Opini

Mudik Religius

Mudik merupakan dambaan masyarakat Indonesia hampir tiap tahun. Hanya untuk mudik, sebagian besar masyarakat rela menyiapkan pembekalan lahir

Editor: Hendra
ISTIMEWA
Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil. I., M. Ag. - Kepala Kanwil Kemenag Prop. Kep. Bangka Belitung 

MUDIK RELIGIUS

Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil. I., M. Ag, 
Kepala Kanwil Kemenag Prop. Kep. Babel  

Mudik merupakan dambaan masyarakat Indonesia hampir tiap tahun. Hanya untuk mudik, sebagian besar masyarakat rela menyiapkan pembekalan lahir maupun batin dengan antusiasme cukup tinggi. Hampir tidak ada masyarakat, terutama penganut agama Islam yang sebelumnya menjalani puasa Ramadan yang mengabaikan momentum mudik ini.

Bahkan mayoritas mereka justru dengan sengaja mengancang-ancang melalui sekian spirit, kreasi, inovasi untuk senantiasa menghiasi mudik tiap tahun. Tak berlebihan jikalau mudik, sebagai momentum tahunan ini terlihat sangat mempengaruhi dinamika sosial kebangsaan dan kenegaraan. Bukan sekadar menimbulkan kemacetan berkendaraan di jalanan, tetapi seringkali pula “menggoyang” sosial perekonomian sebagian masyarakat.  

Memajukan waktu libur nasional dari tanggal 28 ke 21 Maret 2025, merupakan keputusan pemerintah agar ikut mengurai dan meminimalisir dampak dari pada mudik massal yang selalu fenomenal. Sebagai kebijakan resmi, hal ini patut diapresiasi sekaligus juga memerlukan antisipasi dan edukasi. Kurang baik kalau dibiarkan mengalir saja.

Diapresiasi karena terlihat pemerintah memiliki kepekaan terhadap getar aspirasi dan kehendak rakyat, terutama yang sedang menjalani puasa Ramadan dan hendak menyambut Hari Kemenangan, Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2025 M. Perlu diedukasi lantaran waktu libur memang begitu lama (menyentuh 20 harian), berbeda dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya yang berkisar antara 1 mingguan saja. 

Dari aspek efektifitas dan efisiensi kerja-kerja kebangsaan serta kenegaraan, tentu melahirkan hal-hal tersendiri, baik yang positif maupun negatif. Walau terpulang pada perspektif masing-masing masyarakat, hal positifnya pasti terasa lebih banyak ketimbang yang negatif. Libur agak panjang, diakui atau tidak, senantiasa didamba oleh sebagian besar masyarakat “per-kantoran.”

Terlepas dari, untuk apa, dan bagaimana mereka memaksimalkan, yang jelas kalau sudah libur, senyum dan tawa suka-ria akan tampak nyata di kalangan mereka. Ini bagian positif paling riil. Tidak akan ada yang membantah, memprotes, apalagi “mendistorsi.” Sebab dengan libur, ada banyak waktu mereka rehat, menepi sejenak dari pelbagai kesibukan dan tumpukan pekerjaan, sekaligus menikmatinya penuh keceriaan bersama sosok terdekat. 

Tak Perlu Teori

Mudik rasanya memang tak selalu perlu teori. Ia adalah simbol kepulangan setiap orang dari rantau menuju kampung halaman, tempat awal mereka lahir dan bertumbuh semasa kecil. Yang dibutuhkan dalam mudik hanya spirit, semangat, dan bekal berbasis kerinduan sejati untuk keluarga serta tanah kelahiran. Sebab mudik itu merupakan bagian dari aktualiasi perjumpaan kembali yang penuh kehangatan dan kemesraan.

Dari dan untuk mudik, setiap diri kadang rela mengorbankan apa yang dimiliki, baik menyangkut aspek lahir maupun batin. Hanya demi mudik, kenyataan yang selama ini berlangsung, rintangan-rintangan seperti jarak, waktu, dan teknis lain jarang dipersoalkan. Semangat mudik, adalah semangat “perang 45,” spirit perjuangan menunaikan rindu dan kesetiaan terhadap keluarga, leluhur, dan tanah tumpah darah.

Terang bahwa mudik tak butuh teori, apalagi yang “akademis.” Kalau pun dapat disebut sebagai “teori,” kebutuhan mudik bagi siapa saja “teori”nya hanya satu, yakni “teori cinta dan kerinduan.” Teori kepekaan (rasa) dan kesetiaan. Teori sungkeman dan permaafan atasnama ketulusan menyadari dan menempatkan rindu berbasis perjumpaan universal.

Teori getar hati nurani untuk memeluk bagian dari alur rasional-emosional kolektif. Teori yang benar-benar lepas dari logika atau nalar “material” belaka. Teori yang bahan dan warna serta kualitasnya senantiasa bersentuhan dengan “logika” atau “nalar” rindu yang dibungkusi nilai-nilai romantika. Dan rindu, mengutip prinsip sebagian penyair, adalah “doa esensial” yang sering luput dari pandangan mata dhahir tiap manusia. Ini doa yang mahal, simbolik, dan ikonik. 

Menjalani mudik tidak mesti berlebihan. Mudik hendaknya selalu beranjak dan berpijak pada “amanah kekeluargaan.” Memperkuat relasi sosial dan koneksitas dari dan demi kolektifitas berbasis kekeluargaan yang kian berkualitas. Sehingga mudik tidak disalah-kafrahkan atau malah rusak secara substansial. Mudik itu kepulangan “religiusitas” diri yang luhur.

