Tribunners
Dakwah dan Budaya Nganggung: Menyemai Islam dari Dulang yang Disaji
Nganggung mengajarkan kita bahwa menyampaikan Islam tidak selalu harus dengan dalil yang rumit. . Kadang, cukup dengan nasi hangat dan hati yang tulus
Oleh: Dr. Iqrom Faldiansyah, M.A. - Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS Babel
DALAM kehidupan masyarakat Bangka Belitung, ada satu momen yang tidak bisa dipisahkan dari denyut sosial dan spiritual mereka: nganggung. Sebuah tradisi makan bersama yang tampaknya sederhana, namun sejatinya menyimpan nilai-nilai luhur—mulai dari solidaritas sosial, semangat berbagi, hingga dakwah yang menyentuh tanpa perlu kata-kata.
Budaya nganggung adalah wajah Islam yang hangat dan ramah. Tanpa ceramah panjang, ia mengajarkan makna berbagi, adab berjemaah, dan pentingnya menjaga hubungan sosial. Dalam dunia dakwah, di mana strategi dan pendekatan sering kali kaku dan formal, nganggung menyodorkan jalan lain: jalan yang membumi, menyentuh hati, dan menyampaikan pesan agama lewat tindakan nyata.
Pada dasarnya, nganggung bukan hanya soal makanan. Ia adalah simbol keislaman yang hidup dalam budaya. Sebuah bentuk kearifan lokal yang tidak hanya merekatkan hubungan antarwarga, tetapi juga menjadi cara masyarakat menyerap nilai-nilai keagamaan secara alami dan menyenangkan. Di saat dakwah modern sering kali terjebak dalam formalitas dan sekat-sekat institusional, nganggung justru tampil sebagai dakwah organik yang tumbuh dari bawah; dari rumah, dari dapur, dari kasih sayang yang dibawa dalam dulang makanan.
Dari Rumah ke Masjid: Ruang Bertemu Dakwah dan Budaya
Masyarakat Melayu pesisir, khususnya di Negeri Laskar Pelangi ini, telah lama mempraktikkan nganggung sebagai bagian dari kehidupan beragama dan bermasyarakat. Kegiatan ini biasanya dilakukan saat peringatan hari besar Islam atau acara tahlilan dan selamatan. Nilainya lebih dari sekadar makan bersama: ia adalah simbol dari solidaritas sosial dan spiritualitas kolektif.
Menurut Azyumardi Azra (2004), budaya seperti ini mencerminkan wajah Islam kultural, di mana nilai-nilai Islam terjelma dalam praktik keseharian yang sesuai dengan karakter lokal. Islam tidak hadir sebagai ajaran yang menghapus budaya, tetapi sebagai roh yang menghidupkan budaya dengan nilai ilahiah.
Di balik dulang makanan yang dibawa warga, tersimpan ajaran tauhid, ukhuwah, dan kerendahan hati. Dakwah, dalam konteks ini, bukan sekadar lisan atau mimbar, tetapi hadir lewat keramahan, kesediaan berbagi, dan ketulusan dalam mempererat silaturahmi. Dalam acara nganggung, masyarakat tak hanya hadir membawa makanan, tetapi juga membawa harapan, membawa doa, dan membawa diri mereka sebagai bagian dari komunitas. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi menjadi ruang sosial di mana hubungan antarindividu diperkuat. Di sinilah dakwah menemukan bentuknya yang paling membumi: sebagai jembatan antarjiwa.
Nganggung sebagai Dakwah Sosial: Meneguhkan Soliditas dan Solidaritas
Dakwah yang efektif, apalagi di era sekarang, bukan hanya tentang seberapa banyak ayat dan hadis dikutip, tetapi seberapa mampu ajaran Islam itu menyentuh kehidupan nyata masyarakat. Pendekatan dakwah yang kontekstual dan kultural menjadi penting. Dalam budaya nganggung, para dai tidak datang sebagai pengkhotbah yang menggurui, tetapi sebagai bagian dari komunitas, ikut makan, ikut tertawa, ikut mendengarkan.
Pendekatan dakwah berbasis budaya lokal jauh lebih inklusif dan minim resistensi. Ketika Islam datang dalam wajah yang akrab dan tidak menakutkan, maka masyarakat lebih terbuka untuk menerima pesan-pesan moral dan spiritual. Nganggung menjadi panggung kecil, tetapi bermakna untuk menyisipkan nilai-nilai Islam yang luhur: berbagi rezeki, menghormati sesama, menjaga hubungan antartetangga.
Tidak semua masyarakat mampu menggelar hajatan besar. Tetapi dalam nganggung, bahkan keluarga sederhana pun merasa dilibatkan. Di sinilah letak kekuatan sosial dari budaya ini. Ia menciptakan rasa memiliki, rasa dihargai, dan rasa bahwa semua orang penting dalam komunitas. Dakwah, dalam perspektif ini, bukan tentang dogma, melainkan tentang kepedulian sosial.
Dakwah sosial yang kontekstual mampu menjawab kebutuhan umat yang tidak hanya membutuhkan bimbingan spiritual, tetapi juga dukungan sosial. Makanan yang dibagi dalam nganggung tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menguatkan batin dan hubungan sosial antarwarga. Inilah dakwah yang menyentuh: lewat empati, bukan sekadar orasi.
Peran Dai dalam Menjaga dan Menafsirkan Ulang Tradisi
Namun, kita tidak bisa menutup mata: budaya seperti nganggung mulai terpinggirkan. Gaya hidup serba instan, kesibukan kerja, dan individualisme membuat tradisi ini perlahan mulai redup. Generasi muda lebih akrab dengan food delivery daripada membawa dulang ke masjid. Modernisasi, jika tidak disikapi dengan bijak, bisa memutus jembatan sosial yang telah dibangun oleh budaya seperti nganggung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250522_Iqrom-Faldiansyah.jpg)