Tribunners

Tri Pusat Pendidikan, Kunci Suksesnya Pendidikan

Peran tripusat pendidikan sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembentukan karakter

Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Abdussalam Alghozali
Abdussalam Alghozali - Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA, Toboali, Bangka Selatan 

Oleh: Abdussalam Alghozali - Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA, Toboali, Bangka Selatan

MASIH dalam suasana penghujung bulan Ramadan yang tinggal beberapa hari lagi usai, sebuah pertanyaan mengemuka, apakah tujuan pendidikan (tarbiah) yang dicanangkan di dalam bulan puasa telah terlaksana? Sebagaimana dalam sebuah perjalanan yang hendak ditempuh, maka diperlukan sebuah perencanaan, begitu pula dengan pendidikan dan pembelajaran. 

Menurut Ragan & Smith (1992) yang dikutip oleh (Jaya, 2019),  perencanaan pembelajaran berkaitan dengan proses yang sistematik dalam menerjemahkan prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran ke dalam suatu perencanaan materi dan kegiatan pembelajaran. Jadi, perencanaan pembelajaran adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk melaksanakan tugas mengajar/aktivitas pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran serta melalui langkah-langkah pembelajaran, perencanaan itu sendiri, pelaksanaan dan penilaian, dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. 

Perencanaan berasal dari kata dasar “rencana” berarti membuat rancangan sketsa (kerangka sesuatu yang akan dikerjakan). Ilmu manajemen pendidikan mengasumsikan, perencanaan disebut dengan istilah “planning”, yaitu persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. 

Karena menurut ilmu manajemen, perencanaan berperan menentukan tujuan dan prosedur mencapai tujuan, memungkinkan organisasi mendapat sumber daya untuk mencapai tujuan, memperjelas bagi anggota organisasi melakukan berbagai kegiatan sesuai tujuan dan prosedur dan memungkinkan untuk memantau dan mengukur keberhasilan organisasi serta mengatasi bila ada kekeliruan. Perencanaan pembelajaran adalah proses menspesifikasi kondisi-kondisi untuk belajar sehingga tercipta strategi dan produk pembelajaran, baik pada level makro maupun mikro (Jaya, 2019). 

Kegiatan belajar tidak hanya sebatas pembelajaran yang dilakukan pada pendidikan formal, melainkan pendidikan yang dilakukan sejak manusia itu lahir. Dengan demikian, rencana pembuatan kegiatan belajar sudah bisa dilakukan, yaitu rancangan besar pembelajaran. Pedoman pembelajaran yang harus dilakukan seorang muslim adalah sesuai dengan fitrah, yakni fokus penguatan tauhid dan akhlak. hal ini menjadi fokus keluarga.

Karena orang tua adalah tempat pertama dan utama dalam pendidikan seorang anak. Sejalan dengan teori dari Ki Hajar Dewantara tentang “tri pusat pendidikan.” Beliau mengatakan, “Tiga pusat pendidikan yaitu meliputi pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, dan pendidikan di dalam masyarakat. Keluarga adalah lembaga terkecil masyarakat yang memiliki tanggung jawab dalam mendidik anak bertujuan agar menjadikannya masyarakat yang bermoral”. 

Enam puluh sampai delapan puluh persen anak-anak menghabiskan waktunya bersama keluarga hingga usia 18 tahun. Mereka masih membutuhkan orang tua dan kehangatan dalam keluarga. Karakter seorang anak terbentuk terutama pada saat berusia 3 hingga 10 tahun. (Tahsinia et al., 2022).                                 

Pendekatan yang digunakan oleh orang tua dalam membentuk karakter ini adalah salah satunya dengan pembiasaan yang baik dalam kegiatan sehari-hari, menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam berperilaku dan bersikap. Maka hanya dengan melihat orang tuanya, yang senantiasa bersikap baik, memiliki karakter yang baik, hal itu memberikan pengaruh yang sangat besar dalam diri seorang anak. Banyak cara yang dapat dilakukan orang tua dalam membentuk karakter anak, seperti dengan memberi contoh, membiasakan hal-hal baik, berkomunikasi, serta melibatkan anak dalam kegiatan rumah. Dengan demikian, karakter yang ditanamkan orang tua pada anak sejak dini akan membentuk anak lebih percaya diri, lebih kuat dan dapat membawa diri dalam lingkungannya. (Tahsinia et al., 2022).

Pembentukan karakter akan lebih efisien dan efektif jika terjadi kolaborasi antara orang tua dengan sekolah, karena rencana belajar yang dirancang dan dijalani, dan pembelajaran tersebut dilanjutkan di sekolah yang disesuaikan dengan minat, bakat, dan arah pendidikan yang ingin dicapai dari anak atau peserta didik. Rancangan ini bersifat jangka panjang, yang harus dilakukan evaluasi setiap jangka waktu tertentu sehingga bisa mengatur dan mengarahkan anak, peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. 

Terdapat tiga fase dalam pendidikan anak. Fase pertama, 0-7 tahun adalah fase bermain, kita jadikan mereka sebagai raja, namun tetap dilakukan pengawasan, dan menyelipkan nilai-nilai dalam permainan yang mereka lakukan. Fase kedua, 7-14 tahun adalah fase pengajaran akhlak dan tata krama. Pada fase ini mulai diajarkan salat, dan jika perlu pada usia 10 tahun belum bisa melakukan salat, perlu pemaksaan. Fase ketiga 14-21, adalah fase dialogis, yaitu anak diajarkan menceritakan hal-hal yang dihadapinya. 

Peran orang tua sangat penting pada setiap tahapan tersebut. Menurut Ali bin Abi thalib, fase 0-7 tahun jadikan dia sebagai raja, 7-14 tahun jadikan dia sebagai tahanan, 14-21 tahun jadikan dia sebagai teman. Tidak semua orang tua dan guru memahami konsep fase-fase tersebut. Maka proses pemahaman harus disosialisasikan dalam kehidupan masyarakat, baik di tingkat sekolah ataupun di masyarakat. 

Adapun dalam pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas yang dilakukan oleh seorang guru, terdapat dua cara pembelajaran, yaitu pembelajaran langsung (direct instruction), yakni pembelajaran langsung mengutamakan sistem dan keterampilan motorik siswa sehingga pembelajaran dilakukan lebih sistematis dan terstruktur, dilakukan di ruang-ruang kelas, memiliki perencanaan yang matang yang disesuaikan dengan kurikulum. 

Menurut (Enrekang & Parepare, 2018), guna suksesnya strategi pembelajaran diperlukan pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Hal ini sangat memengaruhi daya serap peserta didik terhadap materi ajar dan diharapkan pengetahuan keislaman dapat menjadi tameng bagi peserta didik terhadap perilaku menyimpang yang menafikannya dari ciri kepribadian muslim. Agar materi tersebut tidak sekedar diketahui untuk diujiankan atau sekadar menjalankan tuntutan kurikulum dan tugas. 

Beberapa hal yang dapat digunakan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu metode persuasif, metode  kisah yang berisi targīb dan tarhib serta metode pengambilan pelajaran dan peringatan (nasihat). Metode persuasif berarti pendekatan kepada peserta didik mulai dari pengetahuan kondisi, motivasi, tingkat kecerdasan sampai latar belakang peserta didik sangat diperlukan dalam pembelajaran. Inilah nantinya yang dijadikan dasar oleh guru untuk menentukan arah pembelajaran selanjutnya.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved