Resonansi
Nyalakan Inspirasi
Bangka Pos dan Pos Belitung merupakan media terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
RASANYA baru beberapa bulan saya berada di Bangka Pos Group. Kalau tak salah ingat, hitung dan berikut penerawangan dari sosial media, awal Mei 2023 titah itu bermula. Bulan dimana Bangka Pos menorehkan momen tak terkira. Sebab, di bulan itu Bangka Pos dan Pos Belitung berulang tahun.
Hadir saat bulan ulang tahun tiba, rasa yang ada sungguh luar biasa. Maklum saja, Bangka Pos dan Pos Belitung merupakan media terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Ini bukan omon-omon belaka. Dalam catatan harian saya, dan selama saya bergabung Tribun Network, Bangka Pos selalu masuk dalam lima besar capain terbaik di Tribun Network.
Nah, setiba di Bangka Belitung, kabar yang terdengar tak kalah garang. Kawan-kawan mengungkap cerita yang tak kalah hebat. Cerita yang bisa dibilang bikin nyali menciut, dan mengkerut.
Bagaimana tidak ciut dan kerut?
Sederet kawan, kenalan baru di warung kopi, satu per satu memperkenalkan Bangka Pos dalam torehan sejarah panjang pembentukan Provinsi Bangka Belitung. Plus cerita orang dalam yang juga tak kalah hebat, cerita itu diam-diam seperti pesan-pesan yang mesti diingat untuk masa depan.
Begini cerita pendeknya!
Lahir pada 25 Mei 1999, Bangka Pos yang berbentuk koran hitam putih diakui atau tidak, menjadi bagian dalam pembentukan Provinsi Bangka Belitung. Sebab, keinginan masyarakat Bangka Belitung untuk berdiri sendiri, mengelola wilayah sendiri dan terlepas dari Sumatera Selatan menjadi sorotan tajam Bangka Pos sepanjang hari, bulan dan kemudian berganti tahun.
Sorotan itu terdokumentasikan di Bangka Pos dalam sederet liputan. Mulai dari liputan biasa, liputan khusus, liputan ekslusif hingga liputan human interest story.
Walhasil, saat itu Bangka Pos seolah menjadi saluran dan terkadang panggung eksistensi masyakarat Bangka Belitung.
Eksistensi ini menjadi penting karena dahulu hal tersebut bukan merupakan hal penting, bahkan bisa dibilang dipandang sebelah mata dan kerap dilupakan.
Berbekal eksistensi itu, Bangka Pos akhirnya memilih hadir dalam tagline yang terdengar sangat provokatif. 'Yuk Kita Punya Provinsi.'
Bagi kawan-kawan, pilihan tagline itu menjadi pemikiran yang masuk akal lantaran sebagai sebuah kepulauan, pengelolaan wilayah Bangka Belitung sepatutnya dilakoni secara mandiri, terpisah dari induknya di Sumatera, demi sebuah upaya dan mimpi untuk hidup lebih baik di masa depan.
Pemikiran lain juga turut bersahutan. Saat itu, Bangka Belitung memiliki sederet kekayaan yang menjadi primadona. Timah, begitu banyak orang menyebutnya. Sejak masa kolonial, Bangka Belitung dikenal sebagai salah satu penghasil timah terbesar dunia.
Bukan hanya timah, Bangka Belitung juga menjadi daerah penghasil lada putih unggulan. Lada putih ini menjadi komoditas unggulan yang memiliki nilai ekspor tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)