Sosok Annar Sampetoding di Kasus Uang Palsu UIN, Bukan dari Keluarga Sembarang, Polisi Takut Blunder

Annar Salahuddin Sampetoding di kasus uang palsu UIN Alauddin merupakan pengusaha dari keluarga atau fam pengusaha empat generasi dari Toraja.

Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: Dedy Qurniawan
Kolase Tribun Timur
Sosok Annar Sampetoding di Kasus Uang Palsu UIN, Bukan dari Keluarga Sembarang, Polisi Takut Blunder 

Pengusaha Annar Sampetoding ini pun menjadi perhatian di kasus Uang Palsu Alauddin.

Sebab, dalam rilis kepolisian resort Gowa ( Polres Gowa ), Annar Sampetoding yang mempertemukan Syahruna dengan Andi Ibrahim. 

Syahruna dan Andi Ibrahim adalah tersangka kasus pabrik uang palsu di UIN Alauddin Makassar. 

Diduga rumahnya jadi tempat pabrik uang palsu di Jl Sunu, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. 

Diperiksa Lebih dari 26 Jam

Dikutip dari Tribun Timur, pengusaha Annar Salahuddin Sampetoding diperiksa Polres Gowa lebih dari 26 jam.

Ia diperiksa  terkait kasus pabrik uang palsu di UIN Alauddin.

Annar diduga sebagai sosok ASS yang terlibat dalam sindikat pencetakan dan peredaran uang palsu.

Dalam rilis Kapolda Sulsel Irjen Pol Yudhiawan Wibisono, di Mapolres Gowa, (Kamis (19/12/2024), ASS disebut membiayai produksi uang palsu di UIN Alauddin, termasuk mesin cetak seharga Rp600 juta.

 Setelah sempat mangkir dari panggilan polisi, Annar Sampetoding akhirnya menyerahkan diri ke Polres Gowa.

Annar menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Gowa, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel, sejak, Kamis (26/12/2024) pukul 19.00 Wita hingga pukul 04.00 Wita, Jumat (27/12/2024). 

Ini artinya, Annar menginap di kantor polisi.

Kapolres Gowa AKBP Reonald Simanjuntak, mengungkapkan bahwa Annar Sampetoding atau inisial ASS diperiksa sebagai saksi dalam kasus tersebut.

"Saudara ASS sudah datang dan saat ini sedang dalam pemeriksaan. Kami masih melakukan pendalaman terkait kasus ini," ujarnya.

 Pemeriksaan terhadap Annar Sampetoding dilakukan secara bertahap dan dilanjutkan setelah jeda istirahat.

"Semalam pemeriksaan berlangsung dari malam hingga jam 4 subuh. Saat ini masih dalam proses pemeriksaan lanjutan," tambah Reonald mengatakan,

Selama pemeriksaan, Annar didampingi oleh pengacaranya.

"Dalam aturan hukum, pendampingan kuasa hukum diperbolehkan, dan hal itu telah dijalankan," katanya.

Hingga kini, status Annar masih terperiksa.

Sebelumnya, Satreskrim Polres Gowa telah menangkap 17 tersangka yang tergabung dalam sindikat uang palsu.

Nama Annar mencuat sebagai salah satu sosok sentral dalam jaringan ini.

Kasus ini juga menyeret Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar sebagai salah satu lokasi produksi uang palsu.

Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Yudhiawan Wibisono, menjelaskan bahwa pengungkapan sindikat ini bermula dari temuan mesin cetak uang palsu di Perpustakaan Kampus UIN Alauddin, Jl HM Yasin Limpo, Kabupaten Gowa.

Sebelum itu, polisi terlebih dahulu mendatangi rumah Annar di Jl Sunu 3, Kota Makassar, yang juga menjadi tempat awal produksi.

"Kalau kita lihat dari TKP, uang palsu awalnya dicetak di rumah saudara ASS di Jl Sunu, Kota Makassar. Kemudian dipindahkan ke Jl Yasin Limpo (Kampus UIN), karena mereka membutuhkan alat dengan kapasitas lebih besar," ungkap Yudhiawan dalam konferensi pers di Mapolres Gowa, Kamis (19/12/2024).

Mesin cetak uang palsu tersebut dibeli seharga Rp600 juta dari China dan didatangkan melalui Surabaya.

Alat berat yang berbobot dua ton itu kemudian dipindahkan ke Perpustakaan Kampus UIN Alauddin.

"Mesin tersebut dibeli oleh salah satu tersangka berinisial AI. Alat itu kemudian dimasukkan ke salah satu kampus di Gowa untuk digunakan dalam produksi," kata Yudhiawan.

Dalam sindikat ini, Yudhiawan mengungkapkan bahwa terdapat tiga tokoh utama, yakni Annar, Andi Ibrahim, dan Sukmawati. 

"Mereka memiliki peran sentral dalam sindikat ini. Selain itu, masih ada tersangka lain yang saat ini berstatus DPO," ujarnya.

Kapolda Sulsel berjanji akan segera menangkap para DPO yang belum tertangkap.

"Kami pastikan DPO ini akan ditangkap, dan kasus ini akan tuntas," kata Yudhiawan.

Polisi Takut Blunder

Sebelumnya, melansir kompas.com, Kapolres Gowa AKBP Reonald Simanjuntak mengatakan sosok ASS berperan mengenalkan AI ke MS

Selain itu, ASS juga disebut memodali pembelian mesin cetak uang di perpustakaan. Uang itu diberikan kepada tersangka MS sebagai pelaku sentral lainnya, selain AI.

Reonald mengatakan ASS belum ditetapkan sebagai tersangka.

Reonald mengaku tidak mau terburu-buru dan bisa jadi "polisi blunder" karena belum memiliki dua alat bukti yang cukup.

"Mohon waktu nanti kami akan difaktakan berdasarkan alat bukti yang kami temukan nanti," kata Reonald.

"Kita kan harus ada praduga tak bersalah, jangan sampai jadi bomerang bagi kami," ujarnya kemudian.

Dalam catatan kepolisian, tersangka AI sempat ingin maju di Pilkada Kabupaten Barru, Sulsel.

Dia berencana memakai uang palsu itu sebagai dana kampanye, hanya saja tidak ada partai yang mendukungnya.

Demikian halnya, ASS yang sempat menyatakan diri maju bertarung di Pilkada Kota Makassar 2024 tapi tidak memiliki dukungan partai yang cukup.

"[ASS] ini beda, jadi DPO [daftar pencarian orang] hanya tiga orang tadi. Karena itu butuh pengembangan lagi, seperti itu, siapa otaknya masih kita cari, itu nanti," tambah Reonald. (Kompas.com / Tribun Timur/ Bangkapos.com)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved