Tribunners
Ramadan Momentum Perbaikan Diri Bersama
Salah satu inti dari puasa adalah pengendalian diri. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perilaku buruk seperti gibah
Oleh: Dr. Kartika Sari, M.Pd.I. - Pengawas Madya Kementerian Agama Kota Pangkalpinang
RAMADAN bukan hanya sekadar bulan yang ditandai dengan kewajiban puasa, tetapi juga momentum berharga untuk memperbaiki diri secara menyeluruh—baik secara spiritual, emosional, maupun sosial. Setiap muslim memiliki kesempatan untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan menjalankan ibadah yang lebih baik, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Namun, sering kali kita menjalani Ramadan secara mekanis—hanya sebatas menahan lapar dan haus tanpa meresapi esensinya. Padahal, jika dijalani dengan kesadaran penuh, Ramadan bisa menjadi titik balik bagi kehidupan kita. Ia hadir sebagai bulan pendidikan jiwa, yang mengajarkan nilai kesabaran, pengendalian diri, serta kebersamaan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana Ramadan dapat menjadi momentum perbaikan diri bersama, baik dalam skala individu maupun komunitas.
Ramadan sebagai waktu introspeksi diri
Salah satu inti dari puasa adalah pengendalian diri. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perilaku buruk seperti marah, gibah (menggunjing), serta perbuatan sia-sia. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri—mengevaluasi sejauh mana kualitas ibadah dan akhlak kita selama ini. Allah berfirman dalam Al- Qur’an: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membentuk ketakwaan. Ketakwaan inilah yang seharusnya menjadi indikator utama perbaikan diri selama bulan Ramadan.
Banyak di antara kita yang sibuk dengan rutinitas dunia hingga lupa melakukan perenungan diri. Ramadan memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam hati, dan bertanya: Apakah selama ini kita telah menjadi pribadi yang lebih baik? Apakah kita sudah cukup berbuat baik kepada keluarga, sahabat, dan masyarakat? Jika belum, inilah saat yang tepat untuk memulai perubahan.
Meningkatkan kualitas ibadah
Ramadan adalah bulan yang penuh berkah di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, banyak umat muslim berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah mereka. Namun, sering kali kita terjebak dalam rutinitas ibadah tanpa memahami esensinya. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56) Ayat ini menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah, dan Ramadan menjadi momen yang tepat untuk memperkuat kesadaran ini.
Salat Tarawih, misalnya, sering kali hanya dianggap sebagai ritual tambahan tanpa disertai kekhusyukan. Membaca Al-Qur’an hanya sekadar mengejar target khatam tanpa merenungi maknanya. Momentum Ramadan seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas ibadah, bukan sekadar menambah kuantitasnya.
Meningkatkan kualitas ibadah dapat dilakukan dengan memahami makna dari setiap ibadah yang kita lakukan. Salat Tarawih seharusnya menjadi momen mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar mengejar rakaat. Tilawah Al-Qur’an sebaiknya disertai dengan tadabur sehingga ayat-ayat yang kita baca benar-benar menyentuh hati dan membentuk karakter kita.
Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial
Salah satu esensi Ramadan yang sering terlupakan adalah kepedulian terhadap sesama. Puasa mengajarkan kita bagaimana rasanya lapar dan haus sehingga kita bisa lebih memahami kondisi mereka yang kurang beruntung. Oleh karena itu, bulan ini menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah, zakat, serta berbagai bentuk bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Allah berfirman: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (QS. Adz-Dzariyat: 19)
Sayangnya, dalam praktiknya, banyak orang yang justru terjebak dalam konsumsi berlebihan saat Ramadan. Berbagai hidangan mewah tersaji di meja makan, sementara di luar sana masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan makanan. Inilah yang harus diubah.
Ramadan bukan tentang berfoya-foya, tetapi tentang berbagi. Jika setiap muslim benar-benar memahami makna berbagi, maka Ramadan akan menjadi bulan yang penuh berkah tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.
Membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221123_Kartika-Sari-Guru-SMA-Muhammadiyah-Pangkalpinang.jpg)