Koalisi Rasional dari Tanah Sendiri: Molen-Zeki dan Jalan Baru Pangkalpinang
Kombinasi Molen-Zeki, ada sinyal bahwa pendekatan teknokratis yang selama ini dominan bisa diseimbangkan dengan pendekatan sosial-humanis
Penulis: iklan bangkapos | Editor: Hendra
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Dalam politik lokal, suara rakyat bukan hanya dihitung, tetapi dirasa. Sebuah nama bisa menggelegar di atas panggung politik, tetapi tanpa akar sosial dan kultural yang kuat, ia akan terangkat sekejap, lalu hilang ditelan waktu.
Pilkada ulang Kota Pangkalpinang 2025 menghadirkan satu koalisi menarik untuk disorot bukan karena hingar bingar spanduknya, tetapi karena narasi yang mereka bangun: pengalaman eksekutif dipadukan dengan wakil rakyat asli tanah Pangkalpinang.
"Adalah Maulana Aklil (Molen), mantan Wali Kota 2018–2023, yang kali ini memilih berjalan bersama Zeki Yamani, anggota DPRD Kota Pangkalpinang dua periode dan kini menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Babel dari dapil Pangkalpinang. Duet ini, bila ditelisik lebih dalam, bukan semata-mata strategi politik.
Ia merupakan perwujudan dari sintesis antara pengalaman birokratik dan legitimasi sosial kultural yang langka dalam kontestasi sebelumnya," kata mantan Sekda Basel Eddy Supriadi yang kini jadi akademisi di sebuah kampus swasta di Pangkalpinang.
Dari Legitimasi Politik ke Legitimasi Sosial
Salah satu kritik utama terhadap kepemimpinan Molen sebelumnya adalah soal jarak antara pemimpin dan warga.
Dalam Pilkada sebelumnya, sang wakil berasal dari luar Pangkalpinang, sehingga ada kesan keterputusaan identitas politik yang bersifat simbolik maupun praktis.
"Rakyat Pangkalpinang merasa memiliki wali kota, tapi tidak memiliki wakil yang benar-benar berasal dari lorong-lorong sosial mereka.
Kini, Molen tampaknya menangkap isyarat itu. Ia menggandeng Zeki Yamani, figur lokal yang telah tiga kali dipercaya rakyat dua kali di DPRD Kota dan kini di tingkat provinsi," beber Eddy.
Zeki bukan sekadar politisi, ia adalah representasi dari denyut nadi Pangkalpinang itu sendiri.
Ia tumbuh bersama masyarakat, mengenal struktur sosialnya, memahami kekuatan dan kerentanannya.
Pemilih mengenalnya bukan dari baliho, melainkan dari keberpihakan.
Ini yang disebut legitimasi sosial sebuah kepercayaan yang lahir dari kedekatan batin, bukan sekadar kedekatan politik.
Rasionalitas Baru dalam Koalisi Lokal
Menggandeng Zeki Yamani juga merupakan bentuk transformasi politik Molen.
| Dituntut Delapan Bulan Penjara, Sidang Putusan Hellyana Ditunda |
|
|---|
| Wali Kota Pangkalpinang Motivasi Calon Paskibraka Jelang Seleksi Provinsi |
|
|---|
| Membaca Realitas Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat di Bangka Belitung |
|
|---|
| PKP Cup 2026 Bergulir, Wali Kota Pangkalpinang Targetkan Lahir Atlet Berbakat Babel |
|
|---|
| Wisuda Santri TPA se-Pangkalpinang, Wali Kota Siapkan Program Keagamaan untuk SMP |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Akademisi-Pangkalpinang-Eddy-Supriadi-orang-molen.jpg)