mana pun. 

Sejak NKRI ini berdiri, api semangat gotong royong selalu berkobar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Negeri dengan beragam budaya, beragam etnis/ras/agama, dan beragama kelompok dengan hamparan pulau-pulau yang dipersatukan ini menandakan bahwa gotong royonglah jati diri bangsa. Gotong royonglah simbol dari semangat yang mempersatukan perbedaan beragam ini.

Hingga deklarasi kemerdekaan Republik Indonesia didengungkan ke seluruh penjuru negeri melalui kabar proklamasi hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945, yang dibacakan langsung oleh Soekarno dengan didampingi oleh Mohammad Hatta di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat. Naskah proklamasi yang diketik oleh Sayuti Melik itu sudah didengar langsung oleh seluruh rakyat Indonesia, sekaligus menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia, dan mengusir hegemoni para penjajah dari bumi pertiwi.

Gotong royong adalah warisan leluhur bangsa yang tidak boleh ditinggalkan oleh anak cucu negeri. Indonesia sebagai bangsa yang besar berkat adanya semangat gotong royong inilah sebagai pusakanya. Historisnya penjajahan angkat kaki dari tanah air berkat gotong royong rakyat Indonesia yang bersatu. Mantan Wakil Presiden RI, Boediono, pernah mengatakan dalam pidatonya saat memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni 2013 bahwa Pancasila sebagai ideologi negara memiliki satu asas yakni asas gotong royong. 

Historis gotong royong di Indonesia

Dalam sejarahnya, masyarakat sudah menjadikan gotong royong sebagai mahakarya milik Indonesia yang ada sekitar tahun 1800-an. Ketika bangsa-bangsa Eropa menginjakkan kakinya di negeri ini, masyarakat Indonesia bergotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan untuk kepentingan umum, misalnya memperbaiki saluran irigasi. 

Semangat gotong royong yang diterapkan oleh penguasa lokal dan maharaja pada masa itu telah membangun banyaknya candi di Indonesia. Pada abad ke-10 tanpa adanya bantuan tenaga yang bahu-membahu dari berbagai golongan seperti sudra, kawula, waisya, dan brahmana mustahil akan terbangun candi-candi yang hingga sekarang berdiri kokoh. 

Sejak masuk era kesultanan Islam, semangat gotong royong terus hidup di sanubari negeri ini. Bentuk gotong royongnya adalah zakat, wakaf, dan sedekah. Meskipun berbeda bentuknya, tetapi semangatnya tetap gotong royong. Zakat diberikan kepada orang yang membutuhkan diperoleh dari sebagian harta orang yang mampu. Sebab asumsinya sebagian dari harta orang lain ada hak orang lain pula. 

Di masa kolonial Belanda, gotong royong menyala dalam artikulasi yang berbeda di bidang bisnis. Salah satu dari pelopornya adalah Dwijosewojo, seorang pendiri Boemipoetera. Boemipoetera adalah asuransi pertama anak negeri pada tahun 1912. Asuransi yang lahir dari semangat gotong royong bukan seperti perseroan terbatas. 

Indonesia sempat dilanda bencana kesehatan dengan masuknya virus Covid-19. Namun, semangat gotong royong membuat Indonesia berhasil memutus mata rantai penularan virus covid-19 dengan bergerak bersama percepatan vaksinasi Covid-19 dan bahu-membahu mengendalikan penularannya.

Hari Ulang Tahun Ke-79 Kemerdekaan RI hendaklah menyalakan kembali api gotong royong yang dikhawatirkan bisa saja luntur dengan modernisasi. Era globalisasi yang mengakibatkan akulturasi dan asimilasi kearifan lokal negeri ini memengaruhi semangat kesetiakawanan sosial dan gotong royong karena masyarakat cenderung individual dan apatis. Melestarikan pusaka bangsa Indonesia sangatlah tepat rasanya di momentum kemerdekaan ini.

Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya secara historis semata. Selain melaksanakan upacara pengibaran bendera Merah Putih, perlombaan-perlombaan kemerdekaan, parade, pawai/karnaval, dan ziarah ke makam pahlawan, perayaan kemerdekaan ini dapat memberi makna dengan kegiatan gotong royong. Pemberdayaan masyarakat bekerja bakti membersihkan lingkungan, bergotong royong membersihkan lingkungan tempat ibadah seperti masjid misalnya, atau fasilitas umum lainnya yang manfaatnya dapat dipakai untuk kepentingan umum. Bergotong royong sekaligus melestarikan budaya leluhur bangsa agar tidak luntur. Menjaga DNA nenek moyang kita agar terus hidup di dalam jati diri bangsa. (*) 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved