Jumat, 1 Mei 2026

Tribunners

Kepedulian Sosial Sesama Jemaah dalam Berhaji

Banyak hal yang harus menjadi perhatian bagi jemaah dan keluarga yang ditinggal di tanah air agar rasa bahagia dan haru tetap terjaga

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Abdul Rahman Ns
Abdul Rahman Ns - Anggota Jemaah Haji 2025/Ketua Rombongan 5 Kloter 06 PLM 

Oleh: Abdul Rahman Ns - Anggota Jemaah Haji 2025/Ketua Rombongan 5 Kloter 06 PLM

SEBANYAK 40.796 anggota jemaah calon haji yang terdiri dari 104 kelompok terbang (kloter) telah diberangkatkan Pemerintah Indonesia sejak keberangkatan pertama kloter 1 pada 22 April 2026 sampai dengan Selasa, 28 April 2026 (haji.go.id, 28/04/2026). Jumlah ini merupakan bagian dari 221.000 anggota jemaah yang merupakan kuota yang diterima Indonesia untuk musim haji 2026M/1447H.

Dari 221.000 kuota nasional yang diterima Indonesia pada musim haji tahun 2026, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendapatkan kuota sebanyak 1.077 orang, namun terdapat 3 orag yang mutasi ke provinsi lain sehingga jemaah yang tergabung dalam Provinsi Bangka Belitung menjadi 1.074 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan kuota yang diterima pada musim haji 2025 sebanyak 1.065 orang (bangkapos, 31/10/2025).

Dan seperti tahun sebelumnya, tahun 2026 jemaah calon haji asal Provinsi Bangka Belitung akan tergabung dalam 3 kloter, yang akan diterbangkan menuju Madinah melalui embarkasi Palembang (PLM). Keberangkatan jemaah calon haji asal Provinsi Bangka Belitung tentu menjadi momen yang paling ditunggu dan mengharukan, bukan hanya bagi jemaah calon haji, akan tetapi juga bagi keluarga dan umat muslim yang ada di provinsi kepulauan ini. 

Berbagai tradisi dilakukan keluarga jemaah setelah secara resmi dinyatakan sebagai calon haji, syukuran keberangkatan, ramah-tamah dengan pejabat daerah, sampai seremoni pelepasan, sebagai bentuk rasa syukur setelah penantian panjang panggilan suci itu akhirnya tiba.

Secara reguler, rerata waktu tunggu jemaah Provinsi Bangka Belitung keberangkatan 2026 sejak melakukan pendaftaran selama 13 tahun dalam antrean. Waktu ini bukanlah waktu singkat. Namun, bagi umat muslim yang terpanggil hatinya untuk menyempurnakan rukun Islam, memenuhi panggilan Illahi Robbi, waktu ini terasa begitu singkat. Karena sesungguhnya berhaji adalah kewajiban yang diperintahkan langsung oleh Allah, sebagaimana difirmankan-Nya dalam Al-Qur'an surah Ali-Imran ayat 97, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Kepedulian sosial sesama jemaah

Keberangkatan jemaah calon haji pada setiap musim haji, seperti keberangkatan jemaah calon haji asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada musim haji 2026 yang dijadwalkan menuju Madinah dimulai pada 1 Mei 2026 untuk kloter 7 dan disusul hari berikutnya berturut-turut untuk kloter 8 dan kloter 9 melalui embarkasi Palembang, tentu menjadi momen haru dan bahagia tak terhingga saat dapat memenuhi panggilan-Nya, setelah lama mendambakan, merindukan, berusaha, dan akhirnya terpenuhi, datang bertamu ke rumah Allah (Baitullah).

Tidak sedikit calon haji yang meneteskan air mata saat dilakukan pelepasan keberangkatan. Momen haru dan bahagia ini, hendaknya tidak hanya dirasakan oleh jemaah saat keberangkatan, akan tetapi menjadi harapan bahwa momen ini akan dirasakan jemaah selama pelaksanaan rangkaian ibadah haji hingga kembali ke tanah air.

Agar momen bahagia dan haru ini tetap terjaga sepanjang pelaksanaan rangkaian ibadah haji, setidaknya jemaah harus tetap mengedepankan rasa kebersamaan, jiwa sosial, dan rasa persatuan serta saling menghargai di antara anggota jemaah.

Berdasarkan pengalaman penulis menjalankan rangkaian ibadah haji pada tahun 2025, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi jemaah dan keluarga yang ditinggal di tanah air, agar rasa bahagia dan haru tetap terjaga dalam diri jemaah.

Pertama, menjaga kebersamaan. Ibadah haji bukan semata melaksanakan ibadah spiritual pribadi. Akan tetapi, terdapat ibadah sosial, menjaga kebersamaan dengan ada orang-orang di sekitar kita yang juga tujuan yang sama, memenuhi panggilan-Nya. Menjaga kebersamaan, tidak mementingkan egois menjadi hal yang penting agar kebahagiaan akan selalu dirasakan selama melaksanakan rangkaian ibadah haji.

Bersikap egois, tanpa peduli orang-orang sekitar sesama anggota jemaah khususnya, tentu menghilangkan esensi yang tergambar pada pakaian ihram, agar setiap manusia dalam bergaul menghormati antar sesama, mengedepankan sifat-sifat mulia, memperlakukan manusia dengan baik dan menghindari perbuatan-perbuatan buruk.

Pengalaman penulis, permasalahan-permasalahan seperti penanganan jemaah lansia termasuk jemaah disabilitas (membutuhkan pendorongan) ketika pelaksanaan tawaf dan sai dapat teratasi, terutama jemaah yang tidak memiliki kesiapan dana untuk membayar sewa pendorong kursi roda. 

Dengan kebersamaan, membuang ego, semua teratasi tanpa merepotkan PPIH yang jumlahnya sangat terbatas dan dipastikan tidak dapat meng-handle jika diserahkan sepenuhnya kepada mereka meskipun mereka ditugaskan untuk itu.

Kedua, menjaga kekompakan. Kekompakan jemaah terutama dalam rombongan menjadi penting untuk menjaga jemaah tetap aman, meminimalkan risiko tersesat dan kehilangan anggota rombongan. Dengan menjaga kekompakan, maka memudahkan koordinasi dalam perjalanan menuju tempat ibadah sehingga dengan kekompakan itu memberi semangat dan motivasi bagi anggota yang mungkin merasa lelah atau kesulitan. Pada akhirnya, kekompakan membantu menjaga ketertiban sehingga ibadah dapat dijalankan dengan lebih khusyuk.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved