Rabu, 6 Mei 2026

Tribunners

Dakwah dan Budaya Nganggung: Menyemai Islam dari Dulang yang Disaji

Nganggung mengajarkan kita bahwa menyampaikan Islam tidak selalu harus dengan dalil yang rumit. . Kadang, cukup dengan nasi hangat dan hati yang tulus

Tayang:
Editor: Suhendri
Istimewa/Dok. Iqrom Faldiansyah
Dr. Iqrom Faldiansyah, M.A. - Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN SAS Babel 

Di sinilah peran para dai, pendidik, dan aktivis dakwah sangat penting. Jangan lawan modernisasi dengan sikap konservatif, tetapi hadapi dengan kreativitas. Mengemas nganggung dalam bentuk kampanye sosial, kegiatan komunitas, atau konten digital bisa menjadi solusi untuk menjembatani nilai lama dengan cara baru. 

Budaya lokal tidak bisa bertahan jika dibiarkan berjalan sendiri. Perlu ada peran aktif dari ulama, pemuka adat, dan komunitas muslim progresif untuk terus merawat sekaligus menafsirkan ulang tradisi seperti nganggung agar tetap relevan. Dakwah tidak bisa hanya berfokus pada teks; ia harus membaca konteks.

Dalam pendekatan yang disebut hermeneutika budaya, seperti disampaikan oleh Madjid (2007), agama dan budaya tidak harus dipertentangkan, melainkan perlu dibaca ulang agar nilai-nilainya bisa terus menghidupkan masyarakat secara etis dan spiritual. Nganggung bukan sekadar budaya—ia adalah wujud nilai Islam dalam rupa lokal, dalam bentuk yang bisa diraba, dinikmati, dan dihayati.

Merawat Dakwah yang Membumi dan Menyentuh

Dakwah sejatinya adalah tentang menyentuh hati, bukan hanya menyampaikan ajaran. Dan hati manusia lebih mudah disentuh melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata. Budaya nganggung adalah contoh nyata bagaimana Islam bisa hadir dalam bentuk yang hangat, merangkul, dan membumi. Sebab bisa jadi, justru dari dulang yang dibawa ke masjid itu, anak-anak belajar tentang berbagi. Dari makan bersama itu, para pemuda belajar tentang empati. Dan dari tawa yang dibagikan saat nganggung, lahir generasi muslim yang mencintai sesama dan lingkungannya.

Dakwah yang paling kuat bukan yang paling lantang, tetapi yang paling tulus. Dan mungkin, salah satu bentuk ketulusan itu tersaji di atas dulang makanan yang dibagi bersama. Nganggung mengajarkan kita bahwa menyampaikan Islam tidak selalu harus dengan dalil yang rumit. Kadang, cukup dengan nasi hangat dan hati yang tulus.

Masyarakat Indonesia, dengan kekayaan budaya lokalnya, memiliki banyak potensi untuk mengembangkan dakwah yang kontekstual dan membumi. Kita hanya perlu membuka mata, hati, dan tangan. Karena siapa tahu, dari tradisi seperti nganggung, lahir generasi muslim yang lebih peduli, lebih ramah, dan lebih siap membawa nilai Islam ke tengah masyarakat dengan kasih sayang dan ketulusan. Wallahu A’lam. (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved