Tribunners
Membentuk Siswa Menjadi Wirausaha ala Rasulullah
Untuk menciptakan peserta didik yang bermental dan berjiwa wirausaha perlu ditanamkan karakter wirausaha seperti yang ada dalam kepribadian Rasulullah
Keempat, melakukan diferensiasi, bauran pemasaran, dan memiliki prinsip dalam menjual. Nabi Muhammad saw adalah orang yang berpikiran out of the box. Ia berdagang dengan cara-cara yang beda, tidak konvensional digunakan pedagang lainnya pada saat itu.
Selain strategi pemasaran di atas, Rasulullah SAW juga menerapkan teori ekonomi yang berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan bisnisnya. Beberapa teori ekonomi dijelaskan secara singkat di bawah ini.
Pertama, perekonomian harus dibangun di atas prinsip kepercayaan dan integritas, yang merupakan nilai-nilai dalam menjalankan bisnis. Menurut seorang hakim, Rabi bin Badr, Thalhah bin Ubaidillah adalah seorang budak yang pernah melakukan kerja sama dagang dengan Nabi Muhammad SAW. Ketika suatu hari mitra dagang Rasulullah SAW itu menemuinya, Nabi lalu mengatakan, “Apakah engkau mengenalku?” Ia menjawab, “Kau pernah menjadi mitraku dan engkau adalah mitra yang paling baik sebab engkau tidak pernah menipu dan berselisih denganku.” Dengan berbekal modal integritas inilah Nabi Muhammad SAW kemudian akan diketahui dan diapresiasi oleh mitra bisnis dan menghasilkan manfaat yang berlipat ganda.
Setidaknya hasil penjualan dagang Nabi Muhammad SAW tercatat. Pasar Basra memiliki volume perdagangan dua kali lipat dibandingkan pedagang lainnya. Karena pasar adalah tempat terbesar untuk distribusi uang, peluang untuk penipuan dan godaan tentu sangat penting. Karena alasan ini, Nabi Muhammad memotivasi para pedagang untuk menjalankan bisnis dengan integritas. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Pedagang yang beramanah dan dapat dipercaya itu akan bersama orang-orang yang mati syahid” (HR Ibnu Majah).
Kedua, dalam ekonomi mikro, yakni dalam sistem pasar, Nabi Muhammad SAW telah mengeluarkan teori pasar dengan memberi beberapa rambu untuk menjaga pasar agar tidak terdistorsi. Sebagaimana kita ketahui, fungsi pasar adalah hal terpenting dalam kegiatan ekonomi. Sistem pasar yang baik harus berdasarkan prinsip keadilan. Pasar menjadi adil jika pasar telah bebas dari praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Norma ini telah disebutkan dalam beberapa hadis beliau, “Barang siapa melakukan monopoli, maka dia adalah pendosa” (HR Muslim). “Barang siapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka Allah akan berlepas darinya” (HR Ahmad).
Rasulullah SAW juga melarang keras terhadap penetapan harga. Larangan ini telah dicontohkan Rasulullah SAW pada sebuah pasar ketika harga-harga melambung tinggi. Kondisi harga yang tidak stabil itu menjadikan para sahabat kesulitan sehingga menimbulkan niat mereka untuk mengusulkan kepada Rasulullah menetapkan harga. Namun, secara tegas Rasulullah melarangnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah-lah yang telah menetapkan harga, menahan serta melapangkan dan memberi rezeki dan sesungguhnya aku berharap bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak seorang pun daripada kalian menuntut aku karena perbuatan zalim terhadap jiwa atau tentang harga (barang-barang)” (HR Abu Dawud dan enam imam hadis kecuali Nasa’i.
Ketiga, sistem konsumsi, produksi, dan distribusi. Muhammad SAW mengajarkan sistem konsumsi yang egalitarian. Bahkan, anjuran konsumsi tidak hanya dibatasi pada kebutuhan pokok, tetapi juga mencakup kesenangan dan bahkan barang mewah, tentu dengan batasan-batasan yang halal, baik (thoyyib), dan tidak berlebih-lebihan (israf). Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi yang dilakukan tidak hanya untuk pribadi, tetapi juga untuk berjalannya mekanisme dan gerak pasar.
Dalam hal produksi, satu hadis yang sangat fundamental menyebutkan, “Orang-orang harus berusaha mencari nafkah yang halal untuk keluarganya, sebab mencari nafkah adalah bagaikan berjihad di jalan Allah” (HR Thabrani). Dalam hadis lain disebutkan, “Ada dosa-dosa tertentu yang dapat ditebus hanya dengan perjuangan yang terus-menerus dilakukan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi” (HR Thabrani).
Itulah teori ekonomi yang diterapkan Nabi Muhammad dalam berbisnis. Dalam membentuk siswa menjadi seorang wirausaha, kita bisa memulai memasukkan prinsip dan strategi bisnis seperti yang dicontohkan Rasulullah.
Untuk menciptakan peserta didik yang bermental dan berjiwa wirausaha perlu ditanamkan karakter wirausaha seperti yang ada dalam kepribadian Rasulullah. Melalui karakter wirausaha yang ditanamkan pada peserta didik merupakan pemikiran awal pembentukan masa depan dan karirnya kelak, mampu menciptakan dan menuangkan kreativitas dan inovasi dalam memandang bisnis saat ini.
Karakteristik wirausaha merupakan bagian dari pendidikan kecakapan hidup (life skills). Life skills dalam pendidikan kewirausahaan adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh siswa sehingga mereka dapat hidup mandiri sebagai wirausahawan.
Maka empat prinsip penting dalam menjalankan pembelajaran kewirausahaan sebagai life skills tidak boleh ditinggalkan, yaitu learning to know (belajar untuk mengetahui kewirausahaan), learning to do (belajar untuk melakukan kegiatan wirausaha), learning to be (belajar untuk mempraktikkan kegiatan wirausaha), dan learning to live together (belajar untuk bersama dengan yang lain dalam interaksi sosial dalam berwirausaha). Belajar kewirausahaan bukan hanya sekadar mengajari bagaimana siswa dapat membuat kemudian menjual, melainkan memberikan pengalaman dan kecakapan langsung bagaimana merancang dan mengelola sebuah usaha secara utuh. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250210_Santi-Virgianti.jpg)