Selasa, 21 April 2026

Keluarga Juliana Marins Protes dengan Autopsi di Brasil, Belum Terima Hasilnya tapi Beredar di Media

Menurut mereka, dokumen tersebut seharusnya bersifat rahasia dan bahkan belum disampaikan secara resmi kepada pihak keluarga.

Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: M Zulkodri
Tangkapan layar dari akun Instagram @ajulianamarins
JULIANA MARINS- Pemerintah Brasil ternyata tidak menanggung biaya pemulangan jenazah Juliana Marins yang tewas karena terjatuh ke juran saat mendaki Gunung Rinjani. Hal itu diatur dalam undang-undang di Brasil terkait biaya pemulangan jenazah. 

BANGKAPOS.COM -- Hasil autopsi Juliana Marins di Brasil beredar luas di media.

Data dari Institut Kedokteran Forensik Rio de Janeiro, Juliana Marins tewas 10 hingga 15 menit seusai terjatuh dalam jurang ketinggian ratusan meter.

Autopsi ulang terhadap Juliana Marins ini dilakukan pada Rabu (2/7/2025) oleh dua ahli forensik dari Kepolisian Rio de Janeiro, Brasil, serta disaksikan seorang perwakilan dari Kepolisian Federal dan bantuan teknis dari pihak keluarga.

Kini pihak keluarga Juliana Marins melayangkan protes terhadap hasil autopsi di Brasil.

Mereka meminta Kepolisian Federal menyelidiki kebocoran hasil otopsi terbaru ke media. 

Menurut mereka, dokumen tersebut seharusnya bersifat rahasia dan bahkan belum disampaikan secara resmi kepada pihak keluarga.

“Kami sendiri belum menerima hasilnya, tapi sudah beredar di media,” ujar Mariana Marins, kakak Juliana, Rabu (9/7/2025).

Mariana menambahkan, keluarga sangat terkejut karena rencana awal adalah menyampaikan hasil otopsi dalam konferensi pers bersama lembaga bantuan hukum dan perwakilan forensik keluarga pada Jumat (11/7/2025).

Respons Kepolisian 

Menanggapi hal ini, Kepolisian Sipil Negara Bagian Rio telah menegaskan bahwa mereka tidak membocorkan hasil otopsi Juliana Marins.

Mereka juga menegaskan bahwa hasil otopsi telah disampaikan dalam rapat internal dengan keluarga. 

Namun, Mariana tetap bersikeras bahwa kebocoran hasil otopsi telah terjadi, sehingga penyelidikan harus dilakukan guna mengungkap seluruh kebenaran terkait kecelakaan tragis yang menimpa Juliana.

“Sampai sekarang, masih banyak pertanyaan yang belum dijawab,” ujar Mariana.

Seperti yang diketahui, Juliana Marins, 26 tahun, jatuh dari tebing saat melakukan pendakian di jalur Gunung Rinjani pada 21 Juni 2025 dan jasadnya baru berhasil dievakuasi pada Rabu (25/6/2025).

Setelah sempat diotopsi di Indonesia, pihak keluarga meminta otopsi ulang untuk memastikan tidak ada kelalaian dalam kasus kematian Juliana.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved