Tribunners
Gen Z Harus Berani Berbisnis
Membuka usaha memungkinkan gen Z bisa mengejar passion mereka. Banyak dari mereka lebih memilih untuk bekerja di bidang yang mereka cintai.
Oleh: drh. Yulia Fitriani, M.M. - Dosen Fakultas Ekonomika & Bisnis Universitas Pertiba
SETIAP masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Waktu terus berputar dan tahun terus berganti, maka generasi demi generasi lahir ke dunia. Menurut KBBI, pengertian generasi adalah masa orang dalam satu angkatan. Generasi bisa diartikan sebagai kelompok orang yang lahir dalam rentang waktu tertentu dan mengalami peristiwa serta perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang sama. Setiap generasi memiliki karakteristik, nilai, dan pandangan yang dipengaruhi oleh apa yang mereka alami.
Dalam peradaban kehidupan manusia ada yang disebut generasi tradisionalis yang lahir sebelum tahun 1945, di mana generasi ini memiliki karakteristik menghargai nilai-nilai keluarga dan tradisi. Setelah itu datang generasi baby boomers yang lahir antara tahun 1946-1964, karakteristiknya dikenal sebagai generasi yang optimistis dan ambisius, mereka menyaksikan pertumbuhan ekonomi setelah perang dunia ke-2. Selanjutnya digantikan oleh generasi X yang lahir di antara tahun 1965-1980, generasi ini sering kali dianggap skeptis dan mandiri, mereka tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi.
Kemudian lahir generasi milenial antara tahun 1981-1996. Generasi ini sangat akrab dengan teknologi, menghargai pengalaman, dan mencari makna dalam hidup serta kreatif dan kolaboratif. Selanjutnya adalah generasi Z (gen Z) yang lahir antara tahun 1997-2012. Generasi ini dikenal sebagai generasi yang sangat terpapar teknologi sejak lahir, aktif dalam media sosial, dan lebih peduli terhadap isu-isu global seperti perubahan iklim. Saat ini datang generasi alpha yang lahir dari tahun 2013 sampai sekarang. Generasi ini dikenal sebagai generasi yang paling terhubung dengan teknologi dan sering kali menggunakan alat digital sejak usia dini.
Gen Z berada di persimpangan antara perubahan sosial yang cepat dan perkembangan teknologi yang pesat. Pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial membuat gen Z menjadi generasi yang sangat menarik untuk dikaji, terutama dalam konteks persiapan mereka menghadapi masa depan.
Seiring berjalannya waktu, Indonesia akan berada pada puncak periode bonus demografi. Presiden Jokowi pernah mengingatkan dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR pada 15 Agustus 2023 lalu, bahwa bonus demografi Indonesia akan mencapai puncaknya pada tahun 2030-an. Diperkirakan saat itu terdapat sekitar 68 persen penduduk Indonesia berada dalam usia produktif. Penduduk usia produktif adalah penduduk yang masuk dalam usia antara 15-64 tahun, di mana pada usia tersebut dianggap sudah mampu menghasilkan barang maupun jasa.
Dari hasil Sensus Penduduk 2020 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z dan generasi milenial. Proporsi generasi Z sebanyak 27,94 persen dari total populasi dan generasi milenial sebanyak 25,87 persen dari total populasi Indonesia.
Badan Pusat Statistik juga menyebutkan bahwa dari sisi demografi, pada tahun 2020 seluruh generasi X dan milenial merupakan penduduk yang berada pada kelompok usia produktif, sedangkan gen Z masih ada pada usia belum produktif. Sekitar tahun 2027, seluruh gen Z sudah terhitung penduduk usia produktif. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia, baik saat ini maupun masa yang akan datang. Karena generasi inilah nantinya yang akan menjadi pemeran utama dalam menentukan masa depan Indonesia.
Indonesia saat ini merupakan negara berkembang dengan jumlah populasi penduduknya di urutan ke-4 terbanyak di dunia. Bonus demografi membuat sumber daya manusia (SDM) Indonesia melimpah. Potensi ini sangat diharapkan bisa menjadi pendorong untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Indonesia memiliki visi ingin berada di puncak kejayaan serta menjadi negara maju pada tahun 2045, bertepatan dengan seratus tahun kemerdekaan. Dalam visi itu terdapat empat pilar pembangunan yaitu: 1. Pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi; 2. Pembangunan ekonomi berkelanjutan; 3. Pemerataan pembangunan; serta 4. Pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola kepemerintahan.
Bonus demografi bisa menjadi anugerah jika dikelola dengan baik, tetapi juga bisa menjadi bencana jika tidak dikelola dengan baik. Gen Z yang mayoritas pengisi bonus demografi ini mempunyai tanggung jawab besar di pundaknya untuk menciptakan sejarah baru Indonesia Emas. Jelas mengemban tanggung jawab ini bagi gen Z tidaklah mudah, karena tantangan demi tantangan sudah menanti di depan mata.
Tantangan gen Z
Baru-baru ini video yang viral memperlihatkan antrean pelamar kerja di sebuah warung seblak membeludak. Video diunggah oleh akun TikTok @tenihartati10 pada 17 Mei lalu, terlihat orang-orang mengenakan pakaian rapi dan di antaranya membawa map cokelat. Diketahui kejadian tersebut terjadi di warung seblak di pasar Sindangkasih, Ciamis, Jawa Barat.
Video viral lainnya menunjukkan sejumlah pelamar kerja sedang antre membuat barisan di trotoar jalan. Terlihat dalam video, perekam video sedang berada di atas kendaraan yang berjalan sambil memperlihatkan antrean yang sangat panjang. Video tersebut diunggah oleh akun Tiktok @visit.cianjur dengan caption “Antrian para pelamar kerja Rabu (7/2/24) di Cianjur pagi ini panjang banget”.
Video-video itu gambaran nyata bahwa kondisi generasi muda saat ini sedang tidak baik-baik saja dalam mendapatkan pekerjaan. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional Februari 2024, sebanyak 7,2 juta orang Indonesia berstatus pengangguran. Dari total tersebut gen Z (usia 15-24 tahun) yang menganggur tahun ini mencapai 3,6 juta orang. Artinya, gen Z menyumbang sekitar 50 persen dari total pengangguran terbuka di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241015_Yulia-Fitriani.jpg)