Kepulangan romantika keterikatan sosial antar sanak keluarga. Kepulangan yang sama sekali jauh dari obsesi hegemonik, eksploitatif, dan parsialistik. Melalui perspektif ini, mudik akan terus menjadi bagian edukasi kerinduan (perjumpaan) menghangatkan dari dan antar keluarga bermasyarakat. Mudik benar-benar akan mewujud layaknya aktualisasi kemenangan lahir dan batin dalam artikulasi nilai-nilai kehambaan dan komitmen kemasyarakatan. 

Dengan demikian, secara implementatif, mudik tidak akan salah sasaran dan melahirkan hal-hal kontradiktif. Seyogianya mudik dijalani dengan kelapangan dada, keterbukaan hati, keluwesan pikiran, kebesaran jiwa, dan tidak semata mengangkut “benda-benda” duniawiyah ke kampung halaman.

Siapa dan dimana pun yang melakukan mudik akan lebih etik, artistik, dan estetik. Mudik ditancapkan sebagai jembatan penyambung energi pematangan rohaniah, religiusitas, dan spiritualitas, bukan hanya momentum tahunan untuk berliburan. Itulah potret mudik imaniyah berhias nilai-nilai keberagamaan dan berlapis esensialitas ketuhanan.

Ini mudik religius, yakni tidak dilekatkan sebagai ritualitas sosial belaka, melainkan sungguh dikonstruksi layaknya siklus perjumpaan rohaniah, perekatan emosionalitas, dan cahaya ukhuwah insaniyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah.

Memompa Ketakwaan

Disadari atau tidak, mudik sejatinya juga memompa ketakwaan. Bukan semata menyangkut vertikalitas-imaniyah, melainkan dalam konteks horizontalitas-insaniyah. Ia tidak sekadar menyegarkan relasi tiap diri dengan Tuhan, hablu min Allah, tetapi juga menyuburkan pertumbuhan interkoneksi dan harmoni diantara sesama, hablu min al-Nas.

Barangkali ini yang dimaksud konstruksi relasional sosio-humanistik universal, jejak nyata spiritualitas praksis dalam berkehambaan sekaligus berkemanusiaan.

Jejak religius yang benar-benar meneladani keluhuran pola pikir, mentalitas, maupun sikap sosial kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad di hadapan manusia. Sehingga pantas kalau Alquran sampai menobatkan Rasulullah Saw selaiknya pemilik budi pekerti, akhlak, dan moralitas yang agung nan bersahaja (QS. Al-Qalam : 4).

Dalam rangka memompa ketakwaan, mudik mesti dijadikan sebagai media silaturrahim religius yang melahirkan dan mentransformasikan kebaikan-kebaikan ilahiah.

Apalagi bagi masyarakat Jawa, Madura, dan (mungkin) juga Melayu, yang secara naluri sosialnya memang cenderung religius (Asti Musman, 2024 : 1 dan 5), rasanya spirit mudik perspektif religius ini bukan hambatan. Bisa jadi tanpa disadari telah memiliki alur kesenyawaan yang kalau diasah akan cepat terintegrasi dan terinternalisasi. Ibarat ruh ketemu jasad atau jiwa berpadu dengan tubuh.

Artinya, mudik religius patut dioptimalisasi sebagai jalur konstruksi pemompaan nilai-nilai maupun komitmen luhur ketakwaan. Minimal demi saling alirkan kebajikan atasnama sesama makhluk Tuhan, saling memaafkan, menipiskan egoisme, saling melengkapi hak dan kewajiban adamiyah maupun kematangan ubudiyah. 

Sebagaimana telah ditegaskan Allah SWT dalam Alquran, bahwa bagian dari tugas luhur manusia selaku hamba sejatinya ialah terus menerus untuk bersedekah, menyerukan dan berbuat kebajikan, memaksimalkan fungsi kekhalifahan serta mendamaikan manusia sekira diantara mereka sedang mengalami hal yang kurang harmoni (QS. Al-Nisa : 114).

Terlebih lagi perilaku mendamaikan itu sangat baik, produktif, dan telah sejalan dengan napas etik-humanistik. Secara obyektif, sulit untuk disangkal. Begitu esensialistik. Ini merupakan wujud moralitas humanistik yang sangat potensial, juga aktualisasi keteladanan berbasis spiritual yang aktual.

Bahkan Alquran pun sedemikian lama telah mengajarkan agar kita saling berlomba dalam membumikan kebaikan maupun ketakwaan (QS. Al-Maidah : 2). Instruksi Tuhan yang lugas, sama sekali tidak etis kalau diabaikan.

Cukup terang bahwa mudik religius merupakan keniscayaan. Ia bukan sekadar pesta hari rayaan, bukan pula pergeseran hari kerja ke masa liburan belaka. Memaknai mudik mesti berangkat dari kesadaran imani, sehingga ketersambungan silaturrahim antar sanak keluarga semakin berisi dan berkah.

Menginternalisasi mudik pun tidak boleh semata untuk berangkulan secara parsialistik, hal ini hanya akan mendistorsi kasih Tuhan dalam kelangsungan kesemestaan secara temporalistik.

Agar menjadi mudik religius seutuhnya, maka jalani dan warnai mudik ini sebagaimana ksatria medan perang menyambut Hari Kemenangan, hari kelapangan, hari kelegaan, hari kebahagiaan, hari suka ria, hari luapan kerinduan batini-imani demi transformasi humanitas, kolektifitas, dan pencerahan teologis maupun sosiologis keberhambaan.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved