Tribunners
Baladan Aminan
Seluruh jemaah Bangka Belitung tiba di Tanah Air dengan baik dan sehat, kecuali mereka yang langsung kembali ke pangkuan Allah SWT
Oleh Masmuni Mahatma - Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
PELAKSANAAN ibadah haji 1446 H/2025 M sudah kelar. Alhamdulillah, seluruh jemaah Bangka Belitung tiba di Tanah Air dengan baik dan sehat, kecuali mereka yang langsung kembali ke pangkuan Allah SWT, 5 jemaah yang masing-masing berasal dari Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Selatan dan Kabupaten Belitung Timur.
Sebagai bagian dari institusi kenegaraan, saya dan seluruh jajaran di Kementerian Agama Kepulauan Bangka Belitung mesti menghaturkan ribuan dan jutaan terimakasih kepada seluruh masyarakat Bangka Belitung, terutama Gubernur dan Bupati-bupati yang telah memberikan support lahir batin serta meringankan “tanggungjawab” finansial maupun moral kami terhadap jemaah haji.
Tak mudah memang menjadi embarkasi antara. Harus berseiringan, melintas dan bergabung dengan embarkasi Palembang (PLM). Ada hal teknis tertentu yang tidak sepenuhnya bisa dicover oleh jemaah haji asal Bangka Belitung. Sehingga dalam rangka mempercepat, meringankan dan menyukseskan keberangkatan maupun kepulangan seluruh jemaah, mesti “bersinergi” atau bahkan meminta “partisipasi aktif” dari pemerintah daerah mulai dari Provinsi sampai Kabupaten dan Kota.
Tanpa partisipasi langsung dari pemerintah daerah, tampak akan banyak kesulitan yang dihadapi oleh jemaah, baik dari aspek teknis administratif, transportatif, akomodasi, konsumsi dan juga hal-hal substantif yang lain.
Kementerian Agama Bangka Belitung, perannya mungkin tak lebih semata “event organizer” atau “pelaksana harian” atau sejenis, pasti memiliki banyak keterbasan dan kelemahan. Bahwa ada kelebihan, sejatinya hanya dalam konteks pembinaan sosio-religiusitas dan perapihan administrasi formal lintas kenegaraan, sebagaimana telah ditetapkan regulasi.
Seperti jemaah yang mengalami masalah-masalah administratif lintas kenegaraan, sakit dan meninggal di Tanah Suci, atau urusan lain sejauh keterlibatan Kementerian Agama diatur dalam regulasi yang ada. Tugas-tugas ini memang tidak ringan juga. Cukup melelahkan secara tenaga dan pikiran atau interkoneksi-komunikasi institusional. Karena amanah dan tugas kenegaraan, harus terus dituntaskan penuh ketulusan.
Meniru Nabi Ibrahim
Berangkat dari dan untuk pertimbangan etik serta pelbagai kontribusi dan peran serta semua pihak diatas, tentu diharapkan kepada semua jemaah dari Bangka Belitung sekaligus kita untuk senantiasa meniru keteladanan Nabi Ibrahim as. Bahwa tidak akan seluruhnya dari Nabi Ibrahim dapat ditiru, tak apa-apa. Niat baik dalam rangka meniru saja sudah mendapat pahala.
Apalagi kalau benar-benar diwujudkan mengarungi sosio-kehidupan nyata demi pencerahan kehambaan. Terlebih haji merupakan tahapan tinggi dan sakral dalam konteks “regulasi” moral etik keislaman. Haji bukan sekadar perjalanan jauh secara fisik dan banyak materi yang dikeluarkan. Lebih dari itu, haji adalah “ujikelayakan” kualitas keimanan, ketakwaan, religiusitas, spiritualitas, dan moralitas kehambaan.
Meniru Nabi Ibrahim rasanya tidak akan pernah ringan dan sampai. Pasti diakui siapa pun. Disamping tidak memiliki potensi dan kapasitas kenabian, sebagai manusia modern, seringkali kita berada dalam dilema industrialis, kapitalis, dan pragmatis.
Tiap hari dan saban waktu kegenitan industrialisasi dan pragmatisme sosial terus menerus mengepung sendi-sendi kehidupan privat maupun publik. Sulit terhindarkan. Ini salah satu efek gelombang modernisme dari pelbagai aspek. Sehingga tak jarang sebagian besar manusia cepat kehilangan orientasi dan obyektifikasi berkehidupan. Bahwa ada nilai pertumbuhan yang dapat dibanggakan, jangan diingkari. Akan tetapi juga banyak kerusakan yang kian mengkhawatirkan, patut disadari dan diedukasi.
Kepada Nabi Ibrahim as., terutama di momentum pelaksanaan ibadah haji, mari belajar tentang maksimalisasi imani dan ketakwaan. Seperti menguatkan komitmen kehambaan, melancipkan ketulusan mewujudkan perintah Allah SWT., mengikis egoisme, kerakusan diri, kegigihan melawan dan melumpuhkan gerakan sesat iblis, hingga membajui jiwa raga dengan ketulusan atasnama ubudiyah lillah. Mengorbankan anak kandung sendiri setelah ditinggal dalam masa cukup lama, bukan hal ringan. Friksi dan konflik batini Nabi Ibrahim begitu deras. Namun, Nabi Ismail, Sang Putra, simbol “pengorbanan” teramat luhur dan universal, menjadi petunjuk mulia.
Dari sini sejarah kesalihan diri, pengorbanan imani, ketulusan spiritualitas ditancapkan teramat realistis oleh Allah SWT. Tak ada yang membantah, sepanjang sejarah. Bahkan setiap tahun harus diakui animo, inisiasi, kreasi dan komitmen moral etik umat kian menanjak untuk hadir dan menyaksikan langsung prosesi keteladanan imaniyah Ibrahimi-Ismaili di Tanah Suci Makkah. Wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melontar Jumrah, (simbolisasi) melumpuhkan gerakan sesat iblis di Mina, merupakan rukun haji yang tidak bisa ditawar. Mengada seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sejatinya menjadi “diri integral-universal,” diri yang tidak hanya membawa perintah Ilahi untuk ujikelayakan pribadi, melainkan membumikan Amanah kesalihan, demi mencerahkan kehambaan.
Doa-doa Nabi Ibrahim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240804_Masmuni-Mahatma.jpg)