Tribunners
Optimisme Pendidikan Dasar Indonesia
Deep learning menawarkan paradigma baru dalam proses pendidikan yang berorientasi pada siswa
Oleh: Inosensius Enryco Mokos, M.I.Kom. - Peneliti Komunikasi Pendidikan, Politik, Publik, dan Budaya
DALAM era digital yang terus berkembang, pendidikan menghadapi tantangan dan peluang baru yang memerlukan pendekatan inovatif. Salah satu terobosan yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) adalah deep learning, sebuah metode pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam dan keterlibatan aktif siswa. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, deep learning tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
Deep learning menawarkan paradigma baru dalam proses pendidikan yang berorientasi pada siswa, di mana mereka didorong untuk aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Melalui metode ini, siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga peneliti, kolaborator, dan pemecah masalah. Dengan memanfaatkan teknologi dan pendekatan yang lebih interaktif, Kemendikdasmen berupaya menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan bermakna. Dalam konteks ini, penting untuk mengeksplorasi langkah-langkah implementasi deep learning, keunggulannya dibandingkan kurikulum sebelumnya, serta dampak positif dan negatif yang mungkin timbul dari penerapan metode ini dalam sistem pendidikan di Indonesia.
Terobosan yang bagus?
Penerapan deep learning oleh Kemendikdasmen berfokus pada pengembangan kurikulum yang menekankan pemahaman mendalam terhadap materi pelajaran. Ini melibatkan pelatihan guru untuk mengadopsi pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa tidak hanya menghafal fakta, tetapi juga memahami makna dan konteks informasi yang dipelajari. Berikut adalah beberapa aspek penting mengenai deep learning yang diterapkan oleh Kemendikdasmen.
Pertama, mindful learning. Pendekatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk aktif terlibat dalam proses belajar, dengan memperhatikan perbedaan kebutuhan dan potensi setiap individu. Siswa diharapkan dapat berpartisipasi dalam diskusi, eksperimen, dan eksplorasi materi.
Kedua, meaningful learning. Siswa diajak untuk memahami alasan di balik setiap materi yang dipelajari. Misalnya, guru menjelaskan bagaimana konsep matematika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam pengelolaan keuangan. Ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa.
Ketiga, joyful learning. Fokus pada menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar untuk menghafal, tetapi juga memahami konteks dan aplikasi materi yang diajarkan. Contohnya, dalam pelajaran sejarah, guru dapat mengadakan simulasi atau diskusi yang membuat siswa lebih aktif terlibat.
Saat kita memperhatikan deep learning yang ditawarkan oleh Kemendikdasmen ini tentu lebih menekankan pendekatan yang holistik. Hal ini sama dengan pandangan filsuf pendidikan Paulo Freire yang menekankan peserta didik diberi kebebasan untuk bisa mempelajari makna dan pengetahuan lebih luas demi mendapatkan pengetahuan yang komprehensif. Tidak melulu hanya mendapatkan pengetahuan dari satu sisi yaitu dari guru saja.
Guru berfungsi sebagai fasilitator yang membantu siswa mengaitkan pelajaran dengan penerapan di dunia nyata. Mereka diharapkan untuk memberikan umpan balik positif dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berencana untuk menerapkan metode ini secara bertahap, dengan pelatihan intensif bagi guru agar mereka dapat mengadopsi pendekatan yang lebih berfokus pada siswa. Perubahan mindset guru juga menjadi elemen penting dalam keberhasilan penerapan deep learning.
Sudah tepatkah?
Pertanyaan mendasar yang akan muncul, apakah sudah tepat langkah yang diambil oleh Kemendikdasmen yang mencoba terobosan untuk memasukan deep learning dan menggantikan Kurikulum Merdeka Belajar? Sejatinya, Kurikulum Merdeka Belajar juga menekankan hal yang sama seperti deep learning yaitu salah satunya student center yang mana murid sebagai subjek utama dalam pembelajaran. Perkembangan dan pengetahuan yang diberikan kepada peserta didik lebih menyeluruh dengan menekankan makna dan objektivitas.
Contohnya dalam Kurikulum Merdeka Belajar, penekanan bahwa siswa harus bisa aktif dalam metode pembelajaran lewat Project Base Learning (PBL), Problem Based Learning, dan lainnya. Hal ini sama dan hampir mirip dengan pendekatan deep learning.
Justru tantangan terbesar yang akan muncul dari pemberlakuan kurikulum yang baru ini adalah tantangan bagi guru, infrastruktur sekolah dan sumber daya. Guru tentu harus mengadopsi dan belajar lagi tentang kurikulum yang baru sehingga akan menjadi beban baru dan bisa jadi membuat guru hilang motivasi dalam memberikan pendidikan yang baik kepada peserta didik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250109_Inosensius-Enryco-Mokos.jpg)