Tribunners
Potensi Kelautan dan Perikanan yang Terabaikan
Selain jenis ikan super seperti kakap merah, kerapu, ketarap, bawal, dan lainnya, ada beberapa jenis kerang-kerangan yang dapat dikembangkan
Oleh: Sudarman - Mantan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
SEJAK merebak kasus pertambangan timah ilegal terjadi kecenderungan pertumbuhan ekonomi wilayah menurun dari kisaran 4-5 persen menjadi 1-2 persen pada triwulan terakhir. Rilis terakhir hanya Kabupaten Bangka Barat yang muncul lebih besar pertumbuhan perekonomian. Imbas dari penurunan produksi timah menjadikan wilayah Bangka Belitung menurun perekonomiannya.
Hal tersebut tidak terlepas dari besarnya porsi produksi tambang timah yang berkontribusi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Babel yang diprediksi sekitar 60 persen dari total keseluruhan PDRB. Jumlah tersebut termasuk dengan industri olahan dan perdagangan yang terkait dengan tambang timah. Hal ini menjadikan timah menjadi primadona wilayah Babel dalam menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi.
Akibatnya, fokus perekonomian yang ada dan dilirik oleh masyarakat hanya di bidang produksi timah. Padahal, ada potensi yang sangat besar yang dimiliki oleh wilayah Babel yang saat ini diprediksi baru dieksplorasi sebesar 20 persen dari potensi yang dimiliki. Potensi yang dimaksud adalah luas lautan yang dimiliki Babel lebih kurang 80 persen dari total keseluruhan luas wilayah Kepulauan Bangka Belitung, di mana luas laut kurang lebih 65.301 kilometer persegi adalah lautan dengan jumlah total garis pantai sepanjang 1.200 kilometer persegi. Garis pantai tersebut membentang di 470 pulau yang ada dengan hanya 50 pulau yang berpenghuni.
Panjang dan luasnya laut yang mengelilingi kedua pulau besar, yakni Pulau Bangka dan Pulau Belitung beserta pulau-pulau lain yang mengelilinginya, merupakan wilayah yang secara geografis belum dioptimalkan pemanfaatannya, terutama untuk bidang kelautan dan perikanan darat. Potensi yang tersedia ini dapat memberikan kontribusi bagi PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung jika dioptimalkan pemanfaatannya.
Selama ini dikelola hanya dari perikanan tangkap, itu pun lama kisaran tangkap hanya sekitar 2 atau 3 hari saja. Keterbatasan ini disebabkan kapal yang digunakan para nelayan hanya di bawah 10 GT, sedangkan untuk bertahan lama dalam melaut perlu kapasitas di atas 20 GT. Selain itu, cold storage (CS) yang tersedia di masing-masing titik sandar nelayan sangat kurang sehingga hasil tangkapan banyak tidak tertampung. Padahal, dukungan CS sangat penting untuk menjaga hasil tangkapan nelayan menjadi lebih awet.
Namun, mengandalkan sisi tangkap saja tanpa melirik sisi lain dari potensi kelautan akan merugikan di masa depan karena diperkirakan eksploitasi penangkapan saat ini cenderung overfishing atau penangkapan berlebihan. Oleh karenanya, perlu ditingkatkan upaya produksi perikanan pelihara yang selama ini masih sangat kecil produksinya, mengingat panjangnya pantai yang dimiliki dan juga ada spot-spot tertentu dari wilayah perairan laut yang cocok untuk pengembangan produksi perikanan pelihara. Wilayah Pulau Belitung dan pulau-pulau kecil sangat memungkin untuk pengembangan wilayah pelihara ini karena belum dibukanya daerah tambang laut di seputaran wilayah pantainya.
Dorongan dan trigger dari pemerintah berupa program-program pengembangan budaya pelihara akan memacu kelompok nelayan untuk beralih pola dari budaya tangkap menjadi budaya pelihara. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah akan mempercepat proses peningkatan produksi hasil laut dari budaya pelihara.
Ada usaha secara mandiri dari nelayan mengembangkan usaha pemeliharaan, ada jenis ikan tertentu di beberapa titik namun hasil dari pelihara tersebut hanya untuk memenuhi permintaan kalangan terbatas. Padahal, potensi pemasaran ikan yang digemari oleh berbagai restoran medium ke atas yang ada, baik di Provinsi Kepulauan Babel maupun di luar daerah, masih banyak peluangnya.
Selain jenis ikan super seperti kakap merah, kerapu, ketarap, bawal, dan lainnya, ada beberapa jenis kerang-kerangan yang dapat dikembangkan, seperti kerang hijau yang sangat digemari konsumen. Bahkan berbagai jenis ganggang dapat dikelola untuk menjadi produk unggulan yang tidak terbatas hasilnya dan secara kontinu tetap berproduksi.
Potensi jenis kepiting tidak kalah menariknya untuk dikembangkan, termasuk kepiting bakau yang saat ini makin sulit didapat karena banyaknya kerusakan pada hutan bakau yang ada di pesisir pantai akibat penambangan timah ilegal. Pelestarian hutan bakau dan teknik beternak kepiting jika dibudidayakan akan memberi peluang pendapatan bagi para nelayan.
Semua itu jika dilakukan secara profesional akan memberi dampak yang signifikan bagi para petani pelihara. Di samping berbagai jenis ikan laut juga tidak kalah menarik adalah jenis ikan darat dengan permintaan terbanyak pada ikan lele karena konsumsi ikan darat ini cukup naik signifikan disebabkan banyaknya penduduk pendatang yang senang akan berbagai jenis ikan darat ini. Namun, sayangnya peluang yang ada kurang diminati baik dari sisi produk lautan maupun perikanan darat.
Sikap pragmatis yang ada akibat dari perubahan pola budaya mata pencaharian dari perkebunan, pertanian, nelayan berubah secara drastis ke budaya tambang. Sebagian besar dari masyarakat berpindah profesi jadi penambang lebih pada uang instan yang didapat dari hasil menambang dibandingkan jika profesi di luar itu. Namun, harus ada usaha men-drive agar pola pekerjaan tersebut dikembalikan pada kedudukan semula agar daya tahan ekonomi tetap stabil jika adanya penurunan dari sektor tambang.
Paling tidak ada beberapa spot pelihara ikan yang diinisiasi pemda untuk men-trigger nelayan agar tidak terjun ke profesi penambang. Investasi untuk pelihara ini cukup besar dalam hal penyediaan saprodi pelihara dan operasional sebelum hasil pelihara dipanen. Selain itu, dukungan ahli perikanan di bidang pelihara sangat dibutuhkan. Untuk pelihara darat, mungkin PT Timah Tbk memberikan support dengan mengizinkan kolong-kolong bekas tambang dijadikan sarana dalam pelihara ikan darat tersebut.
Berbagai jenis ikan selain lele, mujair, betutu, ikan delek, nila yang merupakan stok yang banyak diminta oleh restoran medium ke bawah, bahkan bisa diekspor ke mancanegara. Bahkan, ada jenis ikan darat (ikan betutu/gabus males) yang diminati eksportir karena jumlahnya sangat terbatas tanpa batasan kuota karena untuk di daerah Pulau Bangka saat ini sudah menipis akibat berbagai aktivitas tambang dan juga perkebunan sawit. Beberapa titik/spot daerah yang biasa ditemukan sudah hilang sehingga alternatif pemanfaatan kolong-kolong bekas tambang ini memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat di sekitar penambangan.
| Mengapa Pasir Tailing Timah Layak Dipertimbangkan untuk Beton Non-Struktural? |
|
|---|
| Selesai Membuat Pantun Otentik Sebelum Enam Puluh Detik |
|
|---|
| Imunitas Karya Jurnalistik Pasca-putusan MK No. 145/2025 |
|
|---|
| Isra Mikraj 1447 H: Momentum Meningkatkan Spiritual dan Moral Peserta Didik |
|
|---|
| Menyoal Pilkada Langsung dan Atau Tak Langsung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250122_Sudarman.jpg)