Tribunners
Membentuk Siswa Menjadi Wirausaha ala Rasulullah
Untuk menciptakan peserta didik yang bermental dan berjiwa wirausaha perlu ditanamkan karakter wirausaha seperti yang ada dalam kepribadian Rasulullah
Oleh: Santi Virgianti, M.Pd.I. - Guru SMKN 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat
SALAH satu fokus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa di era industri 4.0. Khusus untuk siswa sekolah menengah kejuruan (SMK), pengembangan minat kewirausahaan dipandang strategis untuk menyiapkan generasi mendatang yang produktif dan berkarakter. Selain bekerja di industri atau melanjutkan studi di jenjang pendidikan tinggi, lulusan SMK juga didorong menjadi wirausaha kreatif.
Berbicara mengenai wirausaha, ada salah satu tokoh Islam yang bisa kita jadikan panutan sebagai entrepreneur (pebisnis), yakni nabi kita Muhammad Rasulullah SAW. Sebelum kita membahas bagaimana Rasulullah menjadi wirausaha andal, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu kewirausahaan.
Kewirausahaan adalah padanan kata dari entrepreneurship dalam bahasa Inggris, unternehmer dalam bahasa Jerman, ondernemen dalam bahasa Belanda. Adapun di Indonesia diberi nama kewirausahaan. Kata entrepreneur berasal dari bahasa Perancis, yaitu entreprende yang berarti petualang, pengambil risiko, kontraktor, pengusaha (orang yang mengusahakan suatu pekerjaan tertentu), dan pencipta yang menjual hasil ciptaannya. (Hendro, 2011).
Jumlah wirausaha di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ada lebih dari 56 juta pada pertengahan tahun 2023. Rasio kewirausahaan di Indonesia adalah 3,47 persen. Angka tersebut termasuk rendah jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Malaysia, misalnya, rasio kewirausahaannya mencapai 4,7 persen. Bahkan Singapura, rasio kewirausahaannya mencapai 8,76 persen.
Wirausaha di Indonesia didominasi oleh kelompok usia di atas 60 tahun (lansia), yakni 10,6 juta. Sementara itu, rentang usia anak-anak SMK, 15-19 tahun, hanya 400.000 orang. Angka yang paling sedikit dari jumlah wirausaha di Indonesia.
Mengenai usia wirausaha, Nabi Muhammad memulai terjun ke dunia bisnis sejak usia menjelang remaja yakni 12 tahun. Dalam Ensiklopedia bertajuk Muhammad sebagai Pedagang yang ditulis Afzalurrahman diceritakan bahwa awal karier Muhammad sebagai pedagang telah dirintis sejak usia 12 tahun bersama pamannya, Abu Thalib. Tak tanggung-tanggung, jiwa entrepreneur-nya telah dipicu dengan suasana perdagangan pada skala internasional hingga ke beberapa negara, seperti Suriah, Yordania, dan Lebanon. Usia 12 tahun itu kalau di Indonesia adalah usia awal di bangku sekolah menengah pertama (SMP), kalau masuk SD usia 6 tahun. Kalau masuk SD usia 7 tahun, maka usia 12 tahun itu, anak kita masih duduk di bangku kelas 6 SD.
Bisa dibayangkan, ketika anak kita masih disibukkan dengan pelajaran dan permainan di bangku SD dan SMP, Nabi Muhammad telah terjun sebagai pedagang. Kemudian, beliau memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Usia 17 tahun itu seusia anak SMK tingkat terakhir.
Saat berusia 25 tahun, Nabi Muhammad SAW menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad SAW tetap mengelola perdagangannya sebagai mitra bisnis Khadijah. Dengan demikian, beliau termasuk sebagai business owner. Afzalurrahman mencatat bahwa setelah menikah, Nabi Muhammad SAW tetap melanjutkan usaha perdagangannya. Pada masa itu, beliau bertindak sebagai mitra dalam usaha istrinya. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan bisnis ke berbagai pusat perdagangan di seluruh penjuru negerinya dan negeri-negeri tetangga.
Selanjutnya, ketika berusia 30 tahunan, Nabi Muhammad menjadi penanam modal (investor). Saat itu, beliau mulai memikirkan kondisi masyarakat sekitarnya. Ketika Nabi Muhammad mulai untuk menyendiri (tahannuts) di Gua Hira, beliau sudah mengalami kondisi bebas keuangan (financial freedom). (Muhammad Syafi’I Antonio : 2010). Dengan demikian, beliau tidak mesti terjun langsung dalam mengelola bisnis. Hal itu dilakukannya hingga beliau mendapat wahyu pertama. Periode baru sebagai Nabi dan Rasul Allah mulai dijalani.
Selama menjadi wirausaha, Nabi Muhammad SAW memiliki strategi bisnis jitu, yang bisa diterapkan oleh pebisnis pemula seperti siswa SMK. Dalam buku Marketing Muhammad, Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad SAW, karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, beberapa strategi bisnis yang diterapkan oleh Rasulullah SAW.
Pertama, melakukan segmentasi yakni membagi-bagi pasar berdasarkan variabel. Sebelum memulai bisnisnya, Nabi Muhammad melakukan perlawatan ke Bahrain Timur, Semenanjung Arabia. Beliau mengumpulkan informasi yang rinci tentang gaya hidup, cara makan minum dan kebiasaan masyarakat setempat. Informasi tersebut merupakan upaya beliau dalam melakukan segmentasi.
Kedua, targeting, yakni pemilihan target dan mencocokkan reaksi pasar dengan kebutuhan dasar, daya beli, dan keterbatasan yang dimiliki. Secara individu, Muhammad SAW telah melakukan targeting yang luar biasa. Bukan hanya satu segmen atau komunitas, seperti teori pemasaran, Muhammad SAW bahkan memasuki semua segmen di Semenanjung Arabia, dimulai dari kalangan raja sampai kalangan budak belian.
Ketiga, melakukan positioning. Positioning adalah bagaimana menempatkan produk ke dalam benak pelanggan secara luas sehingga akan tertanam dalam benak pasar bahwa perusahaan Anda adalah definisi dari produk yang dijual. Pada zaman Rasulullah, positioning yang terjadi bukan pada produk karena penggunaan merek masih belum lazim. Dengan demikian, positioning yang ada lebih condong pada pembentukan personal branding Rasulullah.
Di kalangan pedagang dan pengusaha saat itu, sosok Rasulullah sangat dihormati dan disegani karena kejujuran dan keadilannya. Reputasinya sebagai pedagang yang jujur dan tepercaya telah terbina sejak usia muda sehingga sampai ke kalangan investor-investor kaya di Makkah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250210_Santi-Virgianti.jpg)