Opini
Dari Santri untuk Negeri
Santri jarang sekali neko-neko atau berbuat hal yang jauh dari kebajikan dan kemaslahatan. Santri, tegas Gus Men, bisa jadi presiden, menteri,...
Oleh: Masmuni Mahatma - Kakanwil Kemenag Propinsi Kep. Bangka Belitung
TANPA santri, Indonesia mungkin tak sekuat ini. Peran santri memang tidak bisa diabaikan dalam konteks historisitas kebangkitan Indonesia. Santri-santri sedari dulu selalu berada di garis depan membela dan mengawal harkat serta martabat bangsa. Mereka tidak saja fokus mengaji dan menempa diri melalui tradisi keilmuan keagamaan. Santri-santri terlibat nyata dalam pelbagai kejuangan memerdekakan negeri dari cengkraman kaum penjajah. Cermati Perang Jawa yang dijendrali Pangeran Diponegoro, Perang Padri yang dikomandoi Tuanku Imam Bonjol, Gerakan Bung Tomo di Surabaya yang dibajai “Resolusi Jihad” Mbah Hasyim Asy’ari, Bandung Lautan Api, bahkan penumpasan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (PKI).
Santri-santri dengan keterbatasan dan kelebihannya, tidak pernah absen berjihad untuk Indonesia. Mereka tiada henti dan tanpa banyak basa-basi menghibahkan jiwa raga demi eksistensi Indonesia. Kejuangan santri adalah kejuangan tanpa pamrih. Kejuangan yang didasarkan ketulusan berkhidmad dan bermakmum di belakang kiai-kiai. Santri pasti akan terpanggil secara moralitas, mentalitas, akuntabilitas, dan kohesifitas demi menyehatkan sekaligus mendampingi gerak laju peradaban bangsa ini. Bersama kiai, santri terus menemukan jalan hidmad dan ruang ekspresi baik menyangkut sosial keagamaan, sosial budaya, sosial ekonomi, sosial politik dan terutama mengenai integrasi ideologi Pancasilaistik.
Tak berlebihan kalau ada sebagian elit intelektual bangsa ini yang menyebutkan bahwa santri-santri sejatinya adalah “pemegang saham” republik religius ini. Mereka bukan semata asset negeri kaya rempah, melainkan penentu jalan terang dan kokohnya bangsa Indonesia. Dari pesantren santri begitu tulus mendoakan, memotret, melukis, dan mendandani Indonesia. Setidaknya melalui subur-kembangnya nilai-nilai religius berbasis kemandirian, kesederhanaan, kebersahajaan, dan kejujuran yang terus diteladankan melalui berbagai jalur sosial. Terlebih dari para kiai-kiai yang mendidik, membimbing, dan membesarkan mereka penuh barokah dan karomah.
Menjadi Apa Saja
Santri itu, kata Gus Men (sapaan akrab Gus Yaqut Cholil Qoumas), Menteri Agama yang energik dan inovatif, karena kejujuran dan keteladanannya bisa menjadi apa saja yang maslahat. Santri jarang sekali neko-neko atau berbuat hal yang jauh dari kebajikan dan kemaslahatan. Santri, tegas Gus Men, bisa jadi presiden, menteri, dosen, guru, saudagar, musisi, penyair, budayawan, seniman, arsitek, politisi, apalagi kiai. Ruang dan peran santri senantiasa cukup terbuka lebar, menggembirakan, membanggakan, dan cepat mendewasakan kemanusiaan. Sebab santri senantiasa hidup bersayap dan bermandikan barokah. Di pesantren mereka belajar ilmu sekaligus mendalami keluhuran hidup sebagai hamba.
Menjadi apa saja tidak boleh diartikan sempit. Sebaliknya, mesti dimaknai dan ditempatkan secara rasional, logis, luas, luwes, dan menggugah. Dari kesederhanaan, santri sering kali nyaman dengan apa adanya menjalani dan mengkreasikan sosial kehidupan. Yang penting tidak mengurangi harkat dan martabatnya sebagai santri; pengabdi terhadap kiai, keumatan, dan amanah nabawiyah atau moralitas kenabian. Bahkan mendaulatkan diri sebagai santri telah menjadi cita-cita maupun ideologi bagi sebagian keluarga yang dibesarkan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai pelosok negeri ini. Fenomena ini rasanya sulit dibantah, bukan karena sedemikian membumi, tetapi memang apa adanya. Bukan rekayasa atau melebihkan.
Mayoritas umat berhaluan Islam Nahdlatul Ulama (NU), selalu lebih bangga dan tenang serta damai lahir batin kalau anak-anak mereka belajar di pondok pesantren. Sebuah institusi pendidikan tertua yang cukup mencerahkan rasionalitas dan spiritualitas. Yang tanpa disadari terkadang sedemikian matang merapikan pola pikir, tata laku, dan orientasi berkehidupan pribadi-pribadi santri atasnama kehambaan. Ini salah satu keistimewaan yang santri raih sepanjang menempa diri dan menyelami pembekalan ilmu maupun training hidup di lingkungan pondok pesantren. Semangat luhur ini jua yang terus memantik sebagian besar orang tua mempercayakan putra-putrinya masuk pondok pesantren.
Tak berlebihan kalau banyak santri yang lulus dari pondok pesantren tidak pernah ciut menghadapi, mendekati, mengakrabi, dan memangku kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ilmu-ilmu yang santri peroleh di pesantren tentu tidak seberapa. Mungkin lebih banyak terbilang apa adanya. Namun demikian, ilmu yang sedikit atau apa adanya itu lantaran dilumasi ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, kebersahajaan, membuat Allah lebih cepat mengalirkan hidayah, inayah, pahala, dan anugerah tak terduga. Sehingga barokah dari kiai-kiai pendamping secara edukatif lahir batin mengalir deras, membuahkan kemaslahatan, dan menggelontorkan kesuksesan hidup di luar prediksi. Indah dan menakjubkan.
Pejuang Kebangsaan
Santri, dalam perspektif keumatan, adalah pejuang kebangsaan. Betapa tidak, terutama sejak dari pesantren mereka mempelajari hal-hal yang langsung berkait dengan konstruksi kebangsaan siang malam. Kitab-kitab (teoritis) klasik mereka telaah, ilmu-ilmu (praktis) yang dikategorikan modern pun tidak mereka abaikan. Santri-santri hidmat dalam mencerna, menginternalisasi, dan mentransformasi tanpa terjebak pada tarikan-tarikan tendensi parsialistik. Sepanjang kiai-kiai teladan mereka tidak mengeluarkan “arahan tajam” untuk berbelok kanan dan kiri atau maju dan mundur, santri-santri senantiasa hidmat dalam belajar sekaligus menjadi pembelajar.
Sebagai pejuang kebangsaan, tentu saja mayoritas santri tahu nilai-nilai, spirit, orientasi, dan arah yang mesti dituju serta dikembangkan. Perlahan mereka memetakan bekal sosial dan modal spiritual yang hendak dibawa selama kejuangan berkebangsaan. Sebab kata Gus Dur, kualitas santri akan teruji betul-betul baik atau tidak itu bukan selama di pondok pesantren, melainkan ketika sudah kembali hadir utuh di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Bahkan dalam konteks ini pula, ilmu santri akan dimaknai manfaat atau tidak sama sekali akan mendapatkan ruang eksploratif-edukatif-transformatifnya. Di sini uji tanding kapasitas santri tersuguhkan. Dari sini pula nyali santri untuk menjadi apa saja seperti disinyalir oleh Gus Men akan terlihat.
Bahwa era Presiden Jokowi santri memperoleh momentum sejarahnya, yakni Peringatan Hari Santri tiap tanggal 22 Oktober, bukan hal yang tiba-tiba atau ujuk-ujuk. Bukan tanpa pijakan. Ada akar historis yang tidak bisa dipangkas dan ditutupi, baik oleh mata lahir maupun penglihatan batini. Dalam perjuangan memerdekakan bangsa ini juga banyak andil santri yang tidak bisa dipandang sentimentil, cucuran keringat dan darah santri masih cukup terekam dengan baik. Terlebih negara memang tidak punya hak mencegah dan membatasi aspirasi santri, elemen generatif kebangsaan yang prospektif. Momentum 22 Oktober ini, konsekuensi proporsional dari “kejuangan luhur” yang santri hibahkan kepada negara sejauh ini.
Inilah hari kemenangan santri. Mari kita siapkan dan suguhkan perayaan sebaik dan semaksimal mungkin bagi kaum santri. Besar harapan potensi, kreasi, inovasi, dedikasi, militansi, dan proyeksi santri demi menata sekaligus menyambut masa depan bangsa semakin konstruktif-produktif dan progresif-implementatif. Bahkan kualifikasi, kompetensi, dan redistribusi peran-peran strategis santri dapat terus difasilitasi tanpa banyak didisorientasi atau direduksi. Sehingga kaum santri senantiasa siaga berdikari untuk keharmonisan maupun kejayaan negeri. Atau setidaknya ruang-ruang sosial kebangsaan kian dihiasi, diparfumi, diintegrasi, dan dijiwai nilai-nilai luhur intelektual, spirit moral, dan loyalitas imani-wathaniyah berbasis kesantrian. Sebab jika santri bermutu, Indonesia pasti maju. Santri penuh prestasi, Indonesia tangguh dan bertaji. (*/)
| Menuju Kedaulatan Energi: Siapa Memimpin, Siapa Menonton? |
|
|---|
| Klausula Choice of Law: Antara Kepastian Hukum dan Potensi Ketidakadilan dalam Kontrak Internasional |
|
|---|
| Indonesia Dalam Priority Watch List: Peringatan Serius Bagi Perlindungan Haki |
|
|---|
| Tambang llegal, Alam Hancur, Negara Absen |
|
|---|
| Penegakan Hukum di Balik Kilau Timah di Bangka Belitung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)