Senin, 13 April 2026

Tribunners

Memutar Arah Investasi Kesehatan: Dari Pengobatan ke Perilaku

Negara yang besar tidak diukur dari seberapa banyak rumah sakit yang dibangun, tetapi dari seberapa sedikit rakyatnya yang jatuh sakit

Editor: Suhendri
Istimewa/Dok. Chairul Aprizal
Chairul Aprizal, S.K.M. - Anggota PPPKMI atau ISHPE (Indonesian Society for Health Promotor and Educator) 

* Chairul Aprizal, S.K.M. - Anggota PPPKMI atau ISHPE (Indonesian Society for Health Promotor and Educator)            

PEMERINTAH saat ini sadar bahwa pembiayaan kesehatan yang setiap tahun dikeluarkan jumlahnya sangat besar, bahkan menjadi salah satu beban signifikan APBN Indonesia. Pada tahun 2024, anggaran untuk sektor kesehatan naik 8,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 5,6 persen dari APBN (sehatnegeriku.kemkes.go.id, 15 Mei 2025). Meskipun begitu, anggaran ini juga dialokasikan untuk transformasi sistem kesehatan dan pengefektifan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Di antara komponen utama pembiayaan kesehatan dalam APBN adalah program JKN untuk penerima bantuan iuran (PBI). Untuk membiayai masyarakat miskin dan kurang mampu lewat program PBI melalui APBN sebesar Rp45,5 triliun. Tidak hanya itu, untuk menjamin kesehatan masyarakat, BPJS juga mengalami peningkatan beban mulai dari tahun 2022 sebesar Rp113,4 triliun naik pada tahun 2023 menjadi sebesar Rp158,8 triliun. 

Sekarang ini pemerintah sedang konsentrasi pada efisiensi (penghematan) anggaran seramping mungkin. Dengan menengok sekilas bahwa arah investasi kesehatan yang selama ini diarungi cukup membebani APBN, apakah sudah saatnya pemerintah memutar kemudi untuk mengganti arah atau tetap terus melanjutkan arah investasi yang sudah dilakukan selama ini ? 

Triliunan rupiah yang dikuras setiap tahunnya untuk membiayai pengobatan masyarakat melalui program JKN ini diperuntukkan menangani pengobatan penyakit yang seharusnya dapat dicegah dan dikendalikan. Penyakit-penyakit seperti diabetes, hipertensi, stroke, gagal ginjal, hingga kanker. Penyakit-penyakit ini adalah penyakit tidak menular dengan tingkat kematian tertinggi saat ini dibandingkan penyakit menular. 

Penyakit tidak menular yang seharusnya dapat dicegah inilah membebani anggaran JKN dan BPJS Kesehatan. Ironisnya, alokasi dana yang berorientasi kepada prinsip promotif dan preventif belum optimal diakomodasi dan hanya sebagai pelengkap. Seperti yang dinyatakan World Health Organization (WHO) berkaitan dengan Return Of Investment Promosi Kesehatan, "Satu rupiah yang diinvestasikan untuk promosi kesehatan dapat menghemat anggaran berkali-kali lipat pembiayaan pengobatan". 

Investasi pada promosi kesehatan tidak hanya menurunkan biaya pengobatan di masa depan, tetapi juga meningkatkan produktivitas karena masyarakat lebih sehat dan jarang sakit. Dan banyak studi lainnya yang membenarkan bahwa promosi kesehatan seperti mengubah gaya hidup sehat jauh lebih baik daripada pengobatan. 

Lebih dari 70 persen anggaran BPJS Kesehatan terkuras untuk pengobatan (kuratif), padahal banyak penyakit kronis yang dapat dicegah dengan edukasi dan mengubah gaya hidup.  Kalau pemerintah berencana mentransformasikan sistem kesehatan nasional saat ini, barangkali ini saatnya pemerintah memutar kemudi ke arah investasi kesehatan dari fokus pengobatan menuju ke arah baru yang fokus pada promosi kesehatan dan membangun perilaku hidup sehat masyarakat.

Saat ini, persepsi kita pada sektor kesehatan masih menganggap kalau promosi kesehatan adalah kampanye atau penyuluhan sesekali sehingga kemungkinan menjadikan promosi kesehatan sebagai sesuatu yang sepele. Promosi kesehatan sesungguhnya adalah pendekatan yang sistematis. Memegang teguh prinsip pemberdayaan individu dan komunitas sehingga mampu mengendalikan dan meningkatkan kesehatannya sendiri. Dalam hal promosi kesehatan memiliki tiga pilar penting, yakni edukasi kesehatan, perubahan perilaku, dan menciptakan lingkungan yang mendukung hidup sehat. "The process of enabling people to increase control over, and to improve, their health" (Piagam Ottawa untuk promosi kesehatan dari WHO pada tahun 1986). 

Sebagian besar penyakit berakar dari perilaku seperti merokok, konsumsi makanan tidak sehat, dan kurang aktivitas fisik yang menjadi faktor  resiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Kurangnya sanitasi dan rajin cuci tangan yang menjadi faktor risiko penyakit diare, dan infeksi saluran pernapasan. Kurangnya pengetahuan tentang kehamilan dan pola asuh anak menjadi faktor penyebab stunting dan kematian ibu/anak. Penyakit-penyakit tersebut seharusnya dapat dicegah dengan strategi promosi kesehatan.

Melihat akar masalahnya adalah perilaku maka solusinya adalah intervensi jangka panjang tidak semata-mata pengobatan (intervensi jangka pendek). Solusi dari promosi yang terencana dan berkelanjutan mulai dari individu, keluarga, komunitas, hingga sekolah perlu dilakukan. Realitanya promosi kesehatan terpinggirkan, hanya menjadi pelengkap dan menebeng saja di setiap program kesehatan yang lainnya, bukan sebagai ujung tombak. Promosi kesehatan masih terkendala kurang dukungan anggaran, kurang dilibatkan dalam perencanaan program, dan kurang SDM terlatih yang seharusnya dapat mengefisiensi paling optimal untuk sistem kesehatan. 

Investasi Hemat, Efek Optimal: Promotif vs Kuratif (Pengobatan)

Berbagai sumber dari lembaga internasional telah mengupas perbandingan pembiayaan kesehatan yang berorientasi kepada promosi kesehatan lebih kecil daripada pengobatan. Penyakit-penyakit katastropik seperti jantung, gagal ginjal kronis, stroke, dan kanker berkontribusi hampir 25 persen menguras biaya pelayanan kesehatan JKN. Sementara itu, biaya promosi kesehatan seperti penyuluhan, pelatihan kader, dan media komunikasi masih terbatas. Di beberapa pemerintah daerah bahkan promosi kesehatan hanya diberikan jatah 2-3 persen dari dinas kesehatan.

Berdasarkan fakta dari negara tetangga, terbukti promosi kesehatan dapat mengurangi perilaku merokok. Seperti Thailand dengan strategi promosi kesehatan  dalam mengendalikan tembakau. Thailand memberlakukan pengenaan cukai sebesar 2 persen yang dialokasikan untuk promosi kesehatan. Alhasil, prevalensi perokok dari 30 persen menurun kurang dari 20 persen dalam dua dekade terakhir sehingga menghemat miliaran uang Thailand dalam biaya pengobatan penyakit yang disebabkan rokok. 

Sejauh dukungan yang masih lemah untuk promosi kesehatan yang masih menjadi anak tiri dalam sistem kesehatan nasional, maka pembiayaan kesehatan akan terus membengkak. Promosi kesehatan yang belum menjadi komponen utama untuk pelayanan kesehatan akan membuat investasi kesehatan tidak efektif dan tidak efisien. Ada 3 pilar dalam promosi kesehatan yang tidak berdiri kokoh.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved