Sabtu, 18 April 2026

Tribunners

Iman dan Alam: Perspektif Green Teologi Dalam Menghadapi Krisis Lingkungan

Alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian integral dari ciptaan Tuhan yang harus dihormati.

|
Editor: fitriadi
Dokumentasi Muhammad Isnaini
Muhammad Isnaini, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang 

Liturgi dan ritual ramah lingkungan juga dapat menjadi bagian dari pendekatan ini.

Dalam tradisi Kristen, misa atau kebaktian dapat diintegrasikan dengan doa-doa untuk bumi dan aksi-aksi konkret seperti menanam pohon.

Hal serupa juga dapat dilakukan dalam tradisi Islam melalui doa-doa qunut nazilah untuk meminta perlindungan dari bencana alam akibat kerusakan lingkungan.

Institusi agama dapat berperan aktif dalam mendukung kebijakan lingkungan yang berkelanjutan.

Misalnya, fatwa tentang larangan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam atau mendukung transisi energi terbarukan.

Gerakan seperti Faith-Based Environmental Advocacy telah menunjukkan bagaimana komunitas agama dapat berkolaborasi untuk melindungi lingkungan.

Dalam Islam, gerakan eco-mosque telah menjadi contoh nyata bagaimana tempat ibadah dapat menjadi pusat kesadaran lingkungan.

Green teologi tidak berdiri sendiri, melainkan harus bersinergi dengan ilmu pengetahuan modern.

Sebagai contoh, pendekatan berbasis data ilmiah tentang perubahan iklim dapat dipadukan dengan prinsip etis dalam agama.

Interaksi antara teologi dan ekologi memungkinkan terciptanya kebijakan lingkungan yang tidak hanya berbasis data, tetapi juga nilai-nilai moral dan spiritual.

Dalam pandangan White, krisis lingkungan sebagian besar disebabkan oleh pandangan dunia antropo-sentris yang menganggap manusia sebagai pusat alam semesta.

Namun, dengan pendekatan teosentris dalam green teologi, manusia dipandang sebagai bagian dari komunitas ciptaan Tuhan yang lebih luas.

Green teologi menawarkan kerangka kerja yang kuat untuk menghadapi krisis lingkungan

Dengan memadukan prinsip-prinsip iman dan etika lingkungan, perspektif ini mendorong transformasi moral dan spiritual yang diperlukan untuk melindungi planet ini.

Seperti yang dikatakan oleh Nasr, "Manusia harus kembali pada kesadaran spiritual yang melihat alam sebagai kitab kedua Tuhan."

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved