Sabtu, 9 Mei 2026

Bangka Pos Hari Ini

Turun Drastis 1 Ton 1 Bulan, Pengepul Lada Harus Sabar Mengumpulkan Hasil Panen

Produksi Lada Bangka Belitung terus menurun. Penurunan produksi Lada turut berimbas pada pengepul.

Tayang:
Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Gogo Prayoga
Tan (kanan), pengepul lada di Desa Air Mesu, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ditemui di tokonya, Selasa (3/12/2024). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Produksi Lada Bangka Belitung terus menurun. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat pada tahun 2023 jumlah produksi Lada sebesar 18.454,43 ton. Sementara tahun 2022, tercatat sebesar 26.408,63 ton.

Penurunan produksi Lada turut berimbas pada pengepul yang kerap berdomisili di daerah dekat penghasil Lada. Misalnya saja Tan (50), warga Desa Air Mesu yang sudah menjadi pengepul sejak 20 tahun lalu.

"Lah lama kalau amang, mungkin adalah sekitar 20 tahun yang lalu jadi pengepul lada. Dulu tu masih ramai orang jualan, beda dengan sekarang," kata Tan kepada Bangkapos.com di rumahnya," Selasa (3/12/2024).

Tan menceritakan, mulanya penjualan lada di tokonya masih berjalan lancar dari tahun 2000-an hingga memasuki periode 2010-an. "Dulu tu boleh dikatakan harganya cenderung stabil lah, dak anjlok macem sekarang. Terus juga, lada dulu tu dak sering kena penyakit macam sekarang. Jadi masyarakat pun konsisten terus buat nanam lada," terang Tan.

Bahkan kata Tan, rentang tahun 2016 - 2018 menjadi masa emas komiditi lada di Bangka Belitung. Pada periode itu kata Tan, penjualan lada yang masuk ke tokonya bahkan dapat menembus 1 ton dalam seharinya.

"Waktu masih jaya-jayanya dulu, sehari tu pasti tembus terus 1 ton. Itu dak hanya orang Air Mesu yang jual, tapi dari Cambai, dari Jelutung juga jual ke amang dulunya," ungkap Tan.

Tan (kanan), pengepul lada di Desa Air Mesu, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ditemui di tokonya, Selasa (3/12/2024).
Tan (kanan), pengepul lada di Desa Air Mesu, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ditemui di tokonya, Selasa (3/12/2024). (Bangkapos.com/Gogo Prayoga)

Baca juga: Tahun 2024 Momen Kebangkitan Harga Lada, Hanya 50 Kg Bisa Dapat Rp6 Juta

Kondisi tersebut tentunya membuat Tan dan pengepul lainnya senang bukan kepalang. Mengingat penjualan petani yang selalu tinggi tiap harinya, ia selaku pengepul pun memilih untuk tak terlalu tinggi dalam menarifkan harga lada pada waktu itu.

"Karena harga lada dulu tinggi (Rp150 ribu - Rp180 ribu-red), petaninya banyak, jadi saya selaku pengepul pun juga dak terlalu tinggi buat ngambil harga, paling ngambil ujung Rp - Rp per kilonya itu pun lah untung sebenernya," ujar Tan.

Turun sejak 2020

Namun kondisi tersebut tak bertahan lama. Seingat Tan, harga lada mulai mengalami kemerosotan pada tahun 2020 kondisi tersebut cenderung tak berubah dari tahun ke tahun.

"Mulai turunnya itu kalau dak salah mulai tahun 2020, pas tu lah mulai harganya merosot. Pas tahun 2021 itu sebenarnya sempat naik, cuma habis tu turun lagi, sampai sekarang," tutur Tan.

Dikatakan Tan, harga lada yang beredar dalam 2 tahun terakhir ini memang cenderung parah, hingga hanya menyentuh di angka Rp70 ribu - Rp80 ribu per kilonya. Akibat dari kondisi tersebut, tak dipungkiri Tan, banyak dari pelaku lada memilih untuk keluar dari dunia lada dan memilih mata pencaharian lain yang dirasa lebih menjamin ekonomi keluarga mereka untuk ke depan.

Lada putih Bangka yang siap dijual. Foto diambil Minggu (8/12/2024).
Lada putih Bangka yang siap dijual. Foto diambil Minggu (8/12/2024). (BangkaPos.com/Dokumentasi)

Baca juga: Lada Putih Bangka Sering Gagal Panen, DPKP Babel Ingatkan Pentingnya Asupan Nutrisi Lada dan Tanah

Imbas dari kondisi tersebut, kini diakui Tan, penjualan 1 Ton per hari di tokonya itu berubah menjadi 1 ton per bulan. Angka yang berbeda signifikan akibat inkonsistensi harga lada dan gagal panen dalam beberapa tahun terakhir.

Tak hanya itu, akibat dari kondisi tersebut juga membuat Tan terpaksa untuk menaikkan ujung pembelian, agar ia tak rugi sebagai satu-satunya pengepul lada yang masih bertahan di Desa Air Mesu.

"Dulu amang paling ngambil ujungnya Rp1 ribu per kilo. Sekarang ini paling kecilnya Rp2 ribu. Belum lagi kalo mereka (penjual-red) jualnya dikit, paling kecil Rp5 ribu kita ambil ujungnya itu. Karena kalau dak macem tu dak kelihat ujungnya," ujar Tan.

Sementara itu saat ditanya motivasinya masih bertahan menjadi pengepul lada, Tan mengungkapkan bahwa hal tersebut memang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

"Karena emang lah kerjaan dari dulu ke dulu, jadi sayang aja rasa e kalo ditinggal. Kalau dipikir-pikir amang banyak rezeki pun dari sini juga. Jadi tetap lanjutlah walaupun untungnya dak seberapa," ucap Tan.

Meski begitu, ia berharap kepada pemerintah agar dapat mencari solusi guna meningkatkan minat masyarakat akan menanam lada yang kian menurun dari tahun ke tahun.

"Kalau kami dari para pengepul ni dak banyak sebenernya. Yang penting macam mana petani lada tu ada lagi tu lah cukup. Karena mereka itulah nyawa kami. Jadi harapannya macam pemerintah ni pacak ngebangkitkan lada kita ni biar petani mau lagi betanam," pungkasnya.

Berhenti sementara

Terpisah, Kamal, seorang pembeli atau pengepul lada di Bangka Tengah, mengaku bahwa saat ini harga beli lada memang sedang tinggi.

“Terakhir kemarin aku beli dari petani sekitar Rp120 ribu perkilonya,” kata Kamal kepada Bangkapos.com, Senin (9/12/2024).

Kendati demikian, dia menyebut bahwa saat ini stok lada miliknya sudah habis dijualnya. Sekitar beberapa bulan yang lalu, dia menjual sekitar 1 ton ladanya ke bos di Pangkalpinang.

“Udah lama lah kujual, ada lah beberapa bulan lalu, dibelinya Rp123 ribu/kilo,” jelasnya.

Meskipun harganya sedang menggiurkan, Kamal mengaku bahwa untuk sementara ini dia belum membeli lagi lada petani. Pasalnya, ada beberapa sebab, salah satunya modal yang dibutuhkan cukup besar.

“Lagi berhenti dulu lah (beli lada petani-red), karena harga lagi mahal ini, jadi modalnya juga harus besar,” ucapnya.

Selain itu, sulitnya mencari barang tersebut (lada) juga menjadi sebab dirinya berhenti dulu menjadi pengepul lada. Kata dia, orang-orang yang bertani lada saat ini sudah semakin berkurang lantaran kebanyakan kebun-kebun lada mereka sudah berubah menjadi kebun sawit.

“Jaman kini pahamlah, susah nyari lada, orang udah banyak bekebun sawit. Apalagi kalau di Bangka Tengah, paling yang banyak itu di daerah Toboali,” imbuhnya. (x1/u2)

 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved