Senin, 11 Mei 2026

Tribunners

Tren Freestyle yang Mengancam Masa Depan Anak

Tren datang dan pergi, namun keselamatan dan kesehatan anak adalah hal yang abadi dan tak ternilai harganya.

Tayang:
Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Eqi Fitri Marehan
Eqi Fitri Marehan S.I.Kom. - Guru MTsS Plus Bahrul Ulum Sungailiat 

Oleh: Eqi Fitri Marehan S.I.Kom. - Guru MTsS Plus Bahrul Ulum Sungailiat

DI era media sosial, tren atau tantangan viral sering kali dengan mudah menyebar dan ditiru oleh siapa saja, tak terkecuali anak-anak usia sekolah. Salah satu fenomena yang belakangan ini mengundang kekhawatiran serius di kalangan pendidik dan orang tua adalah tren yang disebut "freestyle".

Gerakan freestyle tampak menarik, keren, dan penuh keahlian akrobatik, namun di balik penampilan yang memukau itu, tersembunyi risiko bahaya yang nyata dan mengancam keselamatan jiwa anak-anak kita. Peringatan keras yang disebarkan melalui poster imbauan menjadi bukti bahwa kita tidak boleh menganggap tren ini sebagai hal sepele atau sekadar permainan biasa, karena dampaknya bisa merusak masa depan generasi penerus bangsa ini selamanya.

Freestyle pada dasarnya adalah gerakan akrobatik di mana anak-anak menumpukan seluruh berat tubuh mereka pada kepala dan leher, dengan posisi tangan sebagai penyangga tambahan. Gerakan ini sering kali dilakukan dengan variasi dan gaya yang beragam, membuatnya terlihat seperti seni bela diri atau atraksi keren.

Namun, yang sering luput dari perhatian adalah fakta bahwa struktur tulang dan otot anak-anak belum tumbuh sempurna dan sekuat orang dewasa. Kepala manusia, yang beratnya cukup besar, ditopang oleh tulang belakang leher yang rentan dan berisi saraf-saraf penting yang menghubungkan otak ke seluruh tubuh. Ketika posisi ini dijadikan tumpuan utama, apalagi dilakukan dengan gerakan berputar, melompat, atau tanpa latihan serta pengawasan yang benar, risiko cedera menjadi sangat tinggi dan mengerikan.

Seperti yang tertulis jelas dalam peringatan tersebut, bahaya yang mengancam bukanlah main-main: mulai dari cedera parah pada kepala dan leher, patah tulang, hingga risiko kelumpuhan permanen yang membuat anak tidak bisa beraktivitas seumur hidup. Yang paling mengerikan, dalam kasus yang kurang beruntung, gerakan ini bahkan bisa berakhir fatal dan merenggut nyawa.

Kita mungkin sering mendengar anggapan bahwa "anak-anak itu lentur dan kuat", tetapi anggapan ini justru salah besar dan sangat berbahaya. Tubuh mereka memang masih bertumbuh, namun justru karena itulah tulang dan persendian mereka jauh lebih rentan terhadap tekanan berlebih atau gerakan yang tidak wajar. Cedera yang terjadi pada masa kanak-kanak sering kali meninggalkan dampak jangka panjang yang akan mereka derita hingga dewasa.

Kisah nyata yang terjadi di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, harus menjadi peringatan keras bagi kita semua. Seorang siswa kelas 4 di SDN 11 Biau harus mengalami patah tulang dan dirawat di rumah sakit, diduga kuat akibat meniru gerakan berbahaya ini. Kita bisa membayangkan rasa sakit yang ia derita, ketakutan yang dirasakan anak tersebut, serta kesedihan mendalam orang tua yang melihat anaknya terbaring lemah di ranjang rumah sakit hanya karena meniru tren yang dianggap seru.

Ini bukan kejadian terisolasi; laporan serupa mulai bermunculan di berbagai daerah, menandakan bahwa bahaya ini sudah menyebar luas dan mengancam banyak sekolah di seluruh Indonesia.

Masalah utama yang kita hadapi adalah pola pikir "menganggap sepele". Banyak orang tua, guru, maupun anak-anak sendiri berpikir bahwa ini hanya tren sesaat, hanya iseng-iseng berhadiah, atau hanya permainan biasa yang tidak mungkin membahayakan. Padahal, beda dengan permainan lain, freestyle melibatkan risiko kerusakan fisik yang permanen. Tidak ada istilah "hampir celaka" dalam hal ini—salah sedikit saja posisi tubuh tergelincir atau kehilangan keseimbangan, konsekuensinya langsung serius.

Media sosial memainkan peran besar di sini: apa yang terlihat di layar ponsel sering kali hanya menampilkan sisi seru dan kerennya saja, tanpa pernah menampilkan sisi kelamnya, yaitu anak-anak yang terluka, lumpuh, atau meninggal dunia akibat meniru hal yang sama.

Oleh karena itu, tanggung jawab ada di tangan kita semua. Orang tua memiliki peran utama untuk mengawasi aktivitas anak, baik di rumah maupun saat mereka bermain di luar. Kita harus lebih peka terhadap apa saja yang mereka tonton di internet, apa yang sedang populer di kalangan teman-temannya, dan apa saja gerakan yang mereka lakukan saat bermain.

Sering kali anak-anak tidak memahami risiko yang mereka ambil karena rasa ingin tahu dan keinginan untuk terlihat keren di mata teman-temannya sangat besar. Di sinilah peran pendidikan: orang tua dan guru wajib memberikan pemahaman yang jelas, bahasa yang mudah dimengerti, namun tegas, mengenai bahaya apa yang mengancam jika mereka nekat melakukannya.

Pihak sekolah juga memiliki peran sangat besar. Sebagai tempat anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya, sekolah harus menjadi lingkungan yang aman dan terkontrol. Guru harus aktif memantau apa yang dilakukan siswa saat jam istirahat, memberikan penyuluhan kesehatan dan keselamatan secara berkala, serta melarang keras segala bentuk gerakan atau permainan yang berisiko membahayakan fisik.

Sekolah bukan hanya tempat mencerdaskan otak, tetapi juga tempat menjaga keselamatan dan kesehatan jasmani siswa. Ketika ada siswa yang ketahuan meniru tren ini, penanganan tidak boleh sekadar dimarahi, namun juga diarahkan dengan edukasi yang mendalam agar mereka sadar bahayanya.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved