Tribunners
Mendalami Kelokalan di Tengah Modernisasi Melalui Wisata Kultural
Pada tahun 2023 lalu, sebuah tempat wisata kultural di sebuah kawasan yang juga erat dengan permukiman masyarakat aslinya diresmikan.
Oleh: Berlian Zarina - Mahasiswa Master DPP UGM, Awardee CitRes.net Project Kolaborasi Ilmu Politik UBB & DPP UGM
MATAHARI yang tampak di siang hari diselimuti sedikit awan hitam menemani indahnya susunan rumah salah satu kampung adat melayu tua di Bangka Belitung. Sembari duduk di tengah pintu rumah adat, ditemani semilir angin yang berembus, kemudian menghantarkan saya pada lamunan dan tatapan refleksi jika saat ini masyarakat adat benar-benar berdampingan langsung dengan kehidupan sekarang. Bebas melakukan berbagai aktivitas mereka sehari-hari tanpa takut tereduksi berbagai situasi globalisasi ataupun keturunan mereka yang berbagi cerita tentang kerukunan dan kekeluargaan. Begitu hangat dan kembali teringat bahwa saat ini sedang berada pada arus modernisasi yang begitu deras sekali.
Perhatian pada budaya modern saat ini menjadikan fokus kita tertuju pada hal-hal yang bersifat pop culture atau mengikuti gaya dan tren kekinian. Jika kita bertanya pada anak-anak muda sekarang terkait identitas mereka, maka salah satu kemungkinannya adalah mereka akan sulit menjelaskan bagaimana asal-usul mereka, kehidupan di tempat mereka, dan apa ciri yang menjadi khas dari wilayah dan daerah mereka. Paling tidak, ciri khasnya mengambil dari hal-hal luaran yang terpajang ataupun produk-produk yang booming saja.
Sebagian anak muda sekarang bisa saja tidak mengetahui banyak hal tentang asal-usul mereka dan ciri khas di wilayah mereka karena kurangnya perhatian pada hal tersebut dan minimnya suguhan akses untuk pengenalan dengan itu. Dengan demikian, memberi perhatian pada edukasi berupa tempat-tempat bersejarah dan menyuguhkan latar belakang di baliknya akan memperkuat basis sebagai orang lokal untuk mengetahui bagian dari dirinya dan tempat tinggalnya.
Salah satu identitas di tengah keragaman komunitas
Salah satu upaya para penggiat sejarah dan budaya berusaha membangun alternatif cara untuk memperkenalkan identitas dan budaya lokal dengan pendekatan yang menyesuaikan situasi terkini. Terlebih lagi, konsep dan inovasi yang digunakan nantinya akan menjadi patokan untuk terus eksisnya sebuah tempat dan memberikan pengalaman yang berkesan terlepas dari kelompok kalangan anak-anak, pemuda, maupun lansia. Pada tahun 2023 lalu, sebuah tempat wisata kultural di sebuah kawasan yang juga erat dengan permukiman masyarakat aslinya diresmikan. Wisata kultural ini adalah “Gebong Memarong”.
Tempat yang menjadi bagian kisah sejarah dan meninggalkan kisah-kisah dari pengalaman masyarakat terdahulu yang beberapa di antaranya masih dipercayai oleh sebagian masyarakat lokal setempat. Wisata kultural yang terletak di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, ini menjadi salah satu ikon dari sejarah nenek moyang suku Melayu tua yang ada di Bangka Belitung.
Air Abik, menjadi bagian sejarah yang tak terlupakan dari perjalanan kisah para tetua mendiami Pulau Bangka, tepatnya di bagian utara pulau ini. Masyarakat sukunya disebut dengan Orang Lom. Penamaan ini diyakini karena mereka belum memiliki kepercayaan secara hukum, dalam artian mereka memiliki kepercayaan sesuai dengan keturunan nenek moyang mereka.
Ada banyak sekali tulisan yang mengangkat kembali kehidupan dari Masyarakat Lom ini. Seperti peneliti dari Norwegia yakni Olaf H. Smedal (1988) yang tulisannya cukup lengkap membahas tentang Masyarakat Lom, ada juga buku Korpus Mapur karya Teungku Sayyid Deqy (2014) yang mengangkat kaitan islamisasi di Bangka dengan Masyarakat Lom, dan yang terbaru terkait penggalian sosial budaya dan persebaran Masyarakat Lom yang ditulis oleh Kurniati dan Nodyanto (2022).
Tulisan-tulisan tersebut tentunya memperkaya dan memperkuat Masyarakat Lom sebagai bagian penting dari identitas dan budaya di Bangka Belitung. Untuk membuktikan keberadaan Masyarakat Lom dan budaya mereka, perlu direalisasikan langsung kehadirannya di tengah-tengah masyarakat sekarang melalui kisah, peralatan, dan tempat bersejarah, seperti wisata kultural yang dinamakan dengan “Gebong Memarong”.
Gagasan wisata kultural “Gebong Memarong” ini diinisiasi pada tahun 2019 oleh Ali Usman selaku penggiat sejarah dan budaya di Bangka Belitung. Dukungan dari beberapa masyarakat keturunan asli suku Lom seperti Bang Asih menjadi penguat lahirnya wisata kultural ini. Wisata kultural menyuguhkan karakteristik utama dari masyarakat suku Lom, mulai dari rumah, peralatan sehari-hari, hingga tanaman-tanaman obat yang digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari di masa lalu. Dengan mengutamakan penyuguhan budaya asli dan konsep terkini, wisata kultural ini diharapkan dapat menjadi basis untuk mendalami kelokalan di tengah keragaman pengetahuan modern yang ada.
Refleksi kekayaan dan pengetahuan lokal
Tulisan Al-Islamy (2023) yang mengangkat keselarasan kehidupan Masyarakat Lom dalam berinteraksi dengan alam mengingatkan kita untuk berefleksi terkait peran Masyarakat Lom dalam menjaga keselarasan kehidupan di tengah hiruk pikuk modernisasi dunia saat ini. Peralatan yang digunakan dalam aktivitas pemenuhan kehidupan sehari-hari, khususnya berkebun atau beume. Cara-cara mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan hidup dan memberikan alam regenerasi dan memulihkan diri. Apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan saat berburu ke hutan mencerminkan kepedulian mereka terhadap sesama makhluk hidup. Sangat kontras dengan realitas sekarang yang dipengaruhi oleh kebutuhan pasar dan kapitalisasi alam.
Tanaman-tanaman herbal yang kini makin sulit ditemukan, beberapa ditanam di kawasan wisata Gebong Memarong untuk menunjukkan khasiat dari tanaman herbal tersebut sekaligus memperkenalkannya kepada para pengunjung dan generasi muda. Beberapa tanaman lain yang menjadi ciri khas walaupun bukan sebagai obat herbal juga ditanam di sekitar kawasan untuk menambah kesan kultural dan sejarah masyarakat suku Lom. Bahkan pada hari-hari besar mereka seperti nujuh jerami, sebuah perayaan adat berupa rasa syukur atas hasil pertanian mereka. Kekayaan alam dan pengetahuan lokal yang dimanifestasikan melalui masyarakat suku Lom ini merupakan bentuk dari keanekaragaman tanpa mengenyampingkan alam dan spiritual yang terus dilestarikan sampai saat ini.
Kita bisa berkunjung sekaligus mendengarkan penjelasan terkait rumah adat beserta alat-alat lainnya, termasuk tanaman-tanaman herbal beserta khasiatnya. Begitu banyak pembelajaran dan pengalaman yang bisa didapatkan dengan berkunjung ke satu tempat wisata kultural. Selain bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru tentang cara masyarakat adat berinteraksi dan menjaga alam, kita juga bisa mendalami dan mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari identitas lokal. Dengan demikian, budaya dan identitas yang ada bukan hanya menjadi sebuah nama belaka, melainkan kita turut menjaga dan melestarikannya agar bisa dikenalkan kembali di masa mendatang. (*)
| Bum Panjang TTB Toboali, Pelabuhan Lawas yang Kembali Berdetak |
|
|---|
| Hardiknas 2026: Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua |
|
|---|
| Kepedulian Sosial Sesama Jemaah dalam Berhaji |
|
|---|
| 11 Tuntutan Buruh dan Harapan di Era Presiden Prabowo Subianto |
|
|---|
| Gerbong Dipindah, Masalah Tak Berpindah: Empati yang Hilang dalam Komunikasi Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240819_Berlian-Zarina-Mahasiswa-Master-DPP-UGM.jpg)