Tribunners
Kami Bangga di IAIN dan Siap Jadi Guru Agama Islam, Titik?
Ternyata lembaga pendidikan guru kerap kali bukan tujuan utama bagi anak-anak hebat di negeri ini.
Oleh: Dr. Wahyudin Noor, M.S.I. - Wakil Dekan II FTAR IAIN SAS Babel
SEBUTLAH Susmiati, biasa dipanggil Susmi oleh teman-teman kelasnya. Namanya terdengar sederhana dan terkesan pribumi. Ia mahasiswi yang cukup ramah, sopan, cerdas dan suka bergaul. Di samping itu, ada pula Hendra, mahasiswa berpenampilan serius, pendiam, kritis, sopan dan cukup menjaga wibawa. Keduanya, baik Susmiati maupun Hendra, sama-sama telah memilih dan masih jalani proses kuliah di PS. PAI Fakultas Tarbiyah IAIN SAS Bangka Belitung.
Tetapi , cita-cita Susmiati maupun Hendra cuma satu: ingin jadi guru pendidikan agama Islam. Jika ditanya, “Kok mau jadi guru pendidikan agama?”, Susmi biasanya agak sedikit jengkel. “Menjadi guru pendidikan agama kok cuma,” begitulah Susmiati menjawab. Respons berbeda ditujukan Hendra yang terkesan diplomatis-idealis, “Jadi guru pendidikan agama Islam, kenapa tidak? Rasulullah itu guru agama kok ”.
Susmiati dan Hendra punya prinsip untuk hal ini. Bahkan, sekelas founding fathers negeri ini pun berkarier dengan mengawalinya sebagai guru, meski tidak harus guru agama. Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, M Natsir, semasa mudanya telah menjadi guru. Bagi para founding fathers, guru bukanlah sebatas lapangan pekerjaan, lebih dari itu sebagai medan perjuangan dan pengabdian di mana tempat disemaikannya kader-kader bangsa. Tentunya, masa depan suatu bangsa dipastikan suram jika tidak banyak lagi anak-anak hebat semacam Susmiati dan Hendra yang berminat jadi guru.
Di sini letak soalnya. Ternyata lembaga pendidikan guru kerap kali bukan tujuan utama bagi anak-anak hebat di negeri ini. Termasuk di dalamnya lembaga pendidikan guru agama yang dikelola IAIN misalnya, malah justru hanya sebuah alternatif atas pilihan studi utamanya.
Di sisi lain, kondisi kurangnya minat anak-anak hebat ini berkuliah di program pendidikan guru agama, jika meminjam ungkapan Said Tuhuleley (2005: 70), ialah karena muncul sebagai akibat dari suatu situasi sosial yang memang patologis adanya; ketika kehidupan sosial telah didominasi oleh sikap hedonistik-materialistik. Terlebih, jadi guru agama, sejauh ini tidak menjanjikan keuntungan yang serba materi. Karena itu, suatu profesi tidak lagi diukur atas sejauh mana nilai pengabdiannya, tetapi seberapa besar keuntungan yang bersifat material yang dapat dikumpulkan.
Keadaan yang kurang menguntungkan ini, tentu saja menimbulkan keresahan di lembaga-lembaga pendidikan guru agama. Lalu, yang jadi tantangannya adalah apakah IAIN SAS Bangka Belitung misalnya, mampu menarik minat anak-anak negeri yang hebat bisa kuliah di program studi pendidikan agama lebih banyak lagi di tengah merebaknya sikap pragmatik hedonistik-materialistik? Susmiati dan Hendra bisa jadi adalah sebuah fenomena, atau bahkan sebuah ironi sejarah untuk ukuran saat ini, ketika hawa nafsu meraup keuntungan material dan gaya hidup yang hedonistis telah berubah menjadi tujuan hidup.
Sejujurnya, lembaga pendidikan guru agama di abad ini dihadapkan oleh tantangan kehidupan manusia yang serba modern dengan setumpuk persoalan yang kompleks, di antaranya ada pada persoalan lembaga-lembaga pendidikan guru agama harus mampu menghadirkan lulusan calon guru yang memiliki kualitas, sekaligus bermoral tinggi untuk menjawab perubahan masyarakat yang serba cepat.
Sekilas, barangkali kita melihat, kecenderungan masyarakat secara umum lebih banyak memilih pendidikan non-agama karena memang, terkait erat dengan relevansi dunia kerja; lebih fokus pada keterampilan teknis dan pengetahuan spesifik yang dianggap langsung bersentuhan dengan dunia kerja modern. Kendati demikian, peran pendidikan guru agama, tidak bisa dianggap remeh karena berhubungan erat dengan pembentukan karakter, moral individu, dan sosial.
Para calon guru agama, selain dibekali oleh pemahaman yang mendalam tentang agama, mereka juga diberikan pemahaman yang kuat tentang bagaimana berpikir kritis, bertanggung jawab, sikap jujur dan peduli terhadap masyarakat. Lalu, bagaimana mengombinasikan seluruh aspek tersebut ke dalam satu sistem pendidikan yang utuh?
Persoalannya ialah, tidak banyak orang yang memahami tentang pendidikan guru agama di IAIN, yang sejatinya tidak saja melulu mempelajari ilmu pendidikan agama dan yang nantinya jadi ahli agama. Tetapi lebih dari itu, pendidikan agama di IAIN SAS Bangka Belitung misalnya, secara kontinu masih terus membangun link and match dengan kebutuhan di masyarakat. Misalnya saja, bagaimana mengintegrasikan, sekaligus sinkronisasi materi-materi pendidikan agama dengan pendidikan non-agama secara konsisten, penguatan pendidikan karakter dan spiritualitas, pengembangan metodologi berpikir ilmiah dalam pembelajaran, dan lain sebagainya.
Mengutip Arief Furchan (2004: 131), jika kita menggunakan pendekatan sistem, tentunya kita ingat, bahwa ada kaidah yang mengungkapkan, suatu sistem akan tetap bertahan apabila sistem tersebut dapat memenuhi kebutuhan suprasistemnya. Dalam sistem pendidikan, IAIN SAS Bangka Belitung sebagai satu dari sekian banyak lembaga yang mengelola pendidikan guru agama, merupakan subsistem dari masyarakat. Dan, fungsi subsistem ini melayani kebutuhan suprasistemnya. Oleh karena itu, fungsi IAIN SAS tentu saja, melayani masyarakat yang bisa dipastikan, segala kebutuhannya pun acapkali berubah.
Pada realitasnya, perubahan kebutuhan itu terjadi diawali oleh berubahnya paradigma masyarakat karena adanya kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Lebih-lebih, bidang pengetahuan dan teknologi yang tersebar luas melalui jaringan komunikasi antarkelompok masyarakat dan negara. Dampaknya ialah pertukaran informasi yang turut memicu terjadinya perubahan yang serba cepat di masyarakat. Dari perubahan inilah, pada akhirnya melahirkan kebutuhan dan selera baru yang jadi keinginan masyarakat, termasuk orientasi belajarnya masyarakat.
Lepas dari perubahan yang terus bergulir, di era kompetitif kali ini, diakui ataupun tidak, stigma lembaga pendidikan agama semacam IAIN, sebagai lembaga pendidikan kelas dua tidak bisa dimungkiri lagi, tetap lekat di memori masyarakat dan belum sepenuhnya surut. Maka itu, diperlukan perhatian dan tindakan tepat, khususnya dari IAIN SAS Bangka Belitung sendiri misalnya, ke depan IAIN harus dapat meyakinkan masyarakat, bahwa lulusan pendidikan guru agama Islam, bukanlah lulusan “kaleng-kaleng”, namun lulusan berkualitas, kompetitif, dan berkarakter religius.
Paling tidak, untuk dapat membentuk lulusan IAIN program pendidikan agama sebagaimana dimaksud, secara garis besar diperlukan empat langkah utama, pertama, pengembangan kurikulum yang meliputi penerapan kurikulum berbasis riset, penguatan kompetensi inti, pembekalan kompetensi lanjutan, serta penerapan teknologi informasi dan komunikasi. Kedua, pembekalan kompetensi terdiri dari pelatihan bidang pedagogis dan psikologi pendidikan, pelatihan pengembangan metodologi penelitian keagamaan dan soft skill.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20250608_Wahyudin-Noor.jpg)