Sabtu, 9 Mei 2026

Bangka Pos Hari Ini

Turun Drastis 1 Ton 1 Bulan, Pengepul Lada Harus Sabar Mengumpulkan Hasil Panen

Produksi Lada Bangka Belitung terus menurun. Penurunan produksi Lada turut berimbas pada pengepul.

Tayang:
Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Gogo Prayoga
Tan (kanan), pengepul lada di Desa Air Mesu, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ditemui di tokonya, Selasa (3/12/2024). 

Sementara itu saat ditanya motivasinya masih bertahan menjadi pengepul lada, Tan mengungkapkan bahwa hal tersebut memang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

"Karena emang lah kerjaan dari dulu ke dulu, jadi sayang aja rasa e kalo ditinggal. Kalau dipikir-pikir amang banyak rezeki pun dari sini juga. Jadi tetap lanjutlah walaupun untungnya dak seberapa," ucap Tan.

Meski begitu, ia berharap kepada pemerintah agar dapat mencari solusi guna meningkatkan minat masyarakat akan menanam lada yang kian menurun dari tahun ke tahun.

"Kalau kami dari para pengepul ni dak banyak sebenernya. Yang penting macam mana petani lada tu ada lagi tu lah cukup. Karena mereka itulah nyawa kami. Jadi harapannya macam pemerintah ni pacak ngebangkitkan lada kita ni biar petani mau lagi betanam," pungkasnya.

Berhenti sementara

Terpisah, Kamal, seorang pembeli atau pengepul lada di Bangka Tengah, mengaku bahwa saat ini harga beli lada memang sedang tinggi.

“Terakhir kemarin aku beli dari petani sekitar Rp120 ribu perkilonya,” kata Kamal kepada Bangkapos.com, Senin (9/12/2024).

Kendati demikian, dia menyebut bahwa saat ini stok lada miliknya sudah habis dijualnya. Sekitar beberapa bulan yang lalu, dia menjual sekitar 1 ton ladanya ke bos di Pangkalpinang.

“Udah lama lah kujual, ada lah beberapa bulan lalu, dibelinya Rp123 ribu/kilo,” jelasnya.

Meskipun harganya sedang menggiurkan, Kamal mengaku bahwa untuk sementara ini dia belum membeli lagi lada petani. Pasalnya, ada beberapa sebab, salah satunya modal yang dibutuhkan cukup besar.

“Lagi berhenti dulu lah (beli lada petani-red), karena harga lagi mahal ini, jadi modalnya juga harus besar,” ucapnya.

Selain itu, sulitnya mencari barang tersebut (lada) juga menjadi sebab dirinya berhenti dulu menjadi pengepul lada. Kata dia, orang-orang yang bertani lada saat ini sudah semakin berkurang lantaran kebanyakan kebun-kebun lada mereka sudah berubah menjadi kebun sawit.

“Jaman kini pahamlah, susah nyari lada, orang udah banyak bekebun sawit. Apalagi kalau di Bangka Tengah, paling yang banyak itu di daerah Toboali,” imbuhnya. (x1/u2)

 

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved