Tribunners

Melepas Balon, Melepas Akal Sehat

Lebih dari sekadar limbah visual, balon udara yang terlepas membawa risiko keselamatan.

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Randi Syafutra - Dosen Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung 

Oleh: Randi Syafutra - Dosen Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

PAGI itu, langit sekolah dihiasi balon warna-warni yang perlahan terbang tinggi, meninggalkan halaman upacara yang penuh sorak. Di antara senyum siswa baru yang antusias memulai masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), tampak sejumlah guru dan orang tua mengabadikan momen tersebut. Tradisi pelepasan balon udara pada hari pertama sekolah, bagi sebagian besar sekolah dasar dan menengah, telah menjelma sebagai simbol yang dianggap sakral: melambangkan harapan, kebersamaan, dan semangat menyongsong masa depan.

Namun, yang sering luput disadari adalah jejak yang ditinggalkan balon-balon itu setelah hilang dari pandangan mata. Di mana mereka berakhir? Siapa yang menanggung akibatnya? Dan yang lebih mendasar: apakah makna simbolik itu harus dibayar dengan kerusakan ekologis yang nyata?

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kegelisahan di tengah masyarakat sipil dan komunitas pemerhati lingkungan mengenai tradisi pelepasan balon. Banyak yang mulai bertanya: mengapa kita merayakan awal pendidikan yang mestinya menanamkan nilai-nilai kesadaran dan tanggung jawab, justru dengan melepas benda-benda sekali pakai yang berisiko menjadi sampah? Sebuah ironi yang terlalu nyata untuk diabaikan.

Beberapa sekolah tetap mempertahankan tradisi ini. Salah satunya adalah sekolah dasar di Kota Surabaya yang merayakan pembukaan MPLS dengan pelepasan balon secara massal. Ironisnya, kegiatan tersebut berlangsung di tengah gencarnya program pengurangan sampah plastik dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 

Reaksi publik pun beragam. Ada yang menyayangkan, ada pula yang menilai hal itu sebatas euforia simbolik yang tak berdampak besar. Namun faktanya, sisa-sisa balon yang tak terurai dengan baik dapat mencemari tanah, sungai, bahkan laut.

Lebih dari sekadar limbah visual, balon udara yang terlepas membawa risiko keselamatan. Jika terbang terlalu tinggi, balon bisa mengganggu jalur penerbangan. Jika meletus dan jatuh ke laut atau hutan, serpihannya bisa termakan oleh satwa yang mengiranya sebagai makanan. Burung laut, penyu, dan satwa endemik lainnya adalah korban yang tak pernah dihitung dalam narasi seremonial ini.

Pemerintah, melalui Kemendikdasmen, telah mencoba merespons persoalan ini dengan menerbitkan panduan MPLS Ramah. Dalam surat edaran terbaru, ditegaskan bahwa seluruh rangkaian MPLS harus bersifat edukatif, inklusif, aman, bebas kekerasan, serta mendukung karakter siswa yang peduli lingkungan. Sayangnya, panduan ini belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam praktik yang konsisten di lapangan. Tradisi simbolik seperti pelepasan balon masih terus dipertahankan, seolah tak ada alternatif yang bisa menggantikannya.

Padahal, simbol bisa berganti wujud tanpa kehilangan makna. Beberapa sekolah kreatif telah menunjukkan caranya: ada yang mengganti balon dengan gelembung sabun raksasa, menerbangkan layang-layang karya siswa, menuliskan harapan di pohon cita-cita, atau menggelar aksi tanam pohon sebagai lambang tumbuh bersama. Semua itu dilakukan tanpa mencemari alam, dan justru meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta didik.

Pendidikan, dalam esensinya, adalah proses pembentukan nilai. Maka, simbol dan ritus dalam dunia pendidikan pun tak boleh lepas dari nilai yang hendak ditanamkan. Ketika kita mengajarkan tentang pentingnya menjaga bumi, menekan jejak karbon, dan membatasi konsumsi plastik, bukankah tindakan kecil seperti tidak melepaskan balon ke udara adalah bentuk konsistensi yang nyata?

Tradisi bukan warisan yang tak bisa diubah. Justru, yang membedakan manusia modern dengan masa silam adalah kemampuannya membaca konteks zaman dan menyesuaikan bentuk tanpa mengorbankan nilai. MPLS sebagai gerbang awal siswa mengenal budaya sekolah seharusnya menjadi ruang pertama untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama makhluk.

Pelepasan balon, bila tetap dipertahankan, seyogianya dikendalikan. Beberapa sekolah mencoba mengikat balon dengan tali panjang agar tidak benar-benar lepas. Namun, praktik semacam ini pun harus dikaji ulang dari segi efektivitas dan simboliknya. Jangan sampai ritual yang dimaksudkan untuk membebaskan cita-cita, justru menjebak logika kita pada pola pikir lama yang tak berpihak pada kelestarian.

Sekolah sebagai rumah pertama nilai-nilai kehidupan, sepatutnya tampil sebagai teladan. Ketika dunia menghadapi krisis iklim, sekolah-sekolah kita tak boleh tinggal diam atau sekadar kosmetik dalam praktik ramah lingkungan. Mulailah dari hal sederhana, seperti mengubah ritus perayaan yang merusak menjadi simbol kebahagiaan yang berkelanjutan.

Tentu, perubahan seperti itu memerlukan keteguhan dan konsistensi. Butuh keberanian dari kepala sekolah untuk mengatakan: cukup. Butuh dukungan dari orang tua untuk memahami makna di balik perubahan. Dan yang paling penting, butuh keterlibatan siswa untuk menjadi bagian dari proses edukatif ini. Bukankah pendidikan karakter sejati tumbuh dari keterlibatan dan keteladanan?

Bayangkan, di tahun-tahun mendatang, kita menyaksikan pembukaan MPLS bukan dengan balon-balon plastik yang melayang, tetapi dengan aksi kreatif para siswa: melukis harapan di mural sekolah, membuat video manifestasi cita-cita, atau menyanyikan lagu-lagu lingkungan yang mereka ciptakan sendiri. Itulah perayaan yang bukan hanya simbolik, tetapi mendidik sekaligus menyentuh.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved