Tribunners

Pembelajaran Deep Learning Vs Brain Rot

Pada dasarnya, brain rot berkaitan dengan mental dan kognisi individu, namun gejala ini menjadi kolektif sebab dialami mayoritas generasi kini.

Editor: Suhendri
ISTIMEWA
Harimansyah, S.Pd. - Guru Sosiologi SMAN 1 Namang, Bangka Tengah 

Oleh: Harimansyah, S.Pd. - Guru SMAN 1 Namang, Kabupaten Bangka Tengah

AKHIR-akhir ini guru dikenalkan dengan konsep pembelajaran deep learning (pembelajaran mendalam). Belum ada pelatihan teknis secara intensif mengenai konsep ini. Hanya yang diketahui melalui pelatihan singkat dan diseminasi.

Deep learning diklaim bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran dengan tiga prinsip. Pertama, mindful learning (pembelajaran sadar): pembelajaran menyesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakang siswa. Kedua, meaningful learning (pembelajaran bermakna): mendorong siswa berpikir kritis dan aktif dalam pembelajaran. Ketiga, joyful learning (pembelajaran menyenangkan): membuat pengalaman belajar lebih menyenangkan agar siswa lebih termotivasi. 

Namun, tulisan ini bukan untuk membedah konsep deep learning. Yang menjadi permasalahan ialah bagaimana konsep deep learning diterapkan di tengah fenomena brain rot yang sedang terjadi. 

Istilah brain rot baru-baru ini dipopulerkan untuk menggambarkan suatu fenomena sosial yang dialami generasi produktif saat ini (milenial, gen Z maupun gen Alfa). Dikutip dari berbagai sumber, brain rot atau dikenal sebagai "pembusukan otak", yaitu sebuah kondisi ketika kemampuan kognitif, analisis, memori, serta mengingat individu menjadi menurun karena kebiasaan menggunakan teknologi secara berlebihan. Kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan dalam berpikir kritis, kepekaan mengambil keputusan, dan kemampuan memecahkan suatu masalah. 

Pada dasarnya, brain rot berkaitan dengan mental dan kognisi individu, namun gejala ini menjadi kolektif sebab dialami mayoritas generasi kini. Jika fenomena ini dibiarkan, maka akan menjadi bencana di masa yang akan datang. Padahal pada tahun 2045, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Baru-baru ini kita mendengar berita bahwa beberapa negara Eropa telah mengurangi secara konsep maupun teknis pembelajaran yang terkonsentrasi dengan perangkat digital dan kembali menggunakan media konvensional (buku/kertas, dan pensil/pena).

Mengurai masalah di atas, apakah deep learning menjadi solusi atas fenomena brain rot? Atau apakah justru deep learning menjadi antitesis? Jika diyakini menjadi solusi maka haruslah jelas petunjuk dan teknisnya untuk diimplementasikan di bangsal-bangsal kelas atau setidaknya ada success story di suatu tempat yang menjadi role model dalam penerapannya. Namun, jika menjadi antitesis sungguh deep learning terasa sia-sia dan kembali menjadi konsep gagal. 

Kita mulai dari elemen yang pertama, mindful learning (pembelajaran sadar). Pembelajar (kita sebut kemudian: siswa) harus benar-benar memahami keadaan masyarakat dan lingkungannya. Ini dapat terjadi jika siswa melakukan interaksi yang intens terhadap sekitarnya, terjadi sosialisasi sehingga terwujud internalisasi nilai-nilai. Dengan dasar tersebut pembelajaran kontekstual mudah dilakukan hingga muncul kesadaran dan motivasi internal siswa yang siap belajar.

Namun pada kenyataannya, generasi yang mendominasi saat ini sangat terpengaruh oleh kemajuan teknologi informasi dan media sosial. Merasa cukup hanya dengan hal-hal permukaan. Menurunkan rasa peka dan sikap peduli, menjadi manusia apatis, guncang antara hal maya dan nyata, menurunnya konsentrasi untuk menyerap pelajaran.

Meaningful learning (pembelajaran bermakna) diharapkan mendorong siswa berpikir kritis dan aktif dalam pembelajaran. Kemajuan teknologi komunikasi dan persebaran informasi di era digital, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi digital mendorong banyak orang untuk meninggalkan kedalaman makna (deep meaning). Artinya, mereka juga akan meninggalkan kedalaman belajar (deep learning). Kemampuan berpikir kritis bukan keterampilan instan, namun memerlukan proses latihan yang sistematis melalui kegiatan aktif seperti membaca, diskusi, menulis, menganalisis, merefleksi, mengkreasi hingga memecahkan permasalahan.

Dalam pembelajaran sehari-hari, siswa kesulitan mengingat informasi sederhana, tidak dapat menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya, pada akhirnya gagal menciptakan pemahaman yang mendalam dan personal. Salah satu penyebabnya dari kebiasaan mereka menonton konten-konten singkat yang tidak bermakna dengan porsi yang berlebihan. Konten-konten tersebut juga tidak memiliki relevansi dengan kehidupan nyata, bahkan memengaruhi sifat dan watak menjadi negatif.

Joyful learning (pembelajaran menyenangkan) yakni upaya membangun pengalaman belajar lebih menyenangkan agar siswa lebih termotivasi. Joyful learning menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang positif agar siswa dapat menikmati setiap bagian dari proses pembelajaran. Poin ini terkait dengan afeksi dan emosi siswa. Afeksi dan emosi yang positif memudahkan siswa mengikuti pembelajaran. 

Suasana belajar yang positif bukan semata digambarkan kondisi kelas dan sekolah yang meriah, penuh kelakar, dan bebas. Dalam membangun emosi positif tidak dapat tunggal dilakukan oleh guru. Upaya ini harus melibatkan 3 aktor sebagai pilar pendidikan, yakni orang tua, lingkungan masyarakat, dan sekolah. 

Keluarga sebagai peletak nilai dasar harus dapat memotivasi sosok anak dalam menyiapkan dirinya untuk belajar. Masyarakat yang progresif menjadi pemacu siswa untuk terus mengikuti perkembangan, sedangkan guru harus memahami karakter peserta didik yang unik agar terfasilitasi dalam pembelajaran. Hal di atas merupakan kondisi ideal dalam membangun suasana belajar yang menyenangkan.

Sayangnya, kondisi ideal tersebut hanya dimiliki sebagian kecil kelompok siswa. Sebagian besarnya lagi dalam kondisi yang kurang beruntung. Misalnya rumah tangga yang kurang harmonis sehingga siswa kurang mendapatkan perhatian, masyarakat yang represif dan konservatif yang membentuk watak dan karakter pesimis atau abusif hingga muncul tindakan bullying. Sekolah dalam menjalankan perannya gagal memfasilitasi siswa sebab manajemen buruk yang sistemik dari tingkat pusat sampai satuan pendidikan, akses sekolah yang sulit, gedung dan sarana prasarana pembelajaran yang rusak, serta masih banyaknya guru yang belum mencapai kompetensi cukup.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved