Tribunners
Karya Guru dan Masa Depan Indonesia
Keikutsertaan guru dalam gerakan literasi masyarakat adalah salah satu cara untuk menerapkan aksi nyata di masyarakat.
Oleh: Al Iklas Kurnia Salam - Guru Bahasa Indonesia di SMA Plus Cordova Banyuwangi
JAUH sebelum didaulat sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara pernah membuat karya agung yang berhasil menggetarkan kokohnya belenggu penjajahan Belanda. Karya monumental itu berbentuk esai berjudul “Seandainya Aku Orang Belanda.”
Karya tulis itu merupakan sebentuk gugatan Ki Hajar atas arogansi pemerintahan kolonial yang merayakan kemerdekaan mereka di negeri jajahan. Ki Hajar menganggap perayaan kemerdekaan Belanda ke-100 tahun itu adalah bentuk penghinaan fisik maupun mental pada rakyat Indonesia.
Bayangkan, bangsa Indonesia yang hidup dalam iklim penjajahan, dipertontonkan indahnya kemerdekaan oleh sang bangsa penjajah. Mirisnya, selain dipaksa menonton manisnya perayaan kemerdekaan, rakyat Indonesia juga dimintai iuran untuk memuluskan agenda seremonial tersebut.
Ki Hajar mengecam acara seremonial kemerdekaan itu dalam kalimat satir: "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu” (Belenggu Ganas 1982:18).
Karya berjudul asli “Als Ik eens Nederlander was” merupakan puncak perjuangan Ki Hajar dalam dunia pergerakan nasional. Karya epik tersebut mewakili semangat perjuangan, nasionalisme, dan kesadaran kebangsaan rakyat yang sedang tumbuh.
Masyarakat elite Indonesia yang sudah mendapatkan pendidikan ala Eropa berhasil menyelami semangat nasionalisme melalui observasi realitas penjajahan yang terjadi. Mereka sadar akan adanya kesengsaraan rakyat akibat hadirnya sistem kolonialisme.
Selain Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka juga pernah membuahkan karya monumental dalam bidang pendidikan. Ia pernah mendirikan sekolah rakyat (SI Onderwijs/Sekolah SI) yang efektif membangun bukan hanya kecerdasan, tetapi juga jiwa merdeka buat anak-anak Indonesia.
Bonnie Triyana dalam artikel berjudul Sekolah Ala Tan Malaka (2014) menjelaskan sekolah itu didirikan untuk kalangan buruh di Kota Semarang. Sekolah itu menawarkan kurikulum pembebasan yang mengajarkan berhitung, ilmu bumi, menulis, bahasa Jawa, Bahasa Belanda, ilmu organisasi, dan kepekaan sosial.
Dengan berbagai bekal tersebut, Tan Malaka berharap akan ada perubahan sosial bagi kalangan buruh di masa depan. Setidak-tidaknya anak-anak buruh bisa memiliki masa depan lebih cerah dengan hadirnya sekolah alternatif tersebut.
Karya dua tokoh pendidikan di atas menandakan bahwa perjalanan bangsa ini diukir dari dan oleh para guru. Para guru menorehkan karya emas mereka untuk merajut masa depan bangsa yang lebih gemilang.
Lalu bagaimana dengan kondisi kita hari ini? Kontribusi seperti apakah yang bisa diberikan guru agar kita bisa menggapai Indonesia Emas 2045? Mari kita bahas dengan lebih spesifik.
Kontribusi Guru Masa Kini
Gagasan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim terkait Kurikulum Merdeka (Kumer) membuka ruang bagi para guru untuk berkarya dan berkreasi. Guru-guru didorong untuk bereksperimen dalam bentuk pendidikan berbasis projek.
Harapannya para siswa mendapat kesempatan lebih besar untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning). Siswa didorong agar tidak hanya cerdas dalam prestasi akademik saja, tetapi juga mempunyai soft skill yang dibuktikan lewat panen karya.
Di sisi lain, perkembangan media sosial membuat para guru bisa lebih berperan aktif dalam perubahan sosial. Guru-guru kreator konten adalah produser banyak kebaikan sosial dalam masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240505_Al-Iklas-Kurnia-Salam-Guru-SMA-Plus-Cordova-Banyuwangi.jpg)