Selasa, 7 April 2026

Tribunners

Iman dan Alam: Perspektif Green Teologi Dalam Menghadapi Krisis Lingkungan

Alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian integral dari ciptaan Tuhan yang harus dihormati.

|
Editor: fitriadi
Dokumentasi Muhammad Isnaini
Muhammad Isnaini, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang 

Oleh: Muhammad Isnaini

(Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)

Krisis lingkungan yang semakin mendalam, seperti perubahan iklim, deforestasi, dan polusi, telah menjadi salah satu tantangan terbesar umat manusia di abad ke-21.

Dalam konteks ini, agama dan teologi memiliki peran penting dalam menawarkan solusi etis dan spiritual.

Perspektif green teologi, yang mengintegrasikan iman dan kesadaran lingkungan, memberikan wawasan yang unik tentang bagaimana manusia dapat hidup harmonis dengan alam.

Green teologi adalah cabang teologi yang berfokus pada hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam.

Menurut Berry, alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian integral dari ciptaan Tuhan yang harus dihormati.

Dalam pandangan ini, alam memiliki nilai intrinsik karena merupakan refleksi dari kebesaran dan kasih Tuhan.

Kutipan dari Al-Qur'an mendukung pandangan ini: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya" (QS. Al-A'raf: 56).

Ayat ini menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam sebagai amanah dari Tuhan.

Dalam tradisi Kristen, ensiklik Laudato Si' karya Paus Fransiskus menekankan pentingnya ekologi integral, yaitu pemahaman bahwa kesejahteraan manusia dan kesehatan alam saling terkait.

Paus Fransiskus menulis, "Kami tidak dapat menganggap diri kami memperbaiki hubungan dengan lingkungan tanpa menyembuhkan semua hubungan manusia."

Dalam praktiknya, green teologi dapat diwujudkan melalui berbagai cara yang melibatkan komunitas beriman. Pendidikan agama dapat menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran ekologis.

Dalam Islam, konsep khalifah fil ardh (pemimpin di bumi) mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya alam.

Hal ini dapat diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari seperti pengelolaan sampah, hemat energi, dan penghijauan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved