Senin, 18 Mei 2026

Free Trade Zone Belinyu

Pengusaha Belinyu Menunggu Tanjung Gudang Kembali Menggeliat

Di Belinyu, Afuk saat ini menjalankan usaha bongkar muat BBM cair di dermaga yang berada tepat di sisi Pelabuhan Tanjung Gudang.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fitriadi
(Bangkapos/Arya Bima Mahendra)/Arya Bima Mahendra
PELABUHAN BELINYU - Kapal perintis KM Sabuk Nusantara 48 saat bersandar dan menurunkan penumpang di Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu, Kabupaten Bangka, Rabu (21/1/2026). 

BANGKAPOS.COM - Deretan gudang berdiri tak jauh dari bibir Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Bangunan-bangunan itu tampak menyatu dengan lanskap pelabuhan yang selama bertahun-tahun lebih dikenal sunyi dibanding sibuk.

Di balik kesunyian itu, tersimpan harapan lama agar Belinyu kembali menjadi simpul aktivitas maritim Bangka.

Di siang hari, Raharja Pantja, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Afuk, melangkah menyusuri area pelabuhan.

Pengusaha asal Belinyu itu menunjuk tiga bangunan gudang yang telah ia bangun di sekitar kawasan pelabuhan.

Baca juga: Pelabuhan Tanjung Gudang Tunggu Suntikan Dana Rp 3 Triliun dari Tiongkok

Gudanggudang tersebut disiapkan sebagai fasilitas transit barang, jauh sebelum wacana pengembangan pelabuhan bertaraf internasional mengemuka.

“Itu gudang udah saya bikin untuk transit barang. Pertama kali alasannya karena belum ada gudang. Sekarang sudah ada gudang, sudah memenuhi persyaratan kan. Saya dukung untuk memajukan Belinyu,” kata Afuk kepada Bangkapos.com saat berkeliling di Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu, Rabu (21/1/2026) siang.

Menurut Afuk, Belinyu memiliki keunggulan alami yang jarang dimiliki pelabuhan lain di Bangka.

Baca juga: Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu Dalam Kenangan, Warga : Dulu Kalau Kapal Datang, Orangnya Ribuan

Perairannya cukup dalam, memungkinkan kapal sandar kapan saja tanpa harus menunggu pasang surut.

“Kapanpun bisa langsung bongkar muat, langsung bisa pergi,” ujarnya.

Ia membandingkan kondisi itu dengan Pelabuhan Pangkalbalam di Pangkalpinang.

Pengalaman menunggu kapal sandar di pelabuhan tersebut masih lekat dalam ingatannya.

“Dia datang (kapal-red), tapi parkirnya di Pasir Padi itu dua minggu tiga minggu. Jangkar dulu, nunggu pasang surut, baru antrian, kalau enggak antrian enggak bisa, karena bongkar muat cuma satu disitu,” tuturnya.

Waktu tunggu yang panjang itu berdampak pada biaya logistik. Kontainer yang tertahan memunculkan beban tambahan berupa demurrage, biaya denda akibat keterlambatan bongkar muat.

Di Belinyu, Afuk saat ini menjalankan usaha bongkar muat BBM cair di dermaga yang berada tepat di sisi Pelabuhan Tanjung Gudang.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved