Tribunners
Deep Learning: Pendidikan Emas di Sekolah Dasar
Pendekatan deep learning di tingkat SD bisa diimplementasikan dalam rupa mengintegrasikan proyek yang berbasis pengalaman pada pembelajaran dan sains
Oleh: Tuti Erawati, S.Pd.I. - Guru SDN 28 Manggar, Kabupaten Belitung Timur
PERNAHKAH kamu bertanya-tanya kenapa banyak anak-anak sekolah sekarang lebih tertarik main game atau scrolling media sosial ketimbang duduk manis mendengarkan gurunya menjelaskan pelajaran? Gampang saja jawabannya: sebab belajar di sekolah saat ini sering kali terasa seperti memaksa otak untuk masuk ke dalam labirin tanpa peta! Jika benar, bagaimana mungkin generasi Z bisa siap menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045 yang penuh persaingan?
Tetapi, jangan khawatir, ada solusi yang bagus bisa mengubah cara kita mengajar dan belajar, yaitu deep learning. Tidak hanya teknik untuk menghafal rumus-rumus matematika atau susunan kata bahasa asing, ini tentang bagaimana membuat setiap pelajaran jadi petualangan seru, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, dan pastinya membuat pembelajaran jadi mendalam dan bermakna. Di sekolah dasar (SD), saat fondasi pendidikan dibangun, deep learning mampu menjadi kunci guna mencetak generasi yang cerdas, kreatif, kritis, dan siap menjawab tantangan masa depan.
Perjalanan mencapai Indonesia Emas 2045 mendatang, pendidikan menjadi landasan utama yang dapat menentukan kualitas generasi penerus bangsa. Sebagai bagian dari sistem pendidikan, SD memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan pengetahuan dasar anak-anak kita. Salah satu pendekatan yang makin relevan dan efektif diimplementasikan di tingkat SD sekarang ini adalah deep learning atau pembelajaran mendalam. Pendekatan ini menawarkan cara baru dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar menghafal saja, tetapi lebih pada pemahaman dan aplikasi pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Istilah deep learning terkesan masih terbilang baru dalam dunia pendidikan, esensinya sudah diajarkan oleh tokoh pendidikan progresif seperti John Dewey pada abad ke-20 lalu. Dewey percaya bahwa pendidikan harus bersifat experiential, yaitu berbasis pengalaman langsung, yang tidak hanya membuat murid menerima informasi secara pasif, tetapi melibatkan mereka dalam proses berpikir kritis dan refleksi.
Menurut Dewey, pendidikan itu wajib fokus pada pemahaman mendalam, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari dan menumbuhkan kemampuan murid untuk berpikir secara analitis. Konsep inilah yang menjadi fondasi utama dari deep learning, yakni proses pembelajaran yang mendorong murid untuk lebih dari sekadar menghafal, melainkan memahami konsep secara utuh dan mampu mengaplikasikannya dalam berbagai konteks.
Pada tingkatan SD, deep learning bukan hal yang sulit untuk dijangkau. Pendekatan ini melibatkan pembelajaran yang mendalam, yang menghubungkan konsep-konsep pelajaran dengan pengalaman nyata dan kehidupan sehari-hari murid. Selain hafalan, juga lebih kepada pemahaman yang mendalam dan penerapan pengetahuan dalam situasi yang relevan bagi murid disesuaikan dengan tahapan berpikir dan umurnya.
Sebagai contoh, dalam mata pelajaran matematika, selain mengajarkan rumus, kita guru juga dapat mengajak murid untuk menyelesaikan masalah nyata, seperti menghitung biaya belanjaan di pasar, yang memungkinkan mereka melihat bagaimana matematika digunakan dalam kehidupan mereka. Pendekatan ini juga mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kreativitas. Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna bagi kehidupan riil mereka.
Pendekatan deep learning di tingkat sekolah dasar bisa kita implementasikan dalam rupa mengintegrasikan proyek yang berbasis pengalaman pada pembelajaran dan sains. Di sekolah, murid tidak hanya belajar teori, tetapi juga melakukan eksperimen nyata, seperti membuat kebun sekolah untuk memahami konsep ekosistem.
Pembelajaran deep learning juga bisa diterapkan dalam bentuk diskusi kelompok dan pemecahan masalah berbasis proyek, di mana murid diminta untuk merancang solusi bagi masalah sosial di sekitar mereka, seperti mengurangi sampah plastik di lingkungan sekolah.
Contoh penerapan pembelajaran deep learning tersebut pada sekolah dasar akan jauh berbeda dengan penerapan pada jenjang lebih tinggi. Terletak pada ketekunan dan kesabaran yang tinggi bagi guru dalam bimbingan dan pendampingan yang ekstra.
Selain itu, deep learning juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya yaitu pembelajaran yang lebih bermakna, maksudnya murid tidak hanya menghafal informasi, tetapi benar-benar memahami materi dan mampu mengaitkannya dengan dunia nyata. Kemudian peningkatan keterampilan kritis dan kreatif. Hal ini mendorong murid untuk berpikir analitis dan menyelesaikan masalah, melatih keterampilan berpikir kritis dan kreatif yang sangat penting di dunia modern. Lalu ada penerapan berkelanjutan, yakni pengetahuan yang didapat murid tidak hanya untuk ujian, tetapi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, meningkatkan relevansi pembelajaran dan pendidikan.
Adapun kekurangan pendekatan pembelajaran deep learning adalah adanya tantangan dalam implementasi. Kita memerlukan keterampilan khusus dari guru untuk merancang pembelajaran yang mendalam dan mengarah pada pemahaman yang utuh, bukan sekadar pengajaran rutin. Adanya keterbatasan sumber daya, di beberapa sekolah minim fasilitas atau sumber daya yang memadai untuk menerapkan pendekatan ini secara maksimal. Kemudian, ada kebutuhan pelatihan guru untuk menguasai metode ini lebih baik, memerlukan waktu dan biaya.
Suksesnya sebuah pembelajaran yang baik tak lepas dari peran guru dan keterlibatan orang tua. Sebagaimana guru merupakan fasilitator urgen dalam penerapan deep learning. Guru bukan hanya pengajar semata, tetapi pembimbing yang mendampingi murid dalam proses berpikir kritis, menyusun pertanyaan, serta menggali konsep-konsep secara lebih mendalam. Guru perlu mengembangkan keterampilan dalam merancang pembelajaran yang menarik dan relevan, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan terbuka untuk eksplorasi ide.
Peran orang tua dalam mendukung pembelajaran mendalam ini di rumah, mendorong untuk mengeksplorasi minat anak, mengajak berdiskusi tentang apa yang dipelajari di sekolah, dan mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat memperkenalkan kegiatan-kegiatan yang mendukung konsep pembelajaran, seperti berkunjung ke museum atau berdiskusi mengenai topik-topik yang relevan dengan pelajaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250414_Tuti-Erawati.jpg)