Bangka Pos Hari Ini
Bertahan di Ketinggian 395 MDPL, Perjuangan Petani Babel Menanam Lada Putih
Suara deru mesin sepeda motor terdengar seakan menjerit. Hal itu seiring tarikan gas yang dilakukan pengendaranya.
BANGKAPOS.COM, BANGKA – Suara deru mesin sepeda motor terdengar seakan menjerit. Hal itu seiring tarikan gas yang dilakukan pengendaranya. Bukan karena ingin cepat tiba di tujuan, pria itu memacu kendaraan roda duanya menaiki Kawasan Bukit Mangkol, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Setiap hari Hendri menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 25 kilometer dari tempat tinggalnya di Desa Air Mesu. Jalan berliku dan tanjakan yang terbilang curam dilaluinya. Ditambah lagi berjalan 500 meter dari tempatnya memarkir sepeda motor untuk tiba di kebun lada yang berada di ketinggian 395 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Perjuangan Hendri tak berhenti sampai di situ. Dia memberikan perhatian ekstra untuk merawat 600 batang Lada yang ditanamnya di kebun. Dua tahun berlalu, Hendri harus menelan pil pahit. Dia hanya bisa mendapat panen sebanyak 30 kilogram dari 600 batang Lada tersebut. Seharusnya, 1 batang lada tersebut dapat menghasilkan lada sebanyak 1 kilogram dalam sekali panen.
"Faktor cuaca, sekarang kan cuacanya dak menentu, kadang panasnya lama, kadang hujannya yang lama, jadi mudah mereka (lada-red) tadi terkena penyakit," ujar Hendri saat ditemui di kebun ladanya di Bukit Mangkol pada Rabu (4/12/2024).
Hendri merupakan satu di antara petani Lada di Babel yang masih bertahan. Awalnya dia berharap 600 batang Lada yang ditanam dan dirawat sejak dua tahun lalu itu bisa menjadi ladang rezeki bagi keluarganya di kala ekonomi Babel yang sedang sulit. Apalagi mengingat harga jual Lada yang saat ini dalam tren positif, yakni berada di rentang Rp120 ribu sampai Rp130 ribu.
"Padahal sebelum masuk musim panen saya sudah kepikir dapetnya kira-kira berapa, uangnya nanti saya putar kemana. Cuma tahu-tahu gagal panen, rugi besar ya yang ada," ucapnya sambil tersenyum.
Untuk itu, apa yang menjadi kegagalannya saat ini, menjadi alarm tersendiri bagi dirinya apakah akan kembali menanam lada atau tidak untuk ke depan. "Tetap nanam, cuma kayaknya udah dak banyak lagi. Soalnya takut juga kelak gagal panen lagi, duit lah keluar banyak hasilnya dak seberapa," ujarnya.
Belum lagi sifat harga lada yang tak menentu alias dapat terjun bebas di pasaran, membuat dirinya juga dilema apakah akan kembali jor-joran dalam menanam lada kembali.
"Terus masalah harga ni sebenernya juga buat kami takut-takut. Oke mungkin tengah ni harganya bagus, kami petani jadi niat nanam. Cuma siapa yang tahu pas kami panen nanti harganya anjlok lagi (di bawah Rp100 ribu-red). Itu yang sebenernya juga buat kami bimbang," ungkapnya.
Berbagi dengan Sawit
Serupa disampaikan Nomi, petani Lada yang masih bertahan di Desa Air Mesu Timur. Ia menerangkan, produksi lada yang ia tanam saat ini sudah banyak berbeda dibandingkan masa dulu.
"Dulu waktu saya masih bujang, luar biasa kalau yang namanya nanam lada. Lahan semua tu isinya lada semua pokoknya," ujar Nomi.
Namun karena faktor harga lada yang rendah, rentan terkena penyakit, dan hadirnya komiditi kelapa sawit sebagai penunjang baru ekonomi bagi masyarakat, rupanya ikut mendorongnya untuk mulai mengurangi produksi lada dari tahun ke tahun.
"Kalau kebanyakan orang pas sudah tahu sawit, sudah langsung lepas dari lada, langsung beralih ke sawit semua. Tapi kalau saya tidak, saya tetap nanam, cuma memang lah dak sebanyak dulu lagi," ungkapnya.
Itu pun kata Nomi, lahan yang ia gunakan untuk menanam lada semasa dulu sudah ditanam dengan kelapa sawit. "Jadi lahan ladanya tadi sudah saya pakai buat kebun sawit. Cuma saya akali lagi biar lada itu masih ada, saya tumpang sari di sela kebun sawit tadi," jelasnya.
Nomi menjelaskan, alasan ia masih menanam lada sebenarnya tak sepenuhnya untuk dijadikan sebagai penunjang ekonomi bagi keluarganya, melainkan untuk melestarikan komoditi yang memang sudah menjadi warisan baginya selaku warga asli Bangka Belitung.
"Kalau ditanya motivasi, sebenarnya dak sepenuhnya tentang duit ya. Tapi lebih ke melestarikan warisan nenek moyang kita ini. Karena nanam lada ni memang lah jadi budaya masyarakat kita dulu kan. Jadinya sayang kalau sampai lada kita ini hilang," ujarnya.
Meski begitu, sama dengan Hendri, ia juga berharap agar harga lada di Babel dapat konsisten agar tak menjadi bumerang bagi mereka para petani jika sewaktu-waktu harganya kembali anjlok.
"Utamanya di harga ya. Harga pupuk, harga bibit sejauh ini memang masih mahal, jujur sebenarnya kita para petani juga agak keberatan. Tapi, kalau harga jual ladanya konsisten, para petani pastinya tetep serius buat nanam, karena ada jaminan harga tadi. Nah, itu yang kalau bisa macam mana caranya, harganya itu dapat konsisten kayak harga sawit," pukasnya.
Tidak ada lahan
Sainah (71), petani Lada di daerah Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah, bersyukur masih menikmati harga jual lada di angka Rp120.000 belum lama ini. Namun, dia menyebut harga jual itu belum mampu membangkitkan minatnya untuk bertanam lada.
“Mau nanam juga udah enggak ada lahannya, sudah ditanami sawit,” kata Sainah, Selasa (3/12/2024).
Kondisi itu ditambah trauma Sainah yang sempat gencar menanam Lada saat harga jual menyentuh angka Rp200.000 per kilogram. Namun, saat dia akan panen, harga jual justru anjlok.
“Sekarang ini biarlah sisa inilah (pohon lada), kalau udah mati aku enggak nanam lagi,” ujarnya. (x1/u2)
| Indonesia Walk for Peace 2026, Saat Perbedaan Menjelma Harmoni |
|
|---|
| Kasus Malaria di Belinyu Melonjak, Pemkab Bangka Siapkan Status KLB |
|
|---|
| Brigadir Arya Gugur Ditembak Saat Gagalkan Curanmor, Istri Menangis Pilu |
|
|---|
| Cerita Mahasiswi Unmuh Babel Borong 4 Medali Sekaligus dalam Sehari, Dua Emas Diraih |
|
|---|
| Negara Rugi Rp25 Juta per Hari, Polda Banten Bongkar Sindikat BBM Subsidi Pakai 249 Barcode |
|
|---|