Rabu, 8 April 2026

Tribunners

SMPN 2 Dendang: Mendorong Lompatan Pendidikan Indonesia Lewat PISA 2025

Pemilihan SMPN 2 Dendang sebagai sekolah peserta PISA merupakan momen penting

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Kepala SMPN 2 Dendang, Kabupaten Belitung Timur 

Oleh: Andy Muhtadin - Kepala SMPN 2 Dendang, Kabupaten Belitung Timur

TAHUN 2025 menandai momen krusial dalam transformasi pendidikan Indonesia. Salah satu indikatornya adalah pelaksanaan Programme for International Student Assessment (PISA), survei internasional yang mengukur kemampuan literasi membaca, matematika dan sains murid usia 15 tahun. Di tengah dinamika pendidikan nasional, SMPN 2 Dendang di Kabupaten Belitung Timur mendapat kehormatan terpilih sebagai salah satu sampel PISA tahun ini, bersama dengan SMPN 2 Kelapa Kampit, sekolah lainya di 34 provinsi di seluruh Indonesia selama dua bulan sejak April 2025.

PISA pada tahun 2025 ini merupakan ajang bergengsi untuk menilai kesiapan murid dalam menghadapi tantangan global. Pada kegiatan Programme for International Student Assessment (PISA) sebagai evaluasi berskala internasional yang sengaja diselenggarakan oleh OECD guna menilai kompetensi literasi membaca, matematika, dan sains bagi murid-murid kita yang telah berusia 15 tahun ke atas.

Pada ajang PISA 2025 ini, fokus utamanya adalah pada sains, dengan tambahan modul baru yang menilai kompetensi dalam bahasa asing serta kesiapan murid menghadapi pembelajaran di era digitalisasi. Tujuan utamanya adalah untuk mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan kehidupan nyata di masa depan.

SMPN 2 Dendang mendorong perubahan pendidikan di daerah terpencil. Pelaksanaan PISA di SMPN 2 Dendang pada 7 dan 8 Mei 2025 menjadi bagian dari batch ke empat yang sekaligus menutup rangkaian pelaksanaan PISA di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 12 murid usia 15 tahun dari SMPN 2 Dendang telah disampling untuk mengikuti asesmen ini, yang diawasi langsung oleh Kementerian Pendidikan melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.

Pemilihan SMPN 2 Dendang sebagai sekolah peserta PISA merupakan momen penting, sebuah refleksi terhadap kesenjangan nyata antara sekolah perkotaan dan perdesaan yang perlu segera dijembatani. Ini bukan sekadar survei, melainkan bentuk pengakuan bahwa sekolah-sekolah di pelosok negeri pun memiliki hak dan potensi untuk menjadi bagian dari peta pendidikan global.

Namun demikian, ada tantangan infrastruktur antara harapan dan kenyataan di lapangan. Pelaksanaan PISA di SMPN 2 Dendang menghadapi tantangan infrastruktur yang klasik namun nyata: keterbatasan akses internet, perangkat komputer yang usang, dan minimnya laboratorium TIK. Dalam pelaksanaan kali ini, tim pusat membawa perangkat sendiri untuk memastikan kegiatan berjalan lancar. Namun, sayangnya perangkat tersebut harus dibawa kembali setelah kegiatan berakhir, meninggalkan sekolah dalam kondisi semula kembali bergulat dengan keterbatasan.

Analisis terhadap data persepsi guru mengenai hambatan yang mereka temui selama pembelajaran berlangsung menunjukkan fakta bahwa mayoritas guru di perdesaan mengaku bahwa sekolah tempat mereka mengajar mengalami kekurangan dalam ketersediaan fasilitas fisik mencakup gedung, sarana olahraga, pendingin ruangan, pencahayaan, dan sistem audio. Ketiadaan infrastruktur-infrastruktur fisik ini dapat menghambat proses belajar mengajar secara optimal.

Oleh karenanya, menjaga semangat guru dan murid sebagai pilar perubahan pendidikan itu sangat penting. Di balik segala keterbatasan, semangat murid dan guru patut di apresiasi. Murid-murid mulai terbiasa dengan soal-soal naratif panjang yang mengasah literasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah berbasis sains serta penggunaan teknologi secara bijak. Ini adalah bagian dari upaya membentuk generasi yang siap menyambut era Indonesia Emas 2045.

Demikian pula dengan para guru, mereka tak hanya menjadi fasilitator, tetapi juga peserta dalam perubahan dibekali pelatihan, terbiasa dengan perancangan asesmen berbasis standar nasional dan internasional, serta mulai menerapkan pembelajaran abad ke-21 yang berorientasi pada teknologi dan keterampilan masa depan. 

Kurikulum Merdeka yang digadang-gadang sebagai landasan untuk masa depan murid sekarang diuji dengan main survey pada PISA ini. Kurikulum Merdeka yang dahulunya mulai diterapkan sekitar tahun 2021, sengaja dirancang untuk mengurangi beban materi dan memberikan ruang bagi pengembangan kompetensi murid secara lebih mendalam. Hasilnya akan terlihat pada skor PISA Indonesia yang akan berada pada urutan ke berapa pada tingkat dunia. Tak sabar rasanya menunggu hasil PISA hari ini, sebab menjadi juru kunci akan evaluasi implementasi Kurikulum Merdeka sekaligus memungkinkan munculnya kurikulum baru.

Penyederhanaan materi kurikulum efektif memitigasi learning loss. Kita ketahui bersama bahwa sekolah yang menerapkan Kurikulum Darurat mengalami kehilangan makna pembelajaran (learning loss) selama masa Covid-19, sementara sekolah yang tetap menggunakan Kurikulum 2013 secara penuh mengalami learning loss hingga kurang lebih satu tahun. Berdasarkan fakta ini ini, Kurikulum Merdeka dirancang dengan menyederhanakan materi wajib agar guru memiliki lebih banyak waktu untuk menerapkan metode pembelajaran yang mendalam, interaktif, dan berbasis proyek.

PISA 2025 merupakan momentum untuk reformasi pendidikan. Pelaksanaan kegiatan PISA 2025 tahun ini khususnya di SMPN 2 Dendang menjadi momen yang sangat penting untuk mengevaluasi cerminan kualitas pendidikan Indonesia. Hasil PISA ini lagi-lagi tidak hanya sekadar menjadi laporan statistik di atas kertas saja, tetapi menjadi sumber informasi yang diakui keakuratan dan keabsahannya. Apapun hasilnya akan menjadi bahan reformasi nyata dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya agar sistem pendidikan kita makin adil, lebih merata, dan memiliki kualitas di kancah lokal dan internasional.

Peningkatan peringkat Indonesia pada PISA 2022 menggambarkan ketangguhan sistem pendidikan Indonesia dalam mengatasi berbagai tantangan, termasuk dampak pandemi Covid-19. Lebih dari 25 juta murid dan 1,7 juta guru menerima bantuan kuota internet untuk mendukung akses materi dan pembelajaran daring. Selain itu, pelatihan guru melalui Platform Merdeka Mengajar dan materi pembelajaran daring juga turut berkontribusi dalam peningkatan tersebut.

Harapan hasil PISA 2025 menjadi penentu arah kebijakan pendidikan ke depan. Hasil PISA 2025 diharapkan mampu menjadi dasar objektif dalam menetapkan arah kebijakan pendidikan nasional. Pemerintah dapat menjadikan hasil ini sebagai landasan untuk merancang intervensi berbasis data, terutama dalam mendesain program-program peningkatan kapasitas guru, pengadaan infrastruktur digital, serta penyesuaian kurikulum agar lebih kontekstual dan aplikatif.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved