Ketiga, penguatan kerja sama melalui aktivitas memperluas jaringan kerjasama kelembagaan pendidikan Islam, baik nasional ataupun internasional untuk kebutuhan belajar dan interaksi dengan para ahli pendidikan agama serta membangun kerja sama dengan stakeholders. Keempat, melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler rutin semisal seminar, workshop, serta aktivitas dakwah ala mahasiswa; dengan pendekatan bil lisan, bil qolam dan bil hal, sehingga mahasiswa dengan sendirinya memiliki kesempatan untuk pengembangan diri dan aplikasi keilmuan agama di masyarakat.
Oleh karena itu, sekali lagi tidak ada jalan lain bagi IAIN secara institusi akademik -meminjam istilah Furchan di atas, selain bertahan dan memenuhi suprasistemnya, tentunya dengan segera mulai berbenah lagi di tengah-tengah tekanan stigma, peminat, kualitas lulusan, dan lain sebagainya. Lebih dari itu, pada akhirnya nanti dan berlaku untuk semua dari masing-masing kita, segenap civitas academica IAIN, tentu sangat merindukan sebuah ungkapan mahasiswa yang tulus, jujur dan ikhlas, “kami bangga di IAIN, siap jadi guru agama Islam, titik”. Wallahu a’lam. (*)