Senin, 11 Mei 2026

Bangka Pos Hari Ini

Indonesia Walk for Peace 2026, Saat Perbedaan Menjelma Harmoni

Aksi sederhana warga Muslim di Gerokgak, Buleleng, yang membagikan makanan dan minuman kepada rombongan biksu thudong ...

Tayang:
Bangka Pos
Bangka Pos Hari Ini, Senin (11/05/2026). 

Di tepi jalan yang menghubungkan Singaraja dan Gilimanuk, suasana Minggu siang (10/5) itu terasa berbeda. Di bawah terik matahari, langkahlangkah sunyi para biksu yang berjalan kaki justru disambut kehangatan dari warga sekitar. Sebuah momen sederhana, namun sarat makna, terekam di Gerokgak, Buleleng, Bali.

SEJUMLAH warga Muslim tampak berdiri di depan rumah dan toko mereka. Ada yang membawa kantong plastik berisi makanan, ada pula yang menenteng botol air minum. Saat rombongan biksu melintas, mereka mendekat, menyerahkan bekal dengan penuh hormat. Tak banyak kata, hanya senyum dan gestur tulus yang mengalir begitu saja.

Momen itu bukan sekadar interaksi singkat di pinggir jalan. Ia menjadi potret harmoni yang hidup di tengah keberagaman. 

Warga yang berbeda keyakinan menyambut perjalanan spiritual para biksu dengan kepedulian yang hangat.

Rombongan biksu tersebut tengah menjalani ritual thudong, yakni tradisi berjalan kaki dalam keheningan dan kesederhanaan sebagai bagian dari praktik spiritual Buddhis.

Hari itu, mereka melanjutkan perjalanan dari wilayah barat Buleleng menuju Pura Sakti Pejarakan, sebelum beristirahat di Vihara Empu Astapaka.

Perjalanan panjang ini bukan tanpa tujuan. Para biksu sedang menuju Candi Borobudur untuk mengikuti rangkaian peringatan Hari Raya Waisak yang akan berlangsung pada 31 Mei 2026.

Langkah mereka dimulai sehari sebelumnya, Sabtu (9/5), dari Brahmavihara Arama. Dari sana, mereka akan menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga pekan, melintasi berbagai daerah dengan berjalan kaki.

Sebanyak 50 biksu terlibat dalam perjalanan ini. Mayoritas berasal dari Thailand, disusul Malaysia dan Laos. Kehadiran mereka menjadi bagian dari rangkaian kegiatan “Indonesia Walk for Peace 2026”, sebuah gerakan yang membawa pesan perdamaian lintas batas.

Ketua Umum kegiatan tersebut, Tosin, menjelaskan bahwa para biksu hanya membawa perlengkapan sederhana selama perjalanan. 

“Yang dibawa itu adalah patta. Memang seorang biksu hidup sangat sederhana. Kebutuhan pokoknya itu jubah, satu set pakaian, kemudian tempat makan,” ujarnya.

Patta, atau mangkuk makan, menjadi simbol penting dalam perjalanan ini. Benda sederhana itu digunakan untuk menerima makanan dari masyarakat yang ditemui di sepanjang jalan. Namun, lebih dari sekadar wadah, patta menjadi jembatan kebaikan antara para biksu dan warga.

“Kalau makan ya menggunakan bowl ini, yang kita sebut patta. Jadi itu tempat menerima kebaikan. Biksu memberi kesempatan kepada umat atau masyarakat untuk berbuat baik,” kata Tosin.

Interaksi yang terjadi di Gerokgak menjadi salah satu contoh nyata makna tersebut. Warga yang mungkin tidak mengenal para biksu itu, tetap memilih untuk berbagi. Mereka memberi bukan karena diminta, tetapi karena merasa terpanggil.

Di sepanjang perjalanan, pemandangan serupa kemungkinan akan terus berulang. Setiap langkah para biksu membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam pesan damai yang mereka bawa.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved