Kamis, 16 April 2026

Tribunners

Dunia Tanpa Perang, Mungkinkah?

Dalam perspektif Islam, dunia tanpa perang bukanlah utopia yang mustahil, melainkan bagian dari visi etis dan spiritual manusia.

Editor: suhendri
Dokumentas M Bachtiyar
M Bachtiyar, S.Pi., M.T. - Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA 

Oleh: M. Bachtiyar, S.Pi., M.T. - Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA

LEDAKAN itu mungkin terjadi jauh, di langit negara lain. Namun, dampaknya terasa dekat, bahkan di meja makan kita. Harga bahan pokok naik, energi menjadi mahal, dan ketidakpastian merambat pelan ke kehidupan sehari-hari. Perang hari ini tidak lagi terbatas pada garis batas negara. Ia menjelma menjadi fenomena global yang memengaruhi siapa pun, di mana pun.

Di satu sisi, dunia berbicara tentang gencatan senjata. Di sisi lain, rudal tetap diluncurkan. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memperlihatkan ironi itu. Damai diumumkan, tetapi serangan tetap terjadi ke Lebanon. Damai tampak lebih seperti jeda taktis daripada tujuan akhir.

Realitas itu bukan pengecualian. Menurut laporan yang dirilis dan diberitakan Reuters pada April 2026, merujuk pada analisis lembaga internasional, lebih dari 35 negara masih terlibat dalam konflik bersenjata dalam beberapa tahun terakhir (2023–2025), dengan dampak yang menjangkau hampir setengah populasi dunia.

Perang tidak hanya mencabut nyawa dan menghancurkan kota. Ia juga menciptakan efek domino yang luas: inflasi meningkat, utang negara membengkak, dan pertumbuhan ekonomi menurun. IMF mencatat bahwa negara yang terlibat perang bisa mengalami penurunan output ekonomi sekitar 7 persen dalam lima tahun, dengan dampak yang bertahan lebih dari satu dekade.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, sejarah manusia tampak seperti rangkaian konflik tanpa henti. Dari perang antarkerajaan hingga konflik antarnegara modern, kekerasan sering dianggap bagian dari dinamika kekuasaan. Namun, apakah perang benar-benar tak terhindarkan?

Indonesia, melalui Pembukaan UUD 1945, memberikan jawaban moral yang tegas. “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Ini bukan sekadar retorika, melainkan visi peradaban. Sebuah keyakinan bahwa dunia tanpa penindasan dan perang adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.

Dunia yang seakan terus bersiap untuk perang

Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), belanja militer global pada tahun 2024 mencapai sekitar 2,7 triliun dolar AS, mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah sekaligus menandai tren kenaikan yang berlangsung selama satu dekade berturut-turut. Peningkatan ini tidak berdiri sendiri. Laporan yang diberitakan Reuters pada periode yang sama menunjukkan bahwa lebih dari 100 negara turut menaikkan anggaran militernya, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan rasa saling curiga antarnegara.

Dalam lanskap tersebut, konsentrasi belanja militer dunia tampak sangat terpusat. Data SIPRI yang dikutip berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih menjadi negara dengan pengeluaran militer terbesar, mendekati 1 triliun dolar AS, diikuti oleh China dan Rusia dengan selisih yang cukup signifikan. Di bawahnya, negara-negara seperti Jerman, India, Inggris, Arab Saudi, Ukraina, Prancis, dan Jepang juga mencatat angka belanja yang sangat besar, mencerminkan intensitas persaingan kekuatan di berbagai kawasan.

Secara keseluruhan, sepuluh negara dengan belanja militer terbesar ini menyumbang sekitar 73 persen dari total pengeluaran militer global. Artinya, sebagian besar sumber daya dunia tidak diarahkan pada pembangunan kesejahteraan, melainkan pada persiapan menghadapi kemungkinan konflik. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan dari realitas global: dunia masih lebih siap untuk perang daripada untuk perdamaian.

Fenomena tersebut memperlihatkan paradoks besar. Makin canggih peradaban manusia, makin besar pula sumber daya yang dialokasikan untuk kehancuran. Sains dan teknologi yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup justru banyak diarahkan untuk memperkuat kapasitas militer.

Dalam konteks ini, analisis J.D. Bernal menjadi relevan. Dalam World Without War (1958), ia menegaskan bahwa “persiapan perang menghalangi pemanfaatan sains untuk kesejahteraan.” Ia melihat bahwa dunia sebenarnya memiliki kapasitas material untuk menciptakan kemakmuran global, tetapi terhambat oleh prioritas politik dan ekonomi yang salah.

Mungkinkah dunia tanpa perang? 

Pertanyaan tentang dunia tanpa perang tidak bisa dijawab hanya dengan harapan. Ia membutuhkan analisis ilmiah yang serius. Di sinilah pemikiran J.D. Bernal dan Joseph Rotblat menjadi penting. Bernal, yang menulis di tengah Perang Dingin, melihat perang sebagai kegagalan sistem ekonomi-politik. Baginya, ancaman nuklir telah mengubah perang menjadi sesuatu yang tidak lagi rasional. Ia menunjukkan bahwa jika sumber daya yang digunakan untuk militer dialihkan ke sektor produktif, dunia bisa mencapai kesejahteraan global dalam satu generasi.

Sementara itu, Joseph Rotblat, fisikawan nuklir yang dianugerahi Nobel Perdamaian tahun 1995 atas perjuangannya dalam perlucutan senjata nuklir, menekankan bahwa perang bukanlah keniscayaan biologis, melainkan konstruksi sosial yang dapat diubah. Mengacu pada Deklarasi Seville UNESCO (1986), Rotblat menyatakan bahwa tidak ada dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa manusia secara genetis ditakdirkan untuk berperang. Dengan kata lain, perang bukan keniscayaan, melainkan pilihan.

Perbedaan pendekatan keduanya justru saling melengkapi. Bernal berbicara tentang perubahan struktur. Ekonomi, distribusi sumber daya, dan sistem global. Rotblat berbicara tentang perubahan nilai. Pendidikan, kesadaran, dan identitas kemanusiaan. Jika disatukan, keduanya memberikan kerangka yang kuat. Dunia tanpa perang membutuhkan transformasi simultan, baik secara material maupun moral.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved