Tribunners
Aktifkan Kebahagiaan melalui Koneksi dengan Allah Swt
Dengan adanya koneksi maka menghadirkan kejernihan hati dan ketenangan pikiran sehingga menemukan jalan keluar terbaik
Oleh: Novia Hana Septiawati, S.Psi. - Fasilitator di SDIT Alam Cahaya
DALAM kehidupan ini, kapan pun dan di mana pun pasti menemui situasi yang tidak mengenakan dan sesuai harapan. Hal tersebut membuat perasaan menjadi tidak bahagia, kesal, bimbang, putus asa, hingga stres. Misalnya saja ketika menemukan masalah pada keluarga, tetangga, pertemanan, dan lingkungan pekerjaan yang membuat pikiran menjadi suntuk dan merasa terbebani. Pikiran-pikiran tersebut lama-kelamaan akan menumpuk, mengganggu aktivitas dan menghilangkan kebahagiaan.
Apabila meninjau secara psikologi, kebahagiaan merupakan emosi-emosi positif berupa harapan, optimisme, keyakinan, kepuasan, kebanggaan serta kehidupan yang menyenangkan dan bermakna yang terjalin melalui hubungan positif dengan orang lain, penemuan makna diri dan resiliensi. Adapun kebahagiaan dalam Islam merupakan kondisi jiwa seseorang yang terdiri dari perasaan tenang, damai, serta rida terhadap diri sendiri dan ketetapan Allah.
Setiap orang memiliki tolok ukur kebahagiaan yang berbeda-beda, bisa berupa hal yang sederhana maupun dalam bentuk kecukupan materi. Namun, sering kali permasalahan yang terjadi membuat seseorang tidak mampu menghadapi dan cenderung menyalahkan situasi. Cara terbaik untuk menyikapi hal tersebut adalah dengan tidak memandang masalah itu sebagai beban, namun sebagai suatu berkah dan proses penguatan iman melalui ibadah, doa, serta tawakal kepada-Nya.
Kita dapat mengambil kisah yang dialami Ibunda Siti Hajar nan mulia. Kisah ketika beliau ditinggal oleh suami tercinta, Nabi Ibrahim, atas perintah Allah. Ditinggalkan di padang pasir yang tandus dan jauh dari keramaian bersama Nabi Ismail yang masih belia. Ketika itu. Nabi Ismail kecil merasa kehausan sehingga Siti Hajar bolak-balik berlari dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah untuk mencari sumber mata air.
Kejadian tersebut tidaklah membuat Siti Hajar menyalahkan takdir yang dimilikinya, namun makin meningkatkan keimanannya dengan bertawakal kepada sang pemilik segalanya, Allah Swt. Hikmah dari ikhtiar dan tawakal tersebut, Allah menganugerahkan mata air yang berasal dari hentakan kaki Nabi Ismail kecil bernama air zamzam yang mencukupkan kebutuhan mereka. Selain itu, keberkahan air zamzam pun dapat dirasakan hingga saat ini.
Karena sungguh Allah telah berfirman dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 286 yang artinya: ”Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya”. Selain itu, dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 153, Allah berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Di situlah letak pentingnya terkoneksi dengan Allah Swt, karena dengan adanya koneksi maka menghadirkan kejernihan hati dan ketenangan pikiran sehingga menemukan jalan keluar terbaik. Koneksi dengan Allah terdiri dari pertama koneksi raga (fisik) yang diwujudkan dengan mensyukuri serta muhasabah diri atas segala nikmat yang telah Allah berikan berupa mata, telinga, mulut, tangan, kaki, kesehatan yang telah diberikan dan nikmat lainnya.
Kedua, koneksi pikiran yang diwujudkan dengan menyelaraskan antara pikiran dengan fitrah yang Allah berikan, menjauhkan diri dari prasangka buruk, berpikir lurus dan tidak menyepelekan kekuatan Allah dengan meninggikan akal pikiran daripada ilmu-Nya. Ketiga, koneksi jiwa yang diterapkan dengan mengenal Allah melalui sifat-sifat dalam asmaul husna, merasa kehadiran Allah dalam setiap aktivitas serta merasa gelisah apabila melakukan kemaksiatan.
Selain itu, bentuk lain dari terkoneksinya seseorang pada Allah ialah dengan melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah Swt, bergerak karena Allah yang memerintahkannya dan berhenti karena Allah melarangnya serta meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena izin dan kehendak Allah. Dengan adanya koneksi yang dimiliki antara manusia dengan Allah Swt, maka akan menjadikan pribadi tersebut senantiasa dinaungi oleh Allah Swt dan diberikan bimbingan serta petunjuk yang mengantarkan pada kebahagiaan sejati.
Semoga madrasah Ramadan ini mampu meningkatkan koneksi kita dengan Allah Swt. Tidak hanya di bulan Ramadan ini saja, tetapi juga untuk sepanjang tahun sisa umur hidup kita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250309_Novia-Hana-Septiawati.jpg